PSEL Bali Resmi Dibangun, Delapan Kota Lain Segera Menyusul

Pemerintah resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali, sekaligus menandai proyek percontohan pertama dari

Jul 08, 2026 - 23:57
0 1
PSEL Bali Resmi Dibangun, Delapan Kota Lain Segera Menyusul

Pemerintah resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali, sekaligus menandai proyek percontohan pertama dari sederet rencana serupa di Indonesia. Proyek ini dirancang untuk menangani persoalan sampah di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, dengan mengubah timbunan limbah menjadi sumber energi melalui teknologi insinerator modern.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa Bali menjadi titik awal yang kemudian akan diikuti delapan proyek PSEL di daerah lain.

“Yang di Bali ini groundbreaking pertama. Setelah ini akan ada delapan proyek lagi, kemudian menyusul proyek-proyek berikutnya,” ujar Zulkifli.

Kapasitas Besar dan Target Nol Emisi

Fasilitas PSEL Bali diproyeksikan mampu mengolah 1.500 hingga 2.000 ton sampah per hari, volume yang setara dengan timbunan sampah kota besar. Teknologi insinerator yang diterapkan dirancang untuk mereduksi residu secara signifikan dan beroperasi dengan target nol emisi, sehingga tidak menambah beban polusi udara di sekitar lokasi.

Dari sisi waktu, pemerintah menargetkan pembangunan tuntas dan fasilitas mulai beroperasi pada akhir 2027. Zulkifli menyampaikan optimisme bahwa proyek strategis ini akan diresmikan langsung oleh Presiden. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kehadiran PSEL baru menjangkau sekitar 22,5 persen kebutuhan penanganan sampah nasional. Prioritas diberikan kepada wilayah dengan status darurat sampah, sementara daerah lain tetap diintervensi melalui beragam teknologi pengelolaan sampah yang disesuaikan dengan karakteristik lokal.

Model untuk 70 Daerah, 480 Kabupaten/Kota Masih Butuh Solusi

Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, melihat PSEL Bali sebagai cetak biru yang dapat direplikasi di sedikitnya 70 kabupaten/kota di Indonesia. Kendati demikian, ia mengakui bahwa cakupan PSEL masih terbatas. Dari total 550 kabupaten/kota, masih terdapat sekitar 480 daerah yang belum terjangkau fasilitas sejenis.

“Tujuan utama pembangunan ini adalah menyelesaikan persoalan sampah. Energi yang dihasilkan merupakan nilai tambah dari proses tersebut,” ujar Jumhur.

Ia menekankan bahwa konsep waste to energy tidak melulu soal listrik. Produk turunan seperti Refuse Derived Fuel (RDF)—bahan bakar dari olahan sampah—membuka peluang investasi dan mendorong pengembangan ekonomi sirkular. Dengan demikian, penanganan sampah tidak lagi sekadar beban fiskal daerah, melainkan berpotensi menjadi sektor produktif yang menghasilkan nilai ekonomi.

Paradigma Baru dan Peran Investasi

Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyoroti aspek persepsi publik. Menurutnya, pengalaman di berbagai negara maju menunjukkan bahwa fasilitas pengolahan sampah modern bisa berdiri di dekat kawasan permukiman tanpa menimbulkan bau atau pencemaran yang meresahkan warga.

“Selama ini tempat pengelolaan sampah identik dengan bau dan kotor. Dengan teknologi yang digunakan, PSEL akan menjadi fasilitas yang bersih dan ramah lingkungan,” kata Rosan.

Rosan juga mendorong percepatan konstruksi agar target operasional akhir 2027 dapat tercapai. Kepercayaan investor dan keterlibatan badan usaha dinilai akan menjadi kunci agar proyek-proyek PSEL selanjutnya tidak sekadar berhenti di atas kertas.

Poin Kunci Proyek PSEL Bali dan Nasional

  • PSEL Bali menjadi groundbreaking pertama pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.
  • Delapan proyek PSEL di kota lain akan segera menyusul setelah Bali.
  • Kapasitas olah harian mencapai 1.500–2.000 ton sampah dengan target nol emisi.
  • Operasional penuh ditargetkan pada akhir 2027, diresmikan oleh Presiden.
  • Cakupan PSEL baru memenuhi 22,5 persen kebutuhan nasional, menyasar daerah darurat sampah.
  • Teknologi membuka peluang produksi RDF dan investasi ekonomi sirkular.

Dengan dimulainya konstruksi di Bali, pemerintah menegaskan bahwa penanganan sampah bukan lagi semata urusan pengangkutan dan penimbunan, tetapi masuk ke era baru yang memadukan sanitasi lingkungan dengan produksi energi bersih. Skema ini diharapkan dapat menarik minat swasta dan mempercepat penyelesaian krisis sampah di kota-kota besar lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User