Denpasar Tetapkan Kawasan Bisnis sebagai Target Penataan Kabel Berikutnya

Denpasar — Pemerintah Kota Denpasar mempercepat implementasi Sistem Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) dengan pendekatan klaster berbasis nilai ekonomi kawas

Jul 08, 2026 - 23:30
0 1
Denpasar Tetapkan Kawasan Bisnis sebagai Target Penataan Kabel Berikutnya
Denpasar — Pemerintah Kota Denpasar mempercepat implementasi Sistem Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) dengan pendekatan klaster berbasis nilai ekonomi kawasan. Setelah sukses menyelesaikan penataan di klaster wisata Sanur, pemkot kini mengarahkan sumber daya dan regulasi ke kawasan heritage Jalan Gajah Mada, lalu akan menyasar kawasan bisnis sebagai prioritas berikutnya. Langkah ini bukan sekadar perapian kabel, melainkan investasi estetika kota yang berpotensi mengerek nilai properti, kenyamanan koridor bisnis, dan daya tarik investasi korporasi.

Kronologi Prioritas Berbasis Klaster

  1. Sanur – Klaster Wisata (tuntas): Penanaman kabel bawah tanah dan penataan kabel udara di kawasan pariwisata telah rampung. Dampak langsung terlihat pada peningkatan walkability dan skor estetika lingkungan yang mendukung citra destinasi premium.
  2. Gajah Mada – Klaster Heritage (2026): Seluruh regulasi sudah terbit, tahap eksekusi siap dimulai. Pemkot menargetkan penyelesaian paling lambat 2026.
  3. Kawasan Bisnis – Klaster Komersial (pasca-2026): Menyusul setelah kawasan heritage, akan mencakup pusat-pusat aktivitas ekonomi utama Denpasar. Skala prioritas disesuaikan dengan luas wilayah dan kebutuhan investasi yang besar.
Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menjelaskan bahwa penataan di klaster heritage Jalan Gajah Mada kini telah siap memasuki tahap pelaksanaan. Seluruh regulasi yang menjadi dasar proyek telah rampung sehingga proses eksekusi dapat segera dilakukan. “Setelah klaster wisata di Sanur, akan berlanjut ke klaster heritage di kawasan Jalan Gajah Mada, kemudian dilanjutkan ke klaster kawasan bisnis sesuai skala prioritas,” ujar Arya Wibawa.

Heritage dan Bisnis: Dua Sisi Mata Uang Ekonomi Kota

Penataan di kawasan Gajah Mada tidak hanya memindahkan kabel utilitas ke bawah tanah tetapi juga mengonsolidasikan kabel-kabel udara yang masih dipertahankan agar lebih rapi. “Kabel yang masih berada di atas akan dijadikan satu dan ditata sedemikian rupa sehingga tidak lagi semrawut,” tegasnya. Bagi investor dan pelaku usaha, kondisi ini menciptakan eksternalitas positif berupa peningkatan kenyamanan berbelanja dan menurunnya hambatan visual yang dapat mengerek lama tinggal pengunjung—sebuah metrik yang langsung berimbas pada omzet ritel dan F&B di koridor tersebut. Kawasan bisnis yang akan dibenahi kemudian diperkirakan menyedot investasi infrastruktur dalam jumlah signifikan. Meski belum ada angka resmi, pengalaman kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta menunjukkan bahwa penataan kabel terpadu mampu menurunkan biaya pemeliharaan utilitas hingga 30% per tahun sekaligus menekan potensi kehilangan pendapatan akibat gangguan layanan. Koridor bisnis yang bebas spaghetti wires juga menjadi katalisator bagi aglomerasi sektor jasa profesional, perbankan, dan ritel premium—menciptakan premium commercial corridor yang bisa mendorong kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) di sekitarnya.

Kemandirian Desa dan Daya Ungkit Anggaran Mikro

Untuk jalan-jalan lingkungan di luar klaster utama, Pemkot Denpasar masih memprioritaskan kawasan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pelayanan publik. Menariknya, sejumlah desa telah melakukan penataan jaringan utilitas secara mandiri. Gerakan dari bawah ini dapat mengurangi beban APBD sekaligus mempercepat dampak estetika di kantong-kantong pemukiman. Jika diperkuat dengan dana desa dan stimulus dari BUMDes, kolaborasi mikro ini berpotensi menjadi model nasional community-driven urban aesthetics yang tidak menyedot anggaran besar. Dengan penerapan sistem klaster berbasis dampak ekonomi, Pemkot Denpasar tidak hanya mengejar kerapian visual, tetapi juga mengintegrasikan penataan utilitas dalam strategi peningkatan daya saing kota. Realisasi kawasan heritage pada 2026 akan menjadi uji kelayakan penting sebelum giliran kawasan bisnis dimulai. Data dari riset internal pemkot dan masukan pelaku properti akan menentukan apakah estetika benar-benar bisa dikapitalisasi menjadi pertumbuhan ekonomi lokal di klaster-klaster berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User