Kabupaten Tangerang Siapkan Lahan Penampungan Sampah Sementara Pasca Kebakaran TPA Jatiwaringin
Beritainti.id, Tangerang – Pemerintah Kabupaten Tangerang mengambil langkah taktis dengan menyiapkan lahan penampungan sampah sementara guna memastikan mob
Beritainti.id, Tangerang – Pemerintah Kabupaten Tangerang mengambil langkah taktis dengan menyiapkan lahan penampungan sampah sementara guna memastikan mobilitas logistik kebersihan tidak terhambat. Keputusan ini menjadi respons terhadap kebakaran besar yang masih berlangsung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk. Dari perspektif tata kelola, kecepatan otoritas daerah dalam mengamankan aset lahan cadangan ini menjaga service level agreement (SLA) pengangkutan sampah tetap berjalan normal.
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid mengonfirmasi bahwa lahan seluas dua hektare telah dialokasikan untuk menampung sampah dalam fase transisi ini.
“Kita sedang bergerak cepat supaya layanan pengangkutan sampah dari permukiman warga tetap berjalan normal. Kita sudah siapkan lahan dua hektar untuk ditempati sementara sifatnya,”
Menjaga Likuiditas Jasa Lingkungan
Dalam rantai operasional kebersihan daerah, TPA adalah simpul kritis. Terhentinya kegiatan di hilir akan menciptakan kemacetan masif di hulu, memicu penumpukan sampah di tingkat Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang berpotensi meningkatkan biaya operasional. Intervensi penyiapan lahan ini merupakan langkah mitigasi agar tidak terjadi bottleneck pada siklus penanganan sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, menyoroti pentingnya menjaga volume pasokan sampah yang harus ditangani setiap hari. Secara kuantitatif, Kabupaten Tangerang memproduksi sampah dalam skala besar yang membutuhkan penanganan tanpa henti.“Kalau kita menghitung, misalkan satu hari kecilnya saja, 250 truk dikali 6 kubik, kecilnya sudah 1.500 ton per hari. Jadi penampungan sementara ini krusial agar pengangkutan tidak terhenti,”Angka 1.500 ton per hari ini bukanlah sekadar metrik kuantitatif, melainkan indikator beban fiskal daerah dalam sektor pengelolaan lingkungan. Jika arus distribusi sampah tersendat selama beberapa hari, maka akan terjadi lonjakan timbunan yang berpotensi menimbulkan biaya tambahan untuk penanganan darurat dan risiko eksternalitas negatif bagi kesehatan publik.
Dampak Ekonomi Sirkular
Yang menarik, lahan yang kini menjadi solusi sementara ini sebenarnya memiliki nilai strategis untuk proyek jangka panjang. Ujat mengungkapkan bahwa area tersebut telah dipersiapkan untuk menjadi fasilitas pendukung proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).“Lahan ini nantinya akan menjadi area untuk menampung residu pembakaran berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari operasional PSEL.”Ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari sekadar penumpukan sampah menuju monetisasi limbah. Proyek PSEL sendiri merupakan bagian dari skema waste-to-energy yang diharapkan dapat menciptakan nilai tambah sekaligus mengurangi beban lahan TPA dalam jangka panjang. Dengan memfungsikan lahan tersebut sebagai tempat transit darurat, pemerintah daerah secara tidak langsung memanfaatkan aset masa depan untuk menyelesaikan krisis saat ini—sebuah manuver asset optimization yang efisien di tengah keterbatasan anggaran tanggap darurat. Ke depan, fokus utama adalah pengendalian kebakaran di TPA Jatiwaringin. Selama fase itu berlangsung, ketergantungan pada lahan sementara ini akan terus meningkat. Efektivitas pengelolaan sampah dalam situasi krisis ini akan menjadi tolok ukur kelincahan birokrasi daerah dalam menjaga stabilitas layanan dasar publik tanpa menimbulkan guncangan pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Comments (0)