Vietnam Samai Rekor Beruntun Thailand-Singapura Usai Pesta Agregat 4-2

Peluit panjang mengakhiri final leg kedua Piala AFF 2026, dan tribun kandang langsung berubah menjadi lautan selebrasi. Timnas Vietnam mengunci gelar juara lewat kemenangan agregat 4-2 atas lawannya d...

Aug 28, 2026 - 22:36
0 0
Vietnam Samai Rekor Beruntun Thailand-Singapura Usai Pesta Agregat 4-2

Peluit panjang mengakhiri final leg kedua Piala AFF 2026, dan tribun kandang langsung berubah menjadi lautan selebrasi. Timnas Vietnam mengunci gelar juara lewat kemenangan agregat 4-2 atas lawannya di partai puncak, Rabu (26/8). Status juara bertahan berhasil dipertahankan The Golden Stars, sekaligus menempatkan mereka sebagai tim ketiga dalam sejarah turnamen yang mampu merebut dua gelar beruntun setelah Singapura (2004-2007) dan Thailand (2020-2022).

Kemenangan ini tidak datang dengan mudah. Lawan tampil ngotot sejak menit awal, memaksa Vietnam bekerja keras hingga peluit akhir. Namun kedalaman skuad dan ketenangan para pemain senior menjadi pembeda di momen-momen krusial, dari gol pembuka hingga gol penentu di penghujung laga.

Babak Pertama: Keunggulan Tipis dari Taktik Menyerang

Menit ke-34, stadion bergemuruh. Nguyễn Tiến Linh menyambut umpan silang matang Nguyễn Quang Hải dari sisi kanan dengan sundulan terarah ke sudut jauh gawang lawan. Gol itu lahir dari skema sayap yang terus-menerus dieksploitasi Vietnam sepanjang babak pertama dengan formasi 3-4-3.

Keunggulan 1-0 itu memantapkan posisi Vietnam yang sejak menit awal lebih berani membangun serangan. Penguasaan bola di babak pertama tercatat 62 persen berbanding 38 persen, dengan lima shots on target dari delapan percobaan. Lawan, yang menurunkan starting XI dengan formasi 5-4-1, lebih memilih bertahan dalam dan mengandalkan serangan balik cepat.

Peluang emas sebenarnya sempat tercipta untuk Vietnam pada menit ke-41, tetapi tendangan keras Phạm Tuấn Hải dari luar kotak penalti masih melebar tipis di sisi kanan gawang. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum, membuat agregat sementara menjadi 3-1 untuk keunggulan Vietnam.

Babak Kedua: Drama VAR, Kartu Merah, dan Gol Penentu

Memasuki babak kedua, lawan mengubah pola permainan dengan menambah satu penyerang. Perubahan itu langsung terasa. Menit ke-62, serangan balik cepat lawan berhasil memperkecil kedudukan menjadi 1-1 pada leg kedua, mengubah agregat menjadi 3-2 dan membuka kembali peluang untuk membalikkan keadaan.

Ketegangan memuncak pada menit ke-77. Gol Bùi Hoàng Việt Anh dari situasi sepak pojok sempat memicu selebrasi, namun wasit membatalkannya setelah pemeriksaan VAR menemukan posisi offside pada tahap awal serangan. Keputusan itu sempat memancing protes keras dari bangku cadangan Vietnam.

Nasib lawan kian berat ketika bek tengahnya diganjar kartu kuning kedua pada menit ke-85 setelah menjatuhkan Nguyễn Xuân Son yang sedang membawa bola menuju kotak penalti, berujung kartu merah dan membuat mereka bermain dengan sepuluh pemain. Empat menit berselang, tepatnya menit ke-89, Xuân Son menuntaskan umpan terobosan Hoàng Đức dengan tendangan first-time yang tak mampu dijangkau kiper. Gol itu mengunci kemenangan 2-1 pada leg kedua dan agregat 4-2.

Kunci Kemenangan: Dominasi Penguasaan Bola dan Efisiensi Serangan

Sepanjang dua leg final, Vietnam tampil superior secara statistik. Total penguasaan bola mencapai 58 persen, sementara jumlah shots on target mereka 11 berbanding 6 milik lawan. Efisiensi menjadi kata kuncinya: dari empat gol yang tercipta, tiga di antaranya lahir dari skema yang dibangun dari lini tengah dengan assist beruntun, menandakan kolektivitas yang matang.

Nguyễn Xuân Son kembali menjadi bintang dengan dua gol di leg pertama dan satu gol penentu di leg kedua. Ketajamannya sepanjang turnamen menjadikannya kandidat kuat pencetak gol terbanyak, sekaligus bukti bahwa lini depan Vietnam tidak bergantung pada satu nama saja — Phạm Tuấn Hải dan Nguyễn Tiến Linh juga berkontribusi penting di lini serang.

Di lini belakang, trio bek dengan dukungan kiper Filip Nguyen tampil disiplin. Meski tidak mencatatkan clean sheet di leg kedua, organisasi pertahanan yang rapi berhasil membatasi lawan hanya pada dua tembakan tepat sasaran di kandang sendiri.

Kata Pelatih dan Catatan Sejarah

“Kami tidak hanya mempertahankan gelar, tetapi juga membuktikan bahwa tim ini terus berkembang. Para pemain menjalankan instruksi dengan sempurna, dan inilah hasil dari kerja keras sepanjang tahun,” ujar pelatih kepala Kim Sang-sik dalam konferensi pers usai laga.

Gelar ini menjadi pencapaian besar bagi sepak bola Vietnam. Dengan dua trofi beruntun, mereka kini berdiri sejajar dengan Singapura dan Thailand sebagai tim yang sukses mempertahankan mahkota Piala AFF. Rekor tersebut menjadi modal berharga menjelang agenda kompetisi berikutnya, sekaligus menegaskan dominasi Vietnam di kawasan Asia Tenggara.

Bagi lawan, kekalahan agregat 4-2 tetap layak diapresiasi. Perlawanan sengit hingga menit akhir, termasuk gol penyeimbang di babak kedua, menunjukkan kualitas yang terus meningkat. Namun pada malam itu, statistik, kedalaman skuad, dan ketenangan di momen krusial memihak Vietnam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User