Presiden FIFA Gianni Infantino: Data di Balik Era Baru Sepak Bola

Skor akhir 3-3, dan trofi akhirnya direbut lewat adu penalti 4-2. Di Lusail Stadium, 18 Desember 2022, Argentina mengalahkan Prancis dalam final Piala Dunia yang disebut banyak pihak sebagai laga terb...

Aug 28, 2026 - 17:22
0 0
Presiden FIFA Gianni Infantino: Data di Balik Era Baru Sepak Bola

Skor akhir 3-3, dan trofi akhirnya direbut lewat adu penalti 4-2. Di Lusail Stadium, 18 Desember 2022, Argentina mengalahkan Prancis dalam final Piala Dunia yang disebut banyak pihak sebagai laga terbaik sepanjang sejarah. Di tribune kehormatan, Gianni Infantino tersenyum lebar. Presiden FIFA itu menyaksikan Lionel Messi membuka skor dari titik putih pada menit ke-23, Angel Di Maria menggandakan keunggulan pada menit ke-36, sebelum Kylian Mbappe merespons lewat dua gol cepat pada menit ke-80 dan ke-81. Perpanjangan waktu menjadi panggung drama berikutnya: Messi kembali mencetak gol pada menit ke-108, Mbappe melengkapi hat-trick pada menit ke-118, dan penguasaan bola akhirnya berpihak pada Argentina dengan 58 persen berbanding 42 persen, plus keunggulan jumlah shots on target yang menegaskan dominasi mereka.

Bagi Infantino, malam di Doha itu bukan kebetulan. Pria kelahiran Brig, Swiss, yang terpilih sebagai presiden kesembilan FIFA pada 26 Februari 2016, adalah arsitek di balik format baru, pendapatan baru, dan peta kekuatan baru sepak bola dunia. Berikut analisis data kepemimpinannya.

Kigali 2023: Aklamasi dan Mandat Ketiga

16 Maret 2023, Kongres FIFA ke-73 di Kigali, Rwanda, menjadi panggung kekuasaan. Infantino kembali terpilih tanpa lawan, menandai periode ketiganya sejak menggantikan Sepp Blatter yang tumbang akibat skandal korupsi pada 2015. Dari 211 asosiasi anggota FIFA, tidak satu pun federasi mengajukan kandidat tandingan — sinyal dominasi politik yang nyaris tidak pernah terjadi dalam sejarah organisasi. Ia membawa bendera ekspansi: lebih banyak tim, lebih banyak negara, lebih banyak pasar.

Menit-menit awal kepemimpinannya penuh aksi. Ia merombak struktur turnamen, mengusung VAR ke Piala Dunia 2018, dan meloloskan aturan lima pergantian pemain. Gaya komunikasinya pun agresif, seperti gelandang serang yang terus menekan pertahanan lawan: setiap kongres ia datang dengan janji pendapatan yang lebih besar dan hadiah yang lebih gemuk.

Piala Dunia 2026: 48 Tim, 104 Laga, Satu Panggung Raksasa

Proyek paling ambisius Infantino adalah Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Formatnya meledak dari 32 menjadi 48 tim dengan 104 pertandingan, naik dari 64 laga pada edisi-edisi sebelumnya. Dua belas grup berisi empat tim akan bertarung mulai Juni hingga final pada 19 Juli 2026 di MetLife Stadium, New Jersey. Angka-angka itu bukan sekadar administrasi: lebih banyak laga berarti lebih banyak slot penyiaran, sponsor, dan tiket.

FIFA mencatat pendapatan 7,5 miliar dolar AS pada siklus 2019-2022, dan hadiah uang Piala Dunia 2022 mencapai 440 juta dolar AS. Untuk edisi 2026, angka itu diproyeksikan melonjak lebih jauh. Di sisi klub, Infantino juga meluncurkan Piala Dunia Antarklub berformat 32 tim yang perdana digelar pada 2025 — satu lagi bukti bahwa ia membaca sepak bola sebagai industri yang tak pernah berhenti mencetak gol komersial.

Kritik, Polemik, dan Warisan yang Belum Selesai

Namun, di balik angka pertumbuhan, kritisisme mengalir deras. Penunjukan Qatar sebagai tuan rumah 2022 dibayangi laporan ribuan pekerja migran yang tewas dalam proyek infrastruktur. Di tengah badai itu, Infantino justru melontarkan pernyataan kontroversial: "Hari ini saya merasa sebagai orang Katar. Hari ini saya merasa sebagai orang Arab. Hari ini saya merasa sebagai orang Afrika. Hari ini saya merasa gay. Hari ini saya merasa penyandang disabilitas." Kalimat itu memicu kecaman global dan menjadi titik terendah komunikasinya.

Kontroversi lain menyusul: Piala Dunia 2030 akan digelar di tiga benua oleh enam negara — Maroko, Spanyol, Portugal, plus laga pembuka di Argentina, Uruguay, dan Paraguay — sementara 2034 jatuh ke Arab Saudi sebagai satu-satunya penawar, yang oleh pengamat disebut sebagai kelanjutan praktik membeli panggung besar. Di sisi lain, ia juga mencatat prestasi: hadiah uang Piala Dunia Wanita 2023 naik tiga kali lipat menjadi 150 juta dolar AS, dan turnamen putri untuk pertama kalinya memakai format 32 tim.

Di penghujung mandat, statistik berbicara dengan suara paling lantang. Di bawah Infantino, jumlah peserta Piala Dunia naik 50 persen, pendapatan organisasi menembus rekor, dan jangkauan kompetisi meluas ke tiga benua. Kritik mungkin terus menghujani tribun, tetapi di atas lapangan kekuasaan, Presiden FIFA itu masih memegang bola — dan belum ada tanda-tanda ia akan melepaskannya dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User