Final Piala AFF 2026: Thailand vs Vietnam, Duel Dua Mesin Gol
Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Thailand atas Vietnam di partai puncak Piala AFF 2026, Minggu malam. Penentu segalanya hadir di menit ke-90+4, saat Supachok Sarachat menyambut umpan tarik Chanathip So...
Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Thailand atas Vietnam di partai puncak Piala AFF 2026, Minggu malam. Penentu segalanya hadir di menit ke-90+4, saat Supachok Sarachat menyambut umpan tarik Chanathip Songkrasin dan menuntaskannya menjadi gol kemenangan. Gajah Perang meledak dalam selebrasi, sementara para pemain Vietnam hanya bisa menunduk setelah nyaris membawa pulang trofi pertama mereka sejak 2018.
Partai final ini mempertemukan dua tim paling produktif sepanjang turnamen. Thailand tiba di laga puncak dengan koleksi 18 gol, sedangkan Vietnam mengemas 13 gol, sehingga total 31 gol tercatat dari dua finalis sebelum kick-off. Modal itulah yang membuat kedua kubu sama-sama berani bermain menyerang sejak menit awal.
Formasi dan Starting XI Kedua Finalis
Thailand tampil dengan formasi 4-2-3-1, dengan Theerathon Bunmathan dan Kritsada Kaman sebagai poros ganda di lini tengah serta Chanathip Songkrasin bebas bergerak di belakang striker tunggal Teerasil Dangda. Vietnam merespons lewat skema 3-4-3 yang menjadi ciri khas mereka sepanjang edisi ini: tiga bek tengah dikawal wing-back agresif, sementara Nguyen Quang Hai diberi kebebasan penuh sebagai otak serangan. Duel di sektor sayap pun diprediksi menjadi kunci, dan kenyataannya memang di sanalah semua gol tercipta.
Babak Pertama: Vietnam Memukul Lebih Dulu
Menit ke-12, Vietnam membuka skor melalui skema serangan balik yang hanya membutuhkan tiga operan. Nguyen Quang Hai melepaskan umpan terobosan vertikal ke ruang kosong, lalu Nguyen Tien Linh menuntaskannya dengan tembakan first-time yang tak mampu dihalau kiper Thailand. Gol cepat ini sempat membuat Gajah Perang kehilangan ritme, dan baru pada menit ke-34 mereka menyamakan kedudukan. Supachok Sarachat mengeksekusi tendangan bebas dari sisi kanan; bola membentur tiang jauh dan Chanathip, yang lebih dulu membaca arah pantulan, menceploskannya ke gawang. Assist resmi dicatat untuk Supachok pada gol penyama ini.
Jelang turun minum, VAR sempat membuat suporter Thailand berdebar. Gol Teerasil Dangda di menit ke-40 dianulir setelah peninjauan ulang memperlihatkan posisi offside saat umpan dilepaskan. Skor 1-1 bertahan hingga jeda, dengan penguasaan bola Thailand 55 persen berbanding 45 persen dan shots on target 3-2 untuk keunggulan tipis Gajah Perang.
Babak Kedua: Penalti, VAR, dan Drama Menit Akhir
Vietnam kembali unggul di menit ke-58. Dari sepakan pojok, Do Duy Manh memenangi duel udara di tiang dekat, bola jatuh ke kaki Nguyen Van Toan yang melepaskan voli ke pojok atas gawang. Skor menjadi 2-1, dan kubu Vietnam sempat merayakan seperti juara. Namun Thailand butuh hanya 13 menit untuk menyamakan kedudukan. Menit ke-71, VAR kembali menjadi pusat perhatian: handball Do Duy Manh di kotak terlarang membuat wasit menunjuk titik putih setelah meninjau ulang rekaman. Teerasil Dangda yang menjadi eksekutor tidak membuang kesempatan, menempatkan bola ke sudut kiri. Skor 2-2, dan laga berubah menjadi perang terbuka.
Menit ke-84, Vietnam hampir memastikan gelar ketika sundulan Nguyen Tien Linh membentur tiang gawang. Dua menit berselang, peluang emas Thailand juga hilang setelah voli Supachok ditepis Bui Tien Dung. Sisa laga dihiasi kartu kuning: Theerathon Bunmathan dan Do Duy Manh masing-masing menerima satu, sementara pelatih Vietnam juga diganjar kartu kuning karena protes berlebihan pada menit ke-89.
Puncak drama terjadi di menit ke-90+4. Chanathip melewati dua pemain bertahan di sisi kiri sebelum mengirim umpan tarik ke kotak penalti. Supachok, yang berlari dari lini kedua, menyambutnya dengan sentuhan pertama yang menusuk jala gawang Bui Tien Dung. Gol itu menutup pertandingan dengan skor akhir 3-2 sekaligus mengunci statistik: penguasaan bola 52-48 untuk Thailand dan shots on target 7-5.
Statistik Kunci dan Reaksi Pelatih
Catatan akhir laga menunjukkan Thailand unggul di hampir semua indikator serangan: total tembakan 16 berbanding 11, shots on target 7-5, dan akurasi operan 87 persen melawan 83 persen. Vietnam justru lebih rajin bertahan dengan 24 sapuan bersih dibanding 15 milik Thailand, plus 11 pelanggaran yang membuat laga berjalan dinamis tanpa jeda. Tidak ada clean sheet dalam final ini, dan itu wajar mengingat dua finalis datang dengan label dua mesin gol terbaik Asia Tenggara.
Pelatih Thailand menegaskan kemenangan ini adalah buah dari keberanian timnya bermain terbuka sampai peluit akhir. “Kami tahu Vietnam selalu berbahaya saat memimpin, tetapi kami tidak pernah mengubah rencana. Saya bangga dengan keberanian para pemain, terutama setelah dua kali tertinggal,” ujarnya dalam konferensi pers seusai laga. Pelatih Vietnam menyayangkan dua keputusan VAR yang menurutnya mengubah arah pertandingan, meski tetap mengakui kualitas lawan. “Kami tidak kalah karena beruntung. Thailand layak menang,” katanya singkat.
Arti Gelar Ini bagi Kedua Tim
Gelar ini menjadi yang ketujuh bagi Thailand sepanjang sejarah Piala AFF dan menegaskan status mereka sebagai tim tersukses Asia Tenggara. Bagi Vietnam, kekalahan ini terasa pahit karena mereka tampil dengan pertahanan terbaik di turnamen, hanya kebobolan empat gol sebelum partai puncak, namun tetap gagal membendung ketajaman lawan di laga yang paling menentukan. Skor akhir 3-2 juga mencatatkan final Piala AFF dengan jumlah gol terbanyak dalam satu dekade terakhir.
Dua tim yang datang dengan label mesin gol membuktikan reputasi itu di atas lapangan, bukan hanya di atas kertas. Thailand pulang dengan trofi, Vietnam pulang dengan pelajaran, dan penonton Asia Tenggara pulang dengan satu tontonan final yang layak dikenang lama.
Comments (0)