JAKARTA — BPOM dan Unhan Bersinergi Perkuat SDM Pengawas Obat Daerah 3T
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi mempererat kemitraan strategis dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) guna menceta
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi mempererat kemitraan strategis dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) guna mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul di sektor pengawasan obat dan makanan. Langkah ini dirancang sebagai respons terhadap dinamika ancaman kesehatan publik serta pemenuhan kebutuhan tenaga ahli di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kolaborasi ini tidak sekadar berfokus pada pemenuhan aspek administratif birokrasi, melainkan membangun talent pipeline yang berkelanjutan. Penguatan kapasitas tersebut diintegrasikan langsung melalui program pendidikan Fakultas Farmasi Militer Unhan RI untuk menghasilkan tenaga pengawas yang memiliki ketahanan mental militer dan keahlian teknis tingkat tinggi.
Kronologi dan Tahapan Pembangunan Kapasitas Terpadu
Dalam skema kemitraan strategis ini, BPOM dan Unhan menyusun peta jalan terstruktur guna memastikan kompetensi lulusan selaras dengan kebutuhan lapangan:
- Penyelarasan Kurikulum Akademik: Memasukkan disiplin regulatory science dan standar pengawasan mutu mutakhir ke dalam silabus pendidikan Farmasi Militer Unhan RI.
- Pelatihan Praktik Lapangan: Mahasiswa dan calon tenaga pengawas diterjunkan dalam simulasi inspeksi dan pengujian laboratorium berstandar BPOM.
- Distribusi Penempatan Strategis: Formulasi penempatan lulusan ke seluruh kantor unit pelaksana teknis (UPT) BPOM, dengan prioritas utama kawasan perbatasan dan daerah 3T.
Dimensi Ketahanan Nasional dalam Pengawasan Obat dan Pangan
Secara analitis, kedaulatan obat dan keamanan pangan kini diposisikan sebagai pilar krusial dalam doktrin pertahanan negara nir-militer. Ketergantungan pasokan serta kerentanan peredaran produk ilegal di kawasan perbatasan menuntut kehadiran aparat pengawas yang adaptif sekaligus berintegritas tinggi.
“Ketahanan obat dan keamanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional. Karena itu, kita harus menyiapkan generasi pengawas yang bukan hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga memahami regulatory science, tangguh di lapangan, berintegritas, dan siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T,” tegas Taruna Ikrar.
Tantangan pengawasan di wilayah perbatasan Indonesia selama ini terkendala oleh minimnya tenaga ahli yang siap bertahan di medan dengan fasilitas terbatas. Melalui integrasi bersama Unhan, calon pengawas dibekali kesiapan fisik, loyalitas kebangsaan, dan pemahaman geopolitik pertahanan.
Prospek Penguatan Infrastruktur Pengawasan Nasional
Inisiatif ini mencakup beberapa fokus pengembangan utama:
- Mitigasi Risiko Keamanan Hayati (Biosecurity): Menangkal masuknya produk farmasi maupun makanan ilegal berisiko tinggi melalui jalur-jalur tikus di perbatasan.
- Akselerasi Kemandirian Bahan Baku Obat: Mendorong riset terapan antara pakar BPOM dan akademisi Unhan demi memperkuat industri farmasi dalam negeri.
- Pemerataan Standar Pelayanan Publik: Menjamin masyarakat di kawasan terpencil memperoleh akses pangan dan obat-obatan yang teruji aman dan bermutu.
Langkah proaktif ini diharapkan mampu memangkas kesenjangan pengawasan antarwilayah serta memperkokoh sistem pertahanan kesehatan nasional dalam menghadapi ancaman krisis global di masa mendatang.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan ketahanan pangan dan obat adalah bagian dari pertahanan negara. Kolaborasi bersama Unhan RI difokuskan untuk mencetak tenaga pengawas berkeahlian regulatory science yang siap ditempatkan di seluruh penjuru Indonesia.
Comments (0)