Rupiah Terus Melemah, Dolar AS Nyaris Sentuh Level Rp 18.000

Jakarta - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terasa signifikan pada pembukaan perdagangan Kamis pagi ini. Mata uang Garuda terpantau terus merosot seiring dengan penguatan dolar Amerika Seri

Jul 08, 2026 - 00:36
0 1
Rupiah Terus Melemah, Dolar AS Nyaris Sentuh Level Rp 18.000

Jakarta - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terasa signifikan pada pembukaan perdagangan Kamis pagi ini. Mata uang Garuda terpantau terus merosot seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin agresif.

Berdasarkan pantauan data perdagangan yang dikutip Beritainti.com pada Kamis (25/6/2026), sekitar pukul 09.05 WIB, posisi nilai tukar dolar AS telah bertengger di level Rp 17.967. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 15 poin atau setara dengan 0,08% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini membuat dolar AS hanya berselisih tipis untuk menembus level psikologis baru di angka Rp 18.000.

Pergerakan Dolar AS terhadap Mata Uang Global

Laporan media kami mencatat, keperkasaan dolar AS tidak hanya terjadi di hadapan rupiah. Mata uang Negeri Paman Sam ini juga menunjukkan tren penguatan terhadap sejumlah mata uang utama dunia lainnya. Pergerakan dolar AS terpantau bervariasi, namun dominasi penguatan cukup terlihat jelas terhadap beberapa mata uang seperti dolar Kanada, dolar Hong Kong, dan won Korea Selatan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen risk-off masih menyelimuti pasar keuangan global. Para pelaku pasar cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global. Penguatan indeks dolar AS ini tentu menjadi beban tambahan bagi nilai tukar rupiah yang sudah sejak awal tahun berada dalam tren pelemahan.

Pergerakan di kisaran Rp 17.900-an ini semakin mengkhawatirkan para importir dan pelaku usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Jika tren ini berlanjut dan level Rp 18.000 benar-benar tertembus dalam beberapa hari ke depan, beban biaya operasional perusahaan dipastikan akan semakin membengkak.

"Level psikologis Rp 18.000 per dolar AS adalah teritori yang sangat rawan bagi perekonomian domestik. Jika tertembus, kita mungkin akan melihat gelombang inflasi baru akibat imported inflation yang sulit dibendung," ujar seorang analis pasar uang yang dihubungi Beritainti.com secara terpisah.

Sementara itu, Bank Indonesia diyakini akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas yang berlebihan. Langkah triple intervention melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder kemungkinan akan kembali dioptimalkan. Hingga berita ini diturunkan, pasar masih menanti langkah konkret dari otoritas moneter untuk menjaga stabilitas rupiah agar tidak semakin terperosok jauh meninggalkan asumsi fundamentalnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Editor Politik. Editor ringkasan kebijakan dan pemilu.

Comments (0)

User