Denpasar — Penjor Nyurat Pelestarian Sawah, Simbol Spirit Ekonomi Agraris Bali
Di tengah dinamika ekonomi Bali yang kian bergeser ke sektor jasa dan pariwisata, sebuah gebrakan kultural muncul dari arena lomba Penjor Pengrebongan. Sek
Di tengah dinamika ekonomi Bali yang kian bergeser ke sektor jasa dan pariwisata, sebuah gebrakan kultural muncul dari arena lomba Penjor Pengrebongan. Sekaa Teruna (ST) Swadharmita menghadirkan karya berjudul "Ngajrih Ring Sri" yang tidak sekadar menjadi tontonan estetis, melainkan juga menjadi alarm terhadap penyusutan aset agraria paling fundamental di Pulau Dewata: lahan persawahan. Dari sudut pandang ekonomi, karya ini adalah refleksi tajam mengenai opportunity cost dari alih fungsi lahan yang masif.
Konseptor penjor, I Komang Ary Darmayasa, menegaskan bahwa kreasi ini berangkat dari data empiris mengenai depresiasi lahan produktif. “Kami ingin mengingatkan bahwa sawah adalah warisan leluhur yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Bali. Kini keberadaannya semakin berkurang akibat perubahan zaman,” ujarnya. Dalam terminologi ekonomi lingkungan, fenomena ini dikenal sebagai deplesi sumber daya alam yang berpotensi mengganggu rantai pasok pangan lokal dan menggerus Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berbasis pertanian.
Mengkapitalisasi Spirit Atma Kerthi dalam Kebijakan Pembangunan
Mengacu pada semangat Atma Kerthi yang menjadi tema sentral pembangunan Bali pada 2026, visualisasi penjor ini sejalan dengan arah kebijakan ekonomi hijau. Konsep ini menekankan sinergi antara konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Komang menjelaskan bahwa tema tersebut terinspirasi dari urgensi menjaga keselarasan manusia dengan alam, yang dalam konteks makroekonomi berarti mempertahankan layanan ekosistem—jasa lingkungan yang selama ini dinikmati secara gratis oleh para petani. Penghormatan kepada Ida Bhatari Sri (Dewi Sri) sebagai simbol kesuburan merupakan afirmasi bahwa kemakmuran tidak akan lahir dari alih fungsi lahan spekulatif, melainkan dari produktivitas lahan yang berkelanjutan.
"Kemakmuran akan datang apabila manusia berjalan di jalan dharma serta tetap menghormati Ida Bhatari Sri. Ini adalah rantai nilai yang tidak terputus, dari spiritualitas ke ketahanan pangan," katanya.
Struktur Biaya Produksi dan Efisiensi Material
Dari perspektif finansial, proyek seni ini menunjukkan manajemen penganggaran yang cukup efisien di tengah tekanan inflasi. Dengan memanfaatkan sebagian material sisa perayaan Galungan, khususnya daun ental yang masih memiliki daya guna, ST Swadharmita mampu menekan biaya operasional. Strategi ini laiknya praktik ekonomi sirkular dalam skala komunitas, mendaur ulang sumber daya untuk menghasilkan output bernilai tinggi tanpa membebani arus kas.
Adapun total biaya pembuatan penjor berhasil ditekan menjadi sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta. Angka ini relatif kompetitif mengingat kompleksitas ornamen yang dihadirkan, seperti bakul padi dan orang-orangan sawah. Dua elemen tersebut menjadi komponen paling rumit secara teknis karena memerlukan presisi komposisi warna agar tercipta harmonisasi visual yang menyatu.
"Kesulitan terbesar ada pada pemasangan bakul padi dan pembuatan ornamen orang-orangan sawah, terutama dalam menentukan perpaduan warna agar seluruh elemen terlihat menyatu," jelas Komang.
Tren Kompetisi dan Implikasi Ekonomi Kreatif
Riwayat performa ST Swadharmita dalam lomba ini juga mencerminkan peta persaingan di sektor seni ritual. Sebelum pandemi Covid-19, banjar ini beberapa kali menembus peringkat tiga besar. Pasca-pandemi, konsistensi tetap terjaga meskipun harus puas di posisi ketujuh. Dinamika ini menunjukkan bahwa barrier to entry dalam kompetisi penjor semakin tinggi seiring masuknya inovator baru yang menggeser para pemain lama.
Meskipun belum berhasil mengamankan posisi puncak, hasil yang dicapai menandakan bahwa nilai seni berbasis komoditas pertanian tetap memiliki daya tarik tersendiri di mata dewan juri. Bagi perajin dan seniman muda, hal ini membuka peluang ekonomi baru: seni dekoratif tematik yang mengangkat isu pangan berpotensi menjadi ceruk pasar (niche market) dalam industri kreatif Bali yang belakangan mulai jenuh dengan konten pariwisata massal.
- Efisiensi Biaya: Pemanfaatan material sisa mampu menekan modal kerja.
- Reputasi Historis: Konsistensi masuk nominasi menjadi intangible asset.
- Inovasi Tematik: Isu deplesi sawah menciptakan diferensiasi produk.
Comments (0)