Vietnam Kampiun Piala AFF 2026, Infantino Terpukau Duel My Dinh
Skor akhir 2-1. Stadion My Dinh bergemuruh saat wasit asal Jepang meniup peluit panjang pada Rabu malam (26/8), mengunci kemenangan Vietnam atas Thailand di leg kedua final Piala AFF 2026. Dengan hasi...
Skor akhir 2-1. Stadion My Dinh bergemuruh saat wasit asal Jepang meniup peluit panjang pada Rabu malam (26/8), mengunci kemenangan Vietnam atas Thailand di leg kedua final Piala AFF 2026. Dengan hasil ini, Vietnam menjuarai turnamen lewat keunggulan agregat 3-2 dan merebut trofi ketiga mereka setelah gelar 2008 serta 2018.
Namun, jalan menuju tangga juara sama sekali tidak mulus. Thailand, tim tamu yang datang dengan modal bermain imbang 1-1 di leg pertama Bangkok, tampil percaya diri sejak menit awal dan justru unggul lebih dulu. Pertandingan ini kemudian berubah menjadi drama dua babak yang layak ditonton — dan disaksikan langsung dari tribun VIP oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Babak Pertama: Thailand Mencuri Gol, Tuan Rumah Ditekan
Thailand memulai laga dengan formasi 4-3-3 yang mengandalkan transisi cepat dari sayap, sementara Vietnam menjawab dengan pola 3-4-3 yang agresif di lini tengah. Penguasaan bola di babak pertama tercatat 54 persen untuk Vietnam, namun dominasi itu belum mampu diterjemahkan menjadi peluang bersih.
Menit ke-12, gelandang serang Vietnam, Nguyen Tuan Anh, melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang masih melambung tipis di atas mistar. Tiga menit kemudian, giliran sayap Thailand, Korawit Chaiyasit, mengancam lewat tembakan mendatar yang mampu ditepis kiper Tran Quoc Bao. Sampai menit ke-30, shots on target kedua tim hanya 1 berbanding 2 — laga berjalan ketat di lini tengah.
Menit ke-34, Thailand membuka skor. Umpan terobosan dari gelandang Sittichai Kanok membelah pertahanan Vietnam, diterima Peerapat Nilsen di sisi kanan, lalu disodorkan ke tengah untuk diselesaikan Thossawat Srisai dengan tendangan first-time. Assist dicatat atas nama Peerapat Nilsen, dan stadion yang biasanya riuh seketika hening. Vietnam mencoba merespons, tetapi hingga turun minum skor tetap 0-1. Bahkan Tuan Anh nyaris diusir wasit setelah menerima kartu kuning pada menit ke-45+1 akibat pelanggaran keras di tengah lapangan.
Babak Kedua: Kebangkitan Tuan Rumah dan Peran VAR
Pelatih Vietnam merombak strategi di jeda babak: pemain sayap Hoang Viet Hung dipasang untuk melebar dan menekan bek kanan Thailand. Keputusan itu langsung berbuah. Menit ke-58, bek tengah Le Minh Tri naik membantu serangan dan mengirim umpan silang pertama yang diteruskan Pham Van Duc dengan sundulan ke pojok kiri gawang. Skor berubah 1-1, agregat 2-2, dan My Dinh kembali bergemuruh.
Thailand sempat mengatur ulang ritme, tetapi tekanan tuan rumah terus meningkat. Menit ke-71, Pham Van Duc diganjar kartu kuning karena menjegal Sittichai Kanok yang mencoba memulai serangan balik. Ketegangan memuncak pada menit ke-78 ketika Hoang Viet Hung melepaskan umpan silang dari sisi kanan dan sundulan Nguyen Tuan Anh menggetarkan gawang Thailand. Wasit sempat menunda selebrasi — protokol VAR memeriksa posisi offside pencetak gol selama hampir dua menit sebelum akhirnya memutuskan gol sah. Skor menjadi 2-1 untuk Vietnam, dan agregat 3-2.
Statistik Akhir: Dominasi yang Tertunda
Angka akhir menegaskan cerita pertandingan. Penguasaan bola akhir tercatat 52 persen untuk Vietnam dan 48 persen untuk Thailand, sementara shots on target ditutup 7-4 untuk keunggulan tuan rumah. Vietnam juga unggul dalam tendangan sudut 8-3 dan total tembakan 16-9. Di sisi disiplin, wasit mengeluarkan lima kartu kuning — tiga untuk Thailand (Sittichai menit 41, Korawit menit 52, dan Thossawat menit 80) serta dua untuk Vietnam (Tuan Anh menit 45+1 dan Pham Van Duc menit 71).
Statistik lain yang layak dicatat: Vietnam mencatatkan lebih banyak umpan sukses di sepertiga akhir lapangan, sementara Thailand tercatat lima kali terjebak offside — bukti garis pertahanan tuan rumah yang berani naik tinggi sejak babak kedua. Di sisi sebaliknya, Vietnam hanya dua kali terperangkap offside sepanjang laga.
Pujian Infantino dan Warisan Final My Dinh
Kekaguman datang dari tokoh paling berkuasa di sepak bola dunia. Gianni Infantino, yang menyaksikan langsung dari tribun VIP, menyebut final ini sebagai pertandingan yang luar biasa.
“Ini final yang luar biasa — penuh intensitas, kualitas, dan kejutan hingga menit terakhir. Sepak bola Asia Tenggara telah menunjukkan level yang semakin tinggi,”ujarnya kepada awak media usai laga.
Pelatih Vietnam juga tak kuasa menyembunyikan kebanggaannya.
“Para pemain menjalankan instruksi dengan sempurna di babak kedua. Kami kalah pengalaman di babak pertama, tetapi menang dalam keberanian dan disiplin taktik,”katanya. Di sisi lain, pelatih Thailand mengakui timnya gagal memanfaatkan keunggulan. “Kami kehilangan kontrol setelah menit ke-58. Kehilangan ini akan menjadi pelajaran berharga,” ujarnya.
Bagi Vietnam, trofi ini bukan sekadar gelar ketiga di Piala AFF. Kemenangan 2-1 di hadapan lebih dari 40.000 suporter My Dinh menjadi penegas bahwa tim berjuluk Golden Stars layak diperhitungkan di panggung Asia. Bagi Thailand, kekalahan di laga final menjadi pengingat bahwa keunggulan di babak pertama tanpa penyelesaian akhir hanyalah angka sementara. Satu hal yang pasti: malam di My Dinh ini akan dikenang lama, bukan hanya oleh Vietnam, tetapi oleh seluruh pecinta sepak bola Asia Tenggara.
Comments (0)