Enea: 80 Persen Bangunan Italia Butuh Perombakan Energi

ROMA — Sebanyak 80 persen bangunan di Italia masih membutuhkan intervensi perbaikan untuk meningkatkan kelas energi. Fakta itu terungkap dalam laporan terb

Aug 28, 2026 - 07:02
0 0
Enea: 80 Persen Bangunan Italia Butuh Perombakan Energi

ROMA — Sebanyak 80 persen bangunan di Italia masih membutuhkan intervensi perbaikan untuk meningkatkan kelas energi. Fakta itu terungkap dalam laporan terbaru Badan Energi Nasional Italia (Enea), yang kini menjadi dasar pemerintah Italia untuk merombak kebijakan insentif perumahan hijau. Laporan yang dirilis pada pertengahan April 2024 itu menyoroti kebutuhan mendesak akan program case green, atau bangunan ramah lingkungan, menyusul target Uni Eropa mewujudkan bangunan dengan emisi nol pada 2050.

Kronologi: Dari Laporan Enea hingga Wacana Insentif Baru

Kebijakan perumahan hijau di Italia tidak lahir dalam semalam. Berikut kronologi perjalanannya berdasarkan temuan laporan Enea dan dinamika kebijakan yang berkembang di Roma:

  1. Penerbitan laporan Enea — Enea merilis data bahwa mayoritas gedung di Italia belum memenuhi standar kelas energi yang ditargetkan Uni Eropa.
  2. Penilaian kondisi gedung — Hasil audit menunjukkan sistem pemanas, boiler kondensasi, hingga kusen jendela (infissi) masih banyak yang berusia tua dan boros energi.
  3. Munculnya wacana detraksi selektif — Pemerintah Italia menyiapkan skema pengurangan pajak (detrazioni) yang lebih selektif, tidak lagi menyeluruh seperti program Superbonus sebelumnya.
  4. Perancangan bonus bertarget — Insentif baru diarahkan pada jenis intervensi tertentu yang berdampak besar, seperti penggantian boiler, pemasangan pompa panas, dan perbaikan isolasi gedung.
  5. Harmonisasi dengan arahan Uni Eropa — Rancangan aturan disesuaikan dengan direktif Energy Performance of Buildings Directive (EPBD) yang menuntut renovasi bertahap hingga 2050.

Angka di Balik Laporan: Pekerjaan Rumah yang Besar

Enea mencatat hampir seluruh stok bangunan di Italia memerlukan sentuhan renovasi. Dari ruang lingkup intervensi yang direkomendasikan, beberapa poin menjadi prioritas utama:

  • Penggantian boiler kondensasi dengan sistem pemanas beremisi rendah.
  • Pemasangan kusen jendela baru untuk mengurangi kebocoran energi termal.
  • Perbaikan isolasi dinding dan atap demi menekan konsumsi listrik dan gas.
  • Adopsi pompa panas dan panel surya sebagai sumber energi terbarukan.
Enea menegaskan, tanpa intervensi masif pada 80 persen bangunan yang ada, Italia akan kesulitan memenuhi komitmen iklim Uni Eropa sekaligus meringankan beban tagihan energi rumah tangga.

Detraksi dan Bonus Selektif: Insentif yang Lebih Tajam

Perubahan paling mencolok ada pada desain insentif. Jika sebelumnya program perumahan hijau diberikan secara luas, pemerintah kini mengarah pada detraksi pajak dan bonus yang bersifat selektif. Artinya, tidak semua jenis renovasi otomatis mendapat keringanan pajak.

Insentif diprioritaskan untuk intervensi yang secara signifikan menaikkan kelas energi bangunan. Penggantian boiler tua, misalnya, dinilai lebih berdampak dibanding perbaikan kosmetik fasad. Skema ini juga diharapkan menekan biaya fiskal negara yang sempat membengkak akibat program insentif sebelumnya.

Mengapa Bangunan Menjadi Prioritas Kebijakan Iklim

Di Uni Eropa, sektor bangunan menyumbang sekitar 40 persen konsumsi energi dan 36 persen emisi gas rumah kaca. Angka tersebut menjadikan renovasi gedung sebagai salah satu jalur tercepat menuju target iklim, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.

Bagi Italia, urgensi itu bahkan lebih tinggi karena mayoritas stok perumahannya dibangun sebelum adanya standar efisiensi energi modern. Kondisi ini menjelaskan mengapa Enea menyebut hampir 80 persen gedung membutuhkan perbaikan kelas energi, dari sektor perumahan hingga gedung komersial dan publik.

Dampak bagi Pemilik Rumah dan Pasar Properti

Bagi pemilik rumah, arah kebijakan ini berarti keputusan renovasi harus lebih cermat. Konsultasi dengan auditor energi dan pemilihan material yang tepat menjadi kunci agar insentif dapat dimanfaatkan maksimal. Di sisi lain, pasar properti Italia diprediksi ikut bergerak: bangunan bersertifikat kelas energi tinggi akan semakin bernilai.

Para pengamat menilai langkah ini sejalan dengan tren global menuju dekarbonisasi sektor properti. Namun, tantangan terbesar tetap pada pembiayaan, mengingat biaya renovasi menyeluruh tidaklah murah. Pemerintah pun didorong menyiapkan skema pembiayaan yang terjangkau bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah.

Dengan 80 persen bangunan yang harus diperbaiki, Italia kini berada di persimpangan: menjadikan renovasi energi sebagai beban, atau mengubahnya menjadi peluang pertumbuhan ekonomi dan penghematan jangka panjang bagi jutaan keluarga.

[SOCIAL_TWEET]: 📊 Laporan Enea: 80% bangunan di Italia butuh renovasi energi! Pemerintah siapkan detraksi & bonus selektif demi rumah ramah lingkungan. #CaseGreen #Energi #Italia[SOCIAL_TG]: 🇮🇹 80% bangunan Italia butuh perombakan energi. Insentif baru lebih selektif: boiler, infissi, isolasi, pompa panas jadi prioritas. Simak analisis lengkapnya di Beritainti.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User