Final Piala AFF 2026: Vietnam Juara, Taklukkan Thailand Lewat Adu Penalti

Skor akhir 2-2, dan juara Piala AFF 2026 akhirnya ditentukan dari titik putih: Vietnam menang adu penalti 4-3 atas Thailand di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi. Dua tim dengan koleksi gabungan 31 gol s...

Final Piala AFF 2026: Vietnam Juara, Taklukkan Thailand Lewat Adu Penalti

Skor akhir 2-2, dan juara Piala AFF 2026 akhirnya ditentukan dari titik putih: Vietnam menang adu penalti 4-3 atas Thailand di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi. Dua tim dengan koleksi gabungan 31 gol sepanjang turnamen itu bertemu di partai puncak, dan keduanya membuktikan diri layak — satu lewat penguasaan bola, satu lewat efisiensi serangan balik.

Laga dibuka dengan tempo tinggi sejak peluit pertama. Thailand tampil dengan formasi 4-2-3-1 khas Masatada Ishii, mengandalkan Chanathip Songkrasin sebagai playmaker di belakang penyerang tunggal. Vietnam, di bawah Kim Sang-sik, menjawab dengan 3-4-3 yang menuntut wing-back-nya bekerja ekstra keras. Kedua pelatih hanya melakukan satu perubahan dari starting XI semifinal masing-masing — bukti bahwa tidak ada yang mau mengambil risiko di laga sebesar ini. Statistik awal langsung menegaskan niat Thailand: penguasaan bola menyentuh 58 persen, tetapi Vietnam justru lebih dulu mencetak angka.

Babak Pertama: Gol Cepat Vietnam, Thailand Mengejar dari Sayap

Menit ke-12, Pham Tuan Hai melepaskan umpan terobosan yang membelah lini tengah Gajah Perang — assist yang menjadi awal mimpi buruk bagi pertahanan Thailand. Nguyen Tien Linh menyambutnya dengan first-time finish ke pojok kanan bawah gawang Patiwat Khammai. Gol itu lahir dari skema serangan balik yang hanya butuh tiga sentuhan, persis seperti yang dipersiapkan Kim Sang-sik sepanjang pekan. Shots on target Vietnam di babak pertama: tiga dari empat percobaan, angka yang mencerminkan ketajaman luar biasa untuk tim yang hanya berstatus underdog di atas kertas.

Thailand tidak tinggal diam. Menit ke-38, dari skema corner pendek, Chanathip menemukan Supachai Chaided di kotak penalti, dan sundulan tenang itu menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Assist keenam Chanathip di turnamen ini — gelandang veteran itu kembali menjadi otak serangan, membaca pergerakan bek Vietnam yang terlalu fokus pada bola. Skor 1-1 bertahan hingga jeda, dengan tensi yang makin memanas: dua kartu kuning sudah keluar, masing-masing untuk bek kiri kedua tim, dan duel-duel keras di lini tengah terus menghiasi laga.

Babak Kedua: Drama VAR, Gol Kedua Vietnam, dan Penyama di Menit 84

Babak kedua dimulai dengan insiden yang sempat mengubah arah laga. Menit ke-61, tendangan bebas Nguyen Quang Hai membentur pagar betis dan masuk ke gawang, tetapi wasit langsung meninjau lewat VAR. Hasilnya: seorang pemain Vietnam terperangkap offside saat duel udara di kotak penalti — gol dianulir. Keputusan itu memicu riuh suporter tuan rumah, tetapi anehnya justru membuat tim tuan rumah makin agresif.

Menit ke-67, giliran Vietnam mencetak gol lewat skema terbuka. Nguyen Quang Hai, yang nyaris membuka skor enam menit sebelumnya, melepaskan tendangan dari luar kotak penalti yang melengkung indah ke tiang jauh. Penguasaan bola Thailand turun drastis ke 51 persen setelah gol itu, dan untuk pertama kalinya malam itu mereka tampak kehilangan ritme — umpan-umpan pendek khas mereka dipotong berulang kali oleh pressing tinggi Vietnam.

Namun pahlawan selalu punya jam terbang. Menit ke-84, Teerasil Dangda — yang masuk dari bangku cadangan pada menit ke-70 — menerima umpan silang dari pemain pengganti lainnya dan menanduk bola melewati kiper Vietnam. 2-2, dan stadion tiba-tiba hening. Ini gol ketujuh Teerasil di laga final sepanjang kariernya, sekaligus bukti bahwa perubahan taktik Ishii dari 4-2-3-1 menjadi 4-4-2 diamond berbuah manis di momen paling genting.

Extra Time dan Adu Penalti: Mentalitas Menjadi Pembeda

30 menit tambahan berjalan tanpa gol. Kedua tim kelelahan, umpan-umpan pendek mulai berganti bola-bola panjang, dan peluang terbaik justru datang dari Thailand saat menit ke-108 — tandukan Supachai yang ditepis gemilang kiper Vietnam. Total shots on target Thailand: lima, Vietnam: empat — statistik yang sempurna menggambarkan betapa ketatnya laga puncak ini. Kartu kuning ketiga akhirnya keluar di menit ke-115 untuk pemain pengganti Thailand, konsekuensi dari pressing putus asa di menit-menit akhir.

Dari titik penalti, ketenangan berbicara paling keras. Vietnam unggul 4-3 setelah eksekutor kelima Thailand gagal — tendangannya menghantam mistar. Clean sheet memang tidak tercipta malam itu, tetapi kiper Vietnam membuktikan diri sebagai pahlawan dengan satu penyelamatan krusial di babak adu penalti. Pemain-pemain muda tuan rumah menangis bahagia, sementara pemain Thailand menjatuhkan diri di rumput — jarak antara juara dan runner-up malam itu hanya sejengkal mistar gawang.

Kutipan Pelatih dan Catatan Akhir

"Kami kehilangan kendali selama 20 menit di babak kedua, dan di final, kesalahan sekecil itu selalu berharga mahal," ujar Masatada Ishii seusai laga.

Sementara Kim Sang-sik memuji kedalaman skuadnya: "Para pemain pengganti mengubah permainan. Mentalitas juara tidak pernah datang dari skor, tapi dari bagaimana kami bertahan ketika semuanya tampak berjalan buruk."

Final ini menutup turnamen yang mencatatkan 31 gol kolektif kedua finalis — angka tertinggi dalam satu dekade terakhir. Vietnam mengangkat trofi keempat mereka, sementara Thailand harus menelan pil pahit kekalahan beruntun di final. Satu hal yang pasti: sepak bola Asia Tenggara belum pernah seketat ini, dan kedua tim ini hampir pasti akan saling jumpa lagi di panggung terbesar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User