Denpasar: SDN 8 Kesiman Terapkan Uji Cicip Ketat Program MBG
Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan menuntut sistem kontrol kualitas yang presisi dan konsisten. Guna meminimalkan risiko
Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan menuntut sistem kontrol kualitas yang presisi dan konsisten. Guna meminimalkan risiko kontaminasi pangan dan memastikan standar nutrisi terpenuhi, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 Kesiman, Denpasar, memberlakukan protokol pengawasan berlapis yang ketat sebelum hidangan didistribusikan kepada para peserta didik.
Langkah mitigasi preventif ini diterapkan secara sistematis dengan melibatkan tim internal sekolah. Pihak manajemen sekolah memprioritaskan keamanan biologis dan higienitas menu makanan sebagai parameter utama kelayakan konsumsi harian siswa.
Prosedur Pengujian Organoleptik oleh Tim Khusus
Kepala SDN 8 Kesiman, I Wayan Sahbrata, S.Pd., mengungkapkan bahwa pihaknya telah membentuk tim pengawas khusus yang terdiri dari empat person in charge (PIC). Tim ini bertanggung jawab melakukan uji organoleptik—pemeriksaan fisik yang mencakup aroma, tekstur, suhu, hingga mencicipi rasa makanan—sebelum kotak konsumsi diserahkan ke ruang-ruang kelas.
“Kalau menu itu dicicipi PIC dan tidak memungkinkan untuk dikonsumsi anak-anak, kami kembalikan. Kami tidak berani membagikan,” tegas Sahbrata saat memberikan keterangan terkait protokol keamanan pangan di sekolahnya.
Prosedur penolakan dan pengembalian paket makanan tersebut bukan sekadar wacana regulasi. SDN 8 Kesiman tercatat pernah mengembalikan pasokan menu yang dinilai tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi anak. Respon dari penyedia program dinilai cukup kooperatif melalui pengiriman tim verifikasi lapangan.
“Dari pihak MBG mempertanggungjawabkan dan bahkan krunya datang. Itu bagus,” imbuh Sahbrata mengapresiasi rantai akuntabilitas penyedia katering.
Pengawasan Berkelanjutan dan Pengawalan di Ruang Kelas
Sistem pengawasan MBG di sekolah dasar ini tidak berhenti pada tahap uji awal di pos penerimaan barang. Ketika jam makan tiba, seluruh wali kelas diwajibkan melakukan pendampingan langsung selama proses konsumsi berlangsung.
Pendekatan komprehensif ini dijalankan melalui sejumlah poin operasional penting:
- Verifikasi Pra-Distribusi: Pengujian kelayakan rasa dan aroma oleh empat PIC terverifikasi.
- Protokol Retur Tegas: Hak veto pihak sekolah untuk menolak seluruh paket jika ditemukan indikasi penurunan kualitas makanan.
- Monitoring Jam Makan: Pemantauan aktif oleh wali kelas untuk mendeteksi potensi keluhan rasa, alergi, atau ketidaknyamanan siswa secara real-time.
- Nol Insiden Kesehatan: Hingga saat ini, belum pernah tercatat kasus keracunan pangan maupun gangguan pencernaan akibat konsumsi MBG di lingkungan SDN 8 Kesiman.
Urgensi Keterlibatan Tenaga Ahli Gizi
Secara analitis, inisiatif mandiri pihak sekolah ini memperlihatkan celah krusial dalam rantai pasok program MBG berskala luas. Tanpa standardisasi quality control (QC) yang ketat di tingkat hulu, beban verifikasi keamanan pangan sering kali bergeser ke pihak sekolah yang memiliki keterbatasan instrumen pengujian laboratorium.
Sahbrata menegaskan pentingnya pengawasan terstandarisasi sejak proses pengolahan dan distribusi awal. Keberlanjutan program intervensi nutrisi nasional ini memerlukan pengawasan berbasis sains agar cita-cita pemenuhan gizi generasi muda tidak tercederai oleh kelalaian higienitas.
“Kami berharap pihak MBG selalu mengontrol makanan dengan melibatkan ahli yang bertugas sebelum makanan didistribusikan ke sekolah,” pungkasnya.
Comments (0)