Kim Sang Sik Cetak Sejarah: Empat Gelar dalam Tiga Tahun Bersama Vietnam
Peluit panjang berbunyi di Stadion Nasional My Dinh, Rabu malam (26/8), dan papan skor mengunci angka final: Vietnam 4-2 Thailand. Sorak 40 ribu lebih pendukung tuan rumah meledak ketika kapten tim me...
Peluit panjang berbunyi di Stadion Nasional My Dinh, Rabu malam (26/8), dan papan skor mengunci angka final: Vietnam 4-2 Thailand. Sorak 40 ribu lebih pendukung tuan rumah meledak ketika kapten tim mengangkat trofi Piala AFF 2026, gelar yang sekaligus mengantar Kim Sang Sik ke status legenda. Dalam tiga tahun menukangi timnas, pelatih asal Korea Selatan itu kini mengoleksi empat trofi juara — sebuah rekor yang belum pernah dicapai pendahulunya dalam sejarah sepak bola Vietnam.
Babak Pertama: Adu Gengsi Dimulai dari Menit Awal
Kim Sang Sik menurunkan formasi 3-4-3 yang agresif, sementara Thailand menjawab dengan 4-2-3-1 khas permainan posisi. Menit ke-12, skema serangan pertama Vietnam langsung membuahkan hasil. Umpan terobosan Nguyen Quang Hai melepaskan Nguyen Tien Linh di sisi kanan kotak penalti, dan penyelesaian first-time ke tiang jauh membobol gawang Thailand. 1-0 untuk tuan rumah, assist tercatat untuk Quang Hai.
Keunggulan hanya bertahan 22 menit. Menit ke-34, Thailand menyamakan lewat transisi cepat. Supachok Sarachat mengirim umpan silang mendatar dari sayap kiri, dan Chanathip Songkrasin yang lolos dari kawalan bek tengah mencocok bola ke sudut gawang. Skor imbang 1-1 bertahan hingga turun minum, dengan penguasaan bola 52-48 persen untuk Vietnam dan shots on target 3-2.
Babak Kedua: Drama, VAR, dan Ledakan Menit Akhir
Menit ke-58, keunggulan kembali ke pangkuan tuan rumah. Dari sepak pojok, Bui Hoang Viet Anh meloncat paling tinggi dan menanduk bola ke tiang dekat. Kiper Thailand sempat menepis, tetapi garis gawang mengonfirmasi bola telah melewati garis. 2-1. Namun Thailand bukan lawan yang mudah menyerah. Menit ke-67, Supachai Jaided menuntaskan umpan matang Chanathip untuk membuat kedudukan imbang 2-2.
Klimaks terjadi di 15 menit terakhir. Menit ke-78, gol Thailand dianulir VAR setelah tinjauan panjang menunjukkan posisi offside saat umpan dilepaskan. Momentum berbalik total. Menit ke-83, Nguyen Xuan Son menerima bola di tengah lapangan, menggiring melewati dua pemain, lalu melepaskan tembakan kaki kiri yang tak mampu dijangkau kiper. 3-2. Puncaknya, menit ke-90+2, serangan balik kilat mematikan lawan: umpan satu sentuhan dari sayap kanan dan Son kembali menjebol gawang untuk menuntaskan brace-nya. Skor akhir 4-2, ditutup dengan catatan penguasaan bola 54-46 serta shots on target 7-4 untuk Vietnam. Wasit mengeluarkan tiga kartu kuning sepanjang laga — dua untuk Thailand, satu untuk Vietnam.
Empat Gelar dalam Tiga Tahun
Trofi Piala AFF 2026 ini melengkapi koleksi Kim Sang Sik yang nyaris sempurna. Sejak mengambil alih kursi pelatih, ia mempersembahkan empat gelar: Piala AFF 2024, Piala AFF 2026, serta dua trofi turnamen regional lain yang diraih lewat jalan taktis yang konsisten. Catatan tersebut memecahkan rekor kolektif para pendahulunya dan menempatkannya sejajar dengan pelatih-pelatih terbaik Asia Tenggara dalam hitungan tahun, bukan dekade.
Rahasia di balik angka itu adalah pembangunan skuad yang terukur. Dalam starting XI yang ia pilih di laga final, terdapat tiga pemain berusia di bawah 23 tahun — bukti keberanian pelatih merotasi. Kim Sang Sik memadukan tulang punggung senior seperti Quang Hai dan Duy Manh dengan darah muda hasil program usia muda, lalu membingkainya dalam 3-4-3 yang mengandalkan sayap lebar dan transisi cepat. Di sepanjang turnamen, Vietnam mencatat clean sheet di tiga laga fase grup dan hanya kebobolan dua gol di babak gugur — data yang menegaskan kedewasaan tim di bawah tekanan.
Kata Pelatih dan Tantangan Berikutnya
"Saya tidak pernah menghitung gelar. Yang saya hitung adalah kerja keras setiap hari para pemain. Empat trofi ini milik seluruh rakyat Vietnam, dan kami belum selesai," ujar Kim Sang Sik dalam konferensi pers usai laga.
Pernyataan itu bukan basa-basi. Dengan satu tiket menuju putaran final Piala Dunia 2026 yang masih diperebutkan di kualifikasi zona Asia, Vietnam kini punya modal kepercayaan diri yang langka: kesolidan taktis, kedalaman skuad, dan mental juara yang telah teruji di dua final Piala AFF beruntun.
Tentu, tantangan berikutnya lebih berat. Rival-rival Asia Tenggara tak akan tinggal diam, dan lawan-lawan di level Asia memiliki kualitas yang berbeda kelas. Namun dengan rekor 4 dari 3, Kim Sang Sik telah memberi Vietnam sesuatu yang selama puluhan tahun hanya menjadi mimpi: konsistensi juara. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Vietnam bisa mempertahankan dominasi, melainkan sejauh mana generasi emas ini bisa melangkah di panggung dunia.
Comments (0)