Panen Kangkung di Lapas Narkotika Sungguminasa: Brandgang Disulap Jadi Lahan Produktif Pembinaan Warga Binaan

Sungguminasa, Beritainti.com – Keterbatasan lahan tak menyurutkan semangat warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa unt

Jul 08, 2026 - 01:31
0 0

Sungguminasa, Beritainti.com – Keterbatasan lahan tak menyurutkan semangat warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Sungguminasa untuk berkarya. Memanfaatkan area brandgang—jalur pengamanan yang biasanya identik dengan kesan steril dan terbatas—mereka kini sukses memanen kangkung berkualitas. Panen yang berlangsung pada Selasa (7/7) ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan kemandirian mampu mengubah ruang marginal menjadi sumber produktivitas dan harapan.

Dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Gunawan, serta didampingi Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Ardhi Mahardika, kegiatan panen berlangsung penuh antusiasme. Sejumlah warga binaan yang terlibat sejak awal proses penanaman tampak sumringah saat memetik sayuran hijau yang tumbuh subur di lahan seluas sekitar 100 meter persegi itu. Dari area terbatas yang membentang di antara tembok penjara, sedikitnya 60 kilogram kangkung berhasil dikumpulkan dan siap dipasarkan ke pasar lokal.

Brandgang yang selama puluhan tahun hanya difungsikan sebagai jalur patroli dan pengamanan, kini disulap menjadi Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Inovasi ini tidak hanya menjaga keamanan lingkungan lapas karena area tetap terpantau, tetapi juga menyediakan ruang bagi warga binaan memperoleh keterampilan bercocok tanam secara organik. Sejak diluncurkan empat bulan lalu, program SAE telah mencatatkan dua kali panen sayuran, dengan hasil yang terus meningkat berkat pelatihan intensif dari petugas lapas yang berlatar belakang pertanian.

Program budidaya kangkung ini tak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari strategi pembinaan kemandirian yang mengintegrasikan aspek ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi. Warga binaan tidak sekadar diajari menanam, tetapi juga dilibatkan dalam siklus lengkap: dari pengolahan tanah, pembibitan, perawatan, hingga panen dan pengemasan. Bahkan, sebagian hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur lapas, mengurangi ketergantungan pasokan dari luar, sekaligus mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional yang dicanangkan pemerintah.

“Kami melihat perkembangan yang sangat baik dari warga binaan,” ujar Gunawan di sela-sela panen. Dengan nada bangga, ia menambahkan bahwa perubahan sikap menjadi indikator keberhasilan sesungguhnya.

“Mereka semakin disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki semangat untuk belajar serta berkarya. Melalui pemanfaatan brandgang sebagai Sarana Asimilasi dan Edukasi, warga binaan tidak hanya menghasilkan sayuran yang mendukung program ketahanan pangan, tetapi juga membangun karakter, keterampilan, dan rasa percaya diri sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat. Inilah tujuan utama pembinaan, yaitu menghadirkan perubahan yang nyata dan positif.”

Gunawan menegaskan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk berinovasi. Justru, kondisi itu memicu kreativitas petugas dan warga binaan untuk memaksimalkan setiap sudut yang tersedia. Ke depan, ia berencana mengembangkan metode pertanian vertikal untuk mengoptimalkan kapasitas produksi, serta menambah jenis tanaman lain seperti bayam dan pakcoy yang memiliki siklus panen cepat dan permintaan pasar tinggi.

Ardhi Mahardika, Kasi Kegiatan Kerja, menjelaskan bahwa seluruh hasil panen akan dijual kepada para pedagang sayur keliling kawasan Sungguminasa dan Pasar Sentral, sementara sebagian kecil dialokasikan untuk konsumsi internal. “Kami juga tengah menjajaki kerja sama dengan kelompok tani binaan dan toko swalayan lokal agar hasil panen memiliki nilai tambah dan pangsa pasar yang lebih luas,” kata Ardhi. Pendapatan dari penjualan akan dialokasikan untuk pembelian bibit, peralatan, dan pemberian premi kepada warga binaan yang aktif terlibat.

Budidaya kangkung di brandgang SAE ini turut mendapat respons positif dari keluarga warga binaan yang berkunjung. Mereka melihat langsung bagaimana para narapidana mendapatkan bekal keterampilan yang aplikatif. Salah seorang warga binaan berinisial AR (34) mengatakan, “Awalnya saya tidak tahu cara menanam yang benar. Sekarang saya bisa bercocok tanam dan ingin menekuni ini setelah bebas nanti. Terima kasih untuk bimbingan petugas.”

Lapas Narkotika Sungguminasa sebelumnya juga telah menjalankan program pembinaan mandiri lain seperti bengkel las dan pembuatan batako. Tambahan sektor pertanian padat karya dengan pendekatan SAE kian melengkapi spektrum keterampilan yang dibekali kepada warga binaan. Menurut data Seksi Kegiatan Kerja, total ada 35 warga binaan yang terlibat secara bergilir dalam program pertanian ini sebagai bagian dari hak asimilasi menjelang bebas.

Program ini menjadi contoh nyata bagaimana institusi pemasyarakatan bertransformasi dari sekadar tempat penahanan menjadi pusat rehabilitasi dan pendidikan. Di tengah berbagai tantangan, Lapas Narkotika Sungguminasa membuktikan bahwa dengan semangat inovasi, bahkan brandgang sekalipun dapat menjadi lahan subur untuk menumbuhkan asa baru bagi para warga binaan. Kontributor Beritainti.com, Sungguminasa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User