Rupiah Tertekan ke Rp17.753 Imbas Suku Bunga Fed dan Geopolitik

Tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut hingga penutupan perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, nilai tukar rupiah terdepresia

Sep 17, 2026 - 22:20
0 0
Rupiah Tertekan ke Rp17.753 Imbas Suku Bunga Fed dan Geopolitik

Tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut hingga penutupan perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,32 persen atau melemah 57 poin ke level Rp17.753 per dolar Amerika Serikat (AS). Kombinasi sentimen global yang agresif dan tensi geopolitik yang belum mereda menjadi pemicu utama keluarnya arus modal dari pasar negara berkembang.

Kondisi ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar keuangan global dalam merespons ketidakpastian arah kebijakan moneter dan stabilitas rantai pasok komoditas global.

Faktor Pemicu Pelemahan Mata Uang

Pergerakan nilai tukar sepanjang pekan ini dipengaruhi oleh sejumlah dinamika makroekonomi dan geopolitik internasional yang menekan mata uang kawasan Asia, khususnya rupiah:

  1. Kenaikan Suku Bunga The Fed: Bank Sentral AS, Federal Reserve, mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan pada periode September untuk meredam laju inflasi domestik yang persisten.
  2. Instabilitas Timur Tengah: Eskalasi konflik regional di kawasan Timur Tengah terus menciptakan premi risiko tinggi bagi investor global.
  3. Disrupsi Rantai Pasok Selat Hormuz: Perselisihan yang berkepanjangan antara AS dan Iran memicu gangguan distribusi logistik minyak mentah dan energi global.
"Reuters melaporkan bahwa AS dan kelompok Houthi Yaman akan mengadakan dialog selama akhir pekan. Meski ada klaim diplomatik bahwa perang akan mereda, perselisihan di Selat Hormuz faktanya masih mengganggu lalu lintas energi strategis," ujar Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi.

Dilema Geopolitik dan Stabilitas Energi

Pasar keuangan global saat ini berada dalam posisi risk-off akibat memanasnya perairan Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital yang melayani sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia. Gangguan terhadap keamanan navigasi di wilayah tersebut memicu lonjakan biaya logistik dan premi asuransi pengapalan internasional, yang pada akhirnya mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) sebagai aset safe haven.

Kendati spekulasi kesepakatan damai sempat muncul pasca pernyataan pihak AS mengenai peluang deeskalasi dengan Iran dan kelompok Houthi Yaman, pelaku pasar masih bersikap skeptis sebelum adanya realisasi konkret di lapangan.

Respon Domestik dan Transisi Kebijakan Fiskal

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan. Pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru dinilai menjadi jangkar kepastian fiskal di tengah gejolak eksternal.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berfungsi optimal sebagai peredam kejut (shock absorber). Fokus utama kebijakan fiskal meliputi:

  • Menjaga kesinambungan defisit anggaran dalam batas aman yang ditetapkan undang-undang.
  • Memperkuat bauran stimulus guna menopang daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
  • Memastikan stabilitas imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) agar tetap menarik bagi investor asing.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User