Polewali Mandar — Gempa M4,7 Ganggu Roda Perekonomian Daerah

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Kamis (9/7/2026) pukul 08.09 WIB. Data Badan Meteorologi,

Jul 09, 2026 - 13:29
0 0

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Kamis (9/7/2026) pukul 08.09 WIB. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di darat dengan kedalaman dangkal 13 kilometer—jenis gempa kerak dangkal yang biasanya menimbulkan guncangan lebih kuat di permukaan. Meski belum ada laporan korban jiwa, goncangan yang terjadi saat jam sibuk ekonomi ini langsung memicu gangguan pada aktivitas perdagangan, logistik, dan sektor informal warga.

Dampak Langsung pada Roda Ekonomi Lokal

Pasar tradisional dan pusat perbelanjaan rakyat menjadi sektor paling terdampak. Puluhan pedagang di Pasar Induk Polewali terpaksa menutup lapak lebih awal karena retakan ringan pada bangunan semi-permanen dan kekhawatiran gempa susulan.

“Kami langsung mengosongkan pasar pagi ini, omset harian bisa anjlok 30% karena pembeli enggan datang,”
ujar Hasnah, pedagang sayur yang sudah 10 tahun berjualan. Gangguan langsung juga terlihat dari terhentinya aktivitas bongkar muat di pelabuhan nelayan setempat, yang biasanya mendistribusikan 20 ton ikan segar per hari ke kabupaten tetangga. Akses jalan desa yang retak di beberapa titik menyebabkan truk pengangkut hasil bumi tertahan, sehingga pasokan ke pasar berkurang drastis.

Dampak sistemik juga menyentuh transaksi keuangan harian. Sejumlah mesin ATM dan EDC di kawasan pasar mengalami gangguan teknis akibat listrik padam selama dua jam pasca-gempa. Asosiasi Pedagang Pasar Polewali Mandar melaporkan volume transaksi tunai turun hingga 15% pada sesi pagi itu, menekan likuiditas usaha mikro yang sangat bergantung pada perputaran uang harian.

Profil Ekonomi dan Kerentanan Bencana

Kabupaten Polewali Mandar memiliki struktur ekonomi yang didominasi sektor primer. Berdasarkan data BPS Sulawesi Barat terbaru, PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2025 mencapai Rp14,8 triliun, dengan kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 41%. Sektor perdagangan dan jasa informal menyumbang 28% sisanya. Wilayah ini juga masuk dalam 10 kabupaten dengan indeks risiko bencana gempa tinggi di Indonesia versi BNPB, karena posisinya di jalur sesar aktif Sulawesi Barat. Gempa dangkal seperti ini, meski berkekuatan moderat, secara historis menimbulkan kerugian ekonomi langsung pada bangunan hunian dan usaha skala mikro.

Kajian dari Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (GFDRR) Bank Dunia menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat gempa berkekuatan serupa bagi daerah berpendapatan menengah di Indonesia dapat mencapai 0,2% dari PDRB regional. Dengan asumsi tersebut, nilai kerugian ekonomi langsung untuk Polewali Mandar ditaksir menyentuh Rp29,6 miliar—mencakup kerusakan fisik ringan pada infrastruktur pasar, rumah, serta hilangnya pendapatan harian pelaku usaha mikro dan kecil.

Minimnya Perlindungan Asuransi

Guncangan ini kembali menyoroti rendahnya penetrasi asuransi properti dan bisnis di daerah. Menurut data OJK per Maret 2026, hanya 7% dari total UMKM di Sulawesi Barat yang memiliki polis asuransi kebakaran atau all-risk, termasuk perlindungan gempa. Akibatnya, mayoritas pelaku usaha harus menanggung sendiri biaya pemulihan, yang seringkali mengandalkan tabungan pribadi atau pinjaman informal.

“Kami belum pernah belajar mitigasi risiko bencana lewat instrumen keuangan. Padahal, asuransi mikro dengan premi Rp50 ribu per bulan seharusnya bisa dijangkau,”
kata Rahman Jaya, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Sulawesi Barat yang turut membantu evaluasi dampak gempa.

Dampak Harga dan Pasar

Pada level harga lokal, guncangan menciptakan lonjakan sesaat. Harga cabai rawit di Pasar Induk Polewali naik 5,7% menjadi Rp45.000 per kilogram, sementara harga ikan tuna segar melonjak 7,2% akibat pasokan dari pelabuhan terhenti. Fenomena panic buying yang terjadi dalam dua jam pertama pasca-gempa turut mendorong kenaikan tersebut. Namun, ekonom dari Universitas Sulawesi Barat memperkirakan harga akan kembali normal dalam 48 jam, selama tidak ada gempa susulan yang lebih besar dan rantai pasok segera pulih.

Dampak ke pasar modal dan komoditas global praktis nihil. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah tidak menunjukkan reaksi berarti, mengingat skala ekonomi kabupaten ini tidak cukup besar untuk mengintervensi pasar nasional.

Poin Penting

  • Gempa terjadi saat jam sibuk perdagangan, memaksa pasar tradisional tutup sementara dan omset pedagang anjlok hingga 30%.
  • Sektor logistik terhambat oleh retakan jalan desa, mengganggu distribusi hasil bumi dan ikan segar.
  • Potensi kerugian ekonomi langsung ditaksir mencapai 0,2% PDRB atau sekitar Rp29,6 miliar, terutama dari usaha mikro dan infrastruktur ringan.
  • Rendahnya penetrasi asuransi UMKM (hanya 7%) menambah beban pemulihan ekonomi warga.
  • Harga pangan sempat melonjak 5–7% akibat aksi borong dan supply shock yang bersifat temporer.

Dengan karakteristik gempa dangkal dan aktivitas ekonomi yang didominasi sektor informal, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengarusutamaan mitigasi risiko bencana dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah—mulai dari perkuatan infrastruktur pasar hingga edukasi literasi asuransi mikro bagi pelaku usaha.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User