[BALI] — Kolaborasi Seni Bali-Korea Pacu Ekspor Budaya dan Investasi
Ratusan pasang mata yang memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, menyaksikan lebih dari sekadar pertunjukan; mereka menatap sebuah model bisnis seni
Ratusan pasang mata yang memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, menyaksikan lebih dari sekadar pertunjukan; mereka menatap sebuah model bisnis seni-budaya yang berdampak langsung pada neraca jasa dan potensi investasi asing di sektor kreatif. Perpaduan tabuhan Bayu Nada, suling Bali, gamelan gong, dan instrumen Korea menjadi produk seni bernilai tambah tinggi—hasil kerja sama yang tidak hanya memadukan estetika, tetapi juga merangkai rantai pasok budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.
Melalui karya “Godogan”, kisah Pangeran Kodok yang merepresentasikan transformasi diri, dua negara membuktikan bahwa seni tradisi bisa menjadi komoditas unggulan yang mampu mendongkrak kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal dan memperluas akses pasar global.
Kronologi Kerja Sama: Dari Pertukaran Akademik hingga Panggung Komersial
- Penandatanganan kerja sama akademik: Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dan Seoul Institute of the Art memulai pertukaran pengetahuan pada awal tahun. Sebanyak 15 mahasiswa Bali dan 25 seniman Korea Selatan dilibatkan, membentuk tim produksi lintas negara yang langsung memperkuat kapasitas produksi seni pertunjukan sebesar 40 tenaga kerja terampil.
- Proses penelitian dan latihan bersama: Latihan dilakukan secara bergantian di Bali dan Korea Selatan. Fase ini merupakan transfer teknologi budaya: seniman Bali memperkenalkan gerak tari, musik, dan ekspresi, sementara seniman Korea menyuntikkan teknik Bongsan Talcum. Proses ini meningkatkan daya saing SDM lokal sekaligus menciptakan produk budaya hibrida yang mudah dipasarkan di dua kawasan.
- Pementasan perdana sebagai showcase investasi: Puncaknya terjadi di panggung utama Pesta Kesenian Bali (PKB). Pertunjukan ini berfungsi layaknya showcase produk inovatif, menarik perhatian pemangku kepentingan pariwisata dan industri kreatif. Dengan nilai produksi yang mencakup biaya akomodasi, honorarium, dan logistik lintas negara, proyek ini menyuntikkan dana segar ke ekonomi lokal—terutama pada subsektor jasa pendukung seni.
- Komitmen keberlanjutan dan proyeksi komersial: Presiden Seoul Institute of the Art, Chang Ji Hyung, menyatakan bahwa kolaborasi ini adalah “langkah awal”. Founder institut tersebut, Yoo Duk Hyung, menegaskan keinginan membangun kerja sama berkelanjutan. Pernyataan ini membuka peluang produksi bersama dalam skala komersial yang dapat menembus pasar pertunjukan internasional, meningkatkan nilai ekspor jasa budaya Indonesia.
Analisis Dampak Ekonomi dan Pasar
Kolaborasi Godogan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang terukur. Pertama, terjadi penguatan rantai pasok seni pertunjukan: mulai dari pelatihan, produksi kostum, hingga manajemen panggung yang semuanya menggunakan sumber daya lokal. Kedua, pertukaran ini meningkatkan indeks daya tarik investasi Bali di mata investor Korea Selatan yang selama ini telah menjadi salah satu pangsa pasar wisatawan mancanegara terbesar. Ketiga, penciptaan karya kolaboratif memperbesar portofolio produk budaya yang dapat dipasarkan sebagai atraksi wisata minat khusus.
Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, subsektor seni pertunjukan menyumbang sekitar 1,8% terhadap PDB ekonomi kreatif nasional. Keterlibatan 40 pelaku langsung dalam satu produksi kolaboratif semacam ini—dengan asumsi nilai tambah per kapita yang lebih tinggi karena muatan ekspor—berpotensi meningkatkan rata-rata pendapatan per pekerja seni di Bali secara signifikan. Selain itu, eksposur internasional melalui jejaring Seoul Institute of the Art membuka kanal distribusi baru bagi seniman Bali ke pasar Asia Timur.
Prof. I Wayan Dibia, koreografer Godogan, menilai perbedaan pakem justru menjadi kekuatan untuk melahirkan karya baru. Dari perspektif ekonomi, inilah esensi diversifikasi produk: memadukan aset budaya lokal dengan permintaan pasar global untuk menciptakan keunggulan kompetitif. “Seni memiliki kemampuan besar dalam membangun hubungan antarbangsa,” ujarnya—sebuah pernyataan yang juga bisa dibaca sebagai strategi soft power yang mendongkrak posisi tawar Indonesia dalam negosiasi ekonomi bilateral.
Comments (0)