Telur Tiap Hari dan Mitos Lonjakan Gula Darah, Ini Faktanya

Beritainti.com — Telur telah lama menjadi salah satu bahan pangan paling terjangkau dan bergizi di meja makan masyarakat Indonesia. Namun, di tengah mening

Sep 28, 2026 - 12:55
0 0
Telur Tiap Hari dan Mitos Lonjakan Gula Darah, Ini Faktanya

Beritainti.com — Telur telah lama menjadi salah satu bahan pangan paling terjangkau dan bergizi di meja makan masyarakat Indonesia. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan metabolik, muncul pertanyaan yang kerap diperdebatkan: apakah mengonsumsi telur setiap hari dapat memicu kenaikan gula darah? Kekhawatiran ini mengemuka seiring bertambahnya jumlah penderita diabetes tipe 2 dan prediabetes di Tanah Air. Banyak orang kemudian menghindari telur, terutama bagian kuningnya, dengan asumsi bahwa makanan ini berkontribusi pada lonjakan kadar gula darah. Lantas, seberapa valid anggapan tersebut?

Kronologi dan Konteks Perdebatan Telur vs Gula Darah

Perdebatan soal telur dan gula darah bukan hal baru. Selama lebih dari dua dekade, telur sempat dicap sebagai makanan "berbahaya" karena kandungan kolesterolnya. Stigma ini kemudian bergeser ke isu gula darah, terutama setelah berbagai studi observasional menunjukkan korelasi antara konsumsi telur tinggi dan risiko diabetes tipe 2 pada sebagian populasi. Mari kita telusuri bagaimana isu ini berkembang:

  1. Era 1990-an – 2000-an: Telur dihindari karena dianggap meningkatkan kolesterol darah, yang secara tidak langsung dikaitkan dengan resistensi insulin.
  2. 2010-an: Sejumlah studi kohort melaporkan bahwa konsumsi telur lebih dari satu butir per hari berkorelasi dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, memicu kekhawatiran publik.
  3. 2019 – 2021: Penelitian lebih lanjut dan meta-analisis mulai mempertanyakan temuan tersebut, karena faktor gaya hidup seperti pola makan keseluruhan, aktivitas fisik, dan indeks massa tubuh tidak selalu dikontrol dengan baik.
  4. 2022 – 2024: Uji klinis terkontrol menunjukkan bahwa telur, dalam konteks pola makan seimbang, tidak secara signifikan meningkatkan gula darah pada individu sehat maupun penderita prediabetes.

Apa Kata Ilmu Gizi Modern?

Secara fisiologis, telur mengandung sangat sedikit karbohidrat. Satu butir telur berukuran besar hanya menyediakan sekitar 0,6 gram karbohidrat dan tidak memiliki gula tambahan. Karena gula darah naik terutama sebagai respons terhadap asupan karbohidrat, telur nyaris tidak memiliki efek langsung terhadap lonjakan glukosa.

Justru sebaliknya, telur kaya akan protein berkualitas tinggi dan lemak sehat yang dapat memperlambat pengosongan lambung. Efek ini membantu menstabilkan respons gula darah setelah makan, terutama bila telur dikonsumsi bersama makanan berkarbohidrat. Sebuah uji klinis yang dipublikasikan dalam jurnal gizi terkemuka menunjukkan bahwa sarapan berbasis telur menghasilkan fluktuasi glukosa yang lebih rendah dibandingkan sarapan tinggi karbohidrat olahan.

"Telur bukan penyebab langsung gula darah naik. Yang menjadi masalah adalah konteks pola makan secara keseluruhan. Jika telur digoreng dengan banyak minyak dan disantap bersama nasi putih dalam porsi besar, tentu beban glikemiknya berbeda," ujar seorang ahli gizi klinis dalam sebuah diskusi kesehatan daring.

Faktor yang Perlu Diperhatikan

Meski telur tidak secara langsung menaikkan gula darah, ada beberapa catatan penting yang perlu dipahami:

  • Porsi dan cara pengolahan: Telur rebus atau kukus jauh lebih baik dibandingkan telur goreng yang penuh minyak jenuh.
  • Kombinasi makanan: Menyantap telur bersama sayuran dan protein tanpa lemak membantu menjaga stabilitas glukosa.
  • Kondisi individu: Penderita diabetes tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk menyesuaikan asupan harian.
  • Kualitas pola makan keseluruhan: Konsumsi gula tambahan, makanan ultraproses, dan minuman manis jauh lebih berpengaruh terhadap gula darah dibandingkan telur.

Dengan demikian, anggapan bahwa makan telur setiap hari otomatis membuat gula darah melonjak adalah mitos yang perlu diluruskan. Telur, jika dikonsumsi secara wajar dan dalam pola makan seimbang, justru dapat menjadi bagian dari diet sehat untuk menjaga metabolisme tubuh. Kuncinya bukan pada satu jenis makanan, melainkan pada keseluruhan gaya hidup dan pilihan gizi harian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User