Satu dari Lima Ibu Italia Berhenti Bekerja Setelah Anak Pertama Lahir

ROMA — Italia kembali disebut sebagai negara yang tidak ramah bagi ibu bekerja. Laporan terbaru dari lembaga kemanusiaan Save the Children berjudul Le equi

Aug 28, 2026 - 06:26
0 0
Satu dari Lima Ibu Italia Berhenti Bekerja Setelah Anak Pertama Lahir

ROMA — Italia kembali disebut sebagai negara yang tidak ramah bagi ibu bekerja. Laporan terbaru dari lembaga kemanusiaan Save the Children berjudul Le equilibriste mengungkap fakta mencengangkan: satu dari lima ibu di Italia memilih berhenti bekerja setelah melahirkan anak pertama. Temuan ini sekaligus mempertegas bahwa ketimpangan gender di dunia kerja Italia masih menjadi persoalan serius yang belum kunjung tuntas.

Data tersebut diperkuat oleh catatan konfirmasi pengunduran diri (dimissioni) para orang tua baru. Sebanyak 72,8 persen dari seluruh konfirmasi pengunduran diri orang tua baru di Italia merupakan perempuan. Artinya, hampir tiga perempat pekerja yang meninggalkan kariernya demi mengurus anak adalah ibu, bukan ayah. Angka ini menjadi alarm keras bagi pemerintah maupun pelaku industri di Negeri Pizza tersebut.

Data Mengejutkan dari Laporan Le equilibriste

Save the Children merilis laporan Le equilibriste sebagai potret nyata perjuangan para ibu di Italia dalam menyeimbangkan peran sebagai pekerja dan pengasuh. Laporan ini menyoroti bagaimana momen kelahiran anak pertama menjadi titik balik paling kritis bagi karier perempuan. Banyak ibu yang akhirnya memilih mundur karena beban pengasuhan yang tidak tertanggung, minimnya dukungan, serta biaya penitipan anak yang melambung tinggi.

"Kelahiran anak pertama seharusnya menjadi momen paling membahagiakan, namun bagi banyak ibu di Italia momen ini justru menjadi awal dari akhir karier mereka. Negara ini masih jauh dari kata ramah terhadap ibu yang ingin tetap bekerja," demikian pesan yang tersirat dari laporan Save the Children.

Rasio 72,8 persen yang didominasi perempuan menunjukkan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak masih dianggap sebagai kewajiban ibu semata. Kondisi ini diperparah dengan budaya kerja Italia yang kaku, jam kerja panjang, serta minimnya fasilitas penitipan anak yang terjangkau di banyak wilayah, terutama di kawasan selatan yang secara ekonomi tertinggal.

Beban Ganda yang Memaksa Ibu Mundur

Para pengamat ketenagakerjaan menilai fenomena ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan buah dari sistem yang tidak adil. Ibu di Italia menghadapi beban ganda: di satu sisi dituntut produktif di kantor, di sisi lain menjadi pengasuh utama di rumah. Ketika kedua tuntutan itu mustahil dipenuhi bersamaan, pengunduran diri menjadi satu-satunya jalan yang terasa paling masuk akal.

  • Biaya penitipan anak (asilo nido) yang mahal dan kuota tempat yang terbatas membuat banyak ibu tak punya pilihan selain mengasuh sendiri.
  • Jam kerja panjang dan budaya hadir di kantor (presentismo) menyulitkan ibu untuk mengatur waktu dengan anak.
  • Dukungan dari pasangan maupun keluarga besar semakin berkurang seiring perubahan struktur keluarga modern.
  • Stigma sosial yang menilai ibu bekerja sebagai ibu yang lalai masih kuat di sebagian masyarakat Italia.

Akibatnya, investasi pendidikan dan pengalaman kerja yang telah dibangun bertahun-tahun oleh perempuan Italia sirna begitu saja. Padahal, banyak dari mereka adalah tenaga kerja terampil yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Mengkhawatirkan

Ketika ibu berhenti bekerja, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh keluarga bersangkutan, tetapi juga oleh negara. Italia kehilangan potensi produktivitas besar-besaran di tengah tantangan demografi berupa angka kelahiran yang terus merosot. Kombinasi ibu yang keluar dari pasar kerja dan tingkat kelahiran rendah menempatkan Italia dalam lingkaran setan yang memperlemah pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Dari sisi keluarga, keputusan berhenti bekerja kerap diikuti penurunan pendapatan rumah tangga, berkurangnya kemandirian finansial perempuan, hingga meningkatnya risiko kemiskinan ketika terjadi perceraian atau kematian pencari nafkah utama. Ketergantungan finansial ini juga berpotensi memicu kekerasan dalam rumah tangga karena posisi tawar perempuan melemah.

Jalan Keluar yang Dibutuhkan Italia

Para aktivis hak perempuan mendesak pemerintah Italia untuk bertindak nyata. Kebijakan yang diharapkan mencakup perluasan akses penitipan anak gratis atau murah, perpanjangan cuti ayah, insentif pajak bagi perusahaan ramah keluarga, serta kampanye budaya untuk membagi tugas pengasuhan secara setara antara ayah dan ibu.

Laporan Le equilibriste menegaskan bahwa tanpa intervensi serius, Italia akan terus kehilangan ibu-ibu berbakat dari pasar kerja. Padahal, negara ini justru membutuhkan lebih banyak perempuan bekerja untuk menopang sistem jaminan sosial yang kian terbebani oleh populasi menua. Menyelamatkan karier ibu, pada akhirnya, berarti menyelamatkan masa depan Italia.

[SOCIAL_TWEET]: Laporan Save the Children: 72,8% konfirmasi pengunduran diri orang tua baru di Italia adalah ibu. Satu dari lima ibu berhenti bekerja setelah anak pertama. Saatnya Italia ramah bagi ibu bekerja! 👩👧💼[SOCIAL_TG]: 📊 DATA PENTING: 72,8% konfirmasi pengunduran diri orang tua baru di Italia adalah perempuan. Laporan Save the Children mencatat satu dari lima ibu berhenti bekerja setelah anak pertama. Beban ganda pengasuhan dan minimnya dukungan jadi biang keroknya. Ikuti terus Beritainti.com untuk berita terupdate!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User