Dugarry Sebut Julian Alvarez Bodoh Meninggalkan Manchester City

Kritik pedas tiba-tiba menghantam Julian Alvarez. Mantan penyerang timnas Prancis yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia 1998, Christophe Dugarry, menilai striker Atletico Madrid itu telah mengambil...

Aug 28, 2026 - 22:38
0 0
Dugarry Sebut Julian Alvarez Bodoh Meninggalkan Manchester City

Kritik pedas tiba-tiba menghantam Julian Alvarez. Mantan penyerang timnas Prancis yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia 1998, Christophe Dugarry, menilai striker Atletico Madrid itu telah mengambil langkah karier yang keliru. Ia bahkan tak segan menyebut pemain berusia 24 tahun tersebut sebagai orang bodoh yang memaksakan diri pergi dari Manchester City. Pernyataan kontroversial itu langsung memanaskan jagat sepak bola Eropa dan menjadi topik hangat di media Spanyol maupun Inggris dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Dugarry, keputusan Alvarez hengkang dari skuad terbaik dunia tidak masuk akal dari sisi perkembangan karier. Ia menilai penyerang Argentina itu membuang kesempatan langka untuk terus diasah Pep Guardiola, pelatih yang baru saja mengantar City memborong semua trofi mayor pada musim 2022-2023.

Meninggalkan Mesin Trofi Manchester City

Catatan Alvarez di Etihad Stadium memang sulit dibantah. Selama dua musim berseragam biru langit, ia tampil dalam 103 pertandingan di semua kompetisi dan menyumbangkan 36 gol plus 18 assist. Pada musim debutnya, pemain jebolan River Plate itu ikut menikmati manisnya treble winner: gelar Premier League, Piala FA, dan Liga Champions direbut dalam satu musim yang sama. Musim keduanya bahkan lebih produktif, dengan 19 gol dan 13 assist dalam 54 penampilan, sekaligus menegaskan dirinya sebagai pelapis paling tajam bagi Erling Haaland.

Namun, di balik angka-angka itu, Alvarez kerap harus puas dengan peran rotasi. Guardiola lebih sering menurunkannya sebagai false nine, gelandang serang, atau sayap, alih-alih striker murni yang diinginkannya. Menit bermain yang terbatas itulah yang kemudian mendorongnya meminta pindah, dan Atletico Madrid datang dengan tawaran yang sulit ditolak: €75 juta plus bonus senilai €20 juta, menjadikannya transfer termahal dalam sejarah klub ibukota Spanyol tersebut sekaligus penjualan termahal Manchester City.

Peran Baru di Bawah Komando Simeone

Di Wanda Metropolitano, Alvarez mendapat jaminan tempat di starting XI. Diego Simeone memasangnya sebagai penyerang kedua dalam formasi 3-5-2, berduet dengan Alexander Sorloth, dan memberinya kebebasan untuk menusuk pertahanan lawan. Pola itu jelas berbeda dengan tugasnya di Manchester, dan para pengamat menilai peran baru ini justru bisa mengeluarkan potensi terbaik pemain yang pernah membawa Argentina juara Piala Dunia 2022 tersebut.

Alvarez membuktikan bahwa adaptasinya berjalan cepat. Pada laga keduanya di La Liga, ia mencetak dua gol kala Atletico menundukkan Girona 3-0, sekaligus menjadi sinyal bahwa kritik pedas dari luar tak menggoyahkan kepercayaan dirinya. Hingga pekan-pekan awal musim, ia tercatat sebagai salah satu pemain dengan jumlah tembakan terbanyak di skuad Simeone, dengan tingkat akurasi tembakan ke gawang yang impresif.

Pertaruhan yang Belum Selesai

Kritik Dugarry memang memiliki logika tersendiri. Dari sisi statistik, Alvarez meninggalkan tim yang mencetak rata-rata di atas dua gol per laga dan berambisi mempertahankan mahkota Liga Champions, demi bergabung dengan klub yang dalam beberapa musim terakhir lebih sering bersaing memperebutkan posisi empat besar. Namun, dari sisi menit bermain dan status, kepindahan ini memberi Alvarez kesempatan menjadi bintang utama, bukan sekadar pemain pelengkap.

Pertanyaan besarnya kini sederhana: apakah ia mampu menjaga konsistensi sepanjang musim? La Liga adalah kompetisi dengan intensitas fisik dan taktik tertinggi di Eropa, dan duel-duel keras di lini tengah akan terus menguji mentalitasnya. Simeone, pelatih dengan reputasi garang, dikenal sangat protektif terhadap pemain kuncinya, dan dukungan itu bisa menjadi tameng terbaik bagi Alvarez dalam menghadapi tekanan media.

Hingga akhir musim nanti, semua pihak akan mengawasi perkembangannya. Jika Alvarez mampu mempersembahkan gelar La Liga pertama bagi Atletico sejak 2021 dan kembali tajam di Liga Champions, maka label bodoh yang dilontarkan Dugarry akan berubah menjadi bahan ejekan bagi kritikus itu sendiri. Namun jika ia tenggelam, kritik pedas tersebut akan terasa seperti ramalan yang tepat. Sepak bola selalu menyediakan ruang untuk pembuktian, dan kini giliran Julian Alvarez yang harus menunjukkan bahwa pilihannya bukanlah keputusan bodoh, melainkan langkah berani seorang pemenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User