Canda Prabowo Saat Panglima-Kapolri Pakai Peci di Munas NU: PDL Harus Diubah?
Bangkalan - Suasana penuh keakraban dan gelak tawa mewarnai pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona
Bangkalan - Suasana penuh keakraban dan gelak tawa mewarnai pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur. Di hadapan ribuan kiai dan warga nahdliyin, Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan segar yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Momen itu terjadi saat ia menyapa Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang duduk di barisan depan.
Berdasarkan laporan media kami pada Selasa (23/6/2026), perhatian Prabowo langsung tertuju pada penampilan dua pucuk pimpinan institusi pertahanan dan keamanan tersebut. Di tengah forum agamis yang besar itu, baik Jenderal Agus Subiyanto maupun Jenderal Listyo Sigit Prabowo kompak mengenakan peci hitam yang menutupi kepala mereka, menyatu dengan seragam dinas lengkap (PDL) yang melekat.
Guyonan 'PDL Harus Diubah'
Melihat pemandangan tak biasa itu, Presiden Prabowo spontan bereaksi. Ia menunjuk ke arah Panglima TNI dan Kapolri, lalu dengan nada bercanda menyapa hadirin. Suara mantap Presiden menggema di aula pesantren, menciptakan jeda humor yang menyegarkan di tengah protokoler kenegaraan yang biasanya kaku.
"Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Coba, kalau datang ke NU, tentara pun pakai kopiah, polisi pakai kopiah," kata Prabowo disambut gelak tawa para peserta Munas.
Tak berhenti di situ, Prabowo melanjutkan candaannya yang menyinggung soal aturan berpakaian dinas. Ia seolah mempertanyakan, apakah penambahan peci pada seragam tentara dan polisi ini berarti Peraturan Dinas Lapangan (PDL) harus segera direvisi? Meski hanya selorohan, nada bicara Presiden menunjukkan kedekatan emosional antara institusi negara dengan organisasi masyarakat sipil keagamaan terbesar di Indonesia itu.
Momen ini sekaligus menegaskan kembali harmoni antara aparat keamanan dengan organisasi Nahdlatul Ulama. Kehadiran pejabat tinggi negara dalam balutan peci di forum ulama bukan hanya sekadar simbol penghormatan, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa tradisi dan kearifan lokal mendapat tempat terhormat di jantung birokrasi pertahanan negara. Para hadirin tampak sumringah menyaksikan interaksi cair antara Presiden dan para jenderalnya, jauh dari kesan protokoler yang biasanya rigid.
Comments (0)