Presiden AS Akui Salah Perkirakan Popularitas Mendiang Khamenei
Washington DC, Beritainti.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terkejut melihat lautan manusia yang memadati prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamene
Washington DC, Beritainti.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terkejut melihat lautan manusia yang memadati prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pengakuan ini diungkapkan dalam wawancara eksklusif bersama media AS, yang kemudian dikutip oleh laporan Beritainti.com pada Senin (6/7/2026). Trump menyampaikan bahwa ia sempat meyakini mendiang pemimpin spiritual dan politik Iran itu tidak memiliki dukungan publik yang signifikan.
Kaget dan Sindiran Air Mata Palsu
Dalam pernyataannya, Trump secara gamblang mengutarakan kekecewaannya terhadap realitas di lapangan yang bertolak belakang dengan asumsinya. Ia menilai citra Khamenei di mata rakyat Iran seharusnya telah merosot tajam.
"Saya terkejut. Saya pikir orang-orang membencinya," ujar Trump, merespons pertanyaan mengenai animo massa yang meluber di sepanjang rute pemakaman.
Namun, alih-alih menerima fenomena itu sebagai ekspresi duka yang tulus, Trump memilih melontarkan tudingan bernada skeptis. Ia menyiratkan bahwa tangisan dan kesedihan para pelayat yang terekam kamera tidak sepenuhnya asli. "Mungkin itu air mata palsu," tambahnya, menanggapi deretan gambar para pelayat yang histeris selama upacara kenegaraan tersebut.
Komentar kontroversial ini langsung menuai reaksi beragam, mengingat pemakaman Khamenei menjadi salah satu momen paling emosional dalam sejarah Republik Islam Iran. Jutaan orang turun ke jalan, mulai dari Teheran hingga kota-kota suci, mengantar kepergian pemimpin yang telah memegang kendali tertinggi Iran selama lebih dari tiga dekade.
Klaim Soal Negosiasi yang Mendesak
Di tengah kontroversi pernyataanya, Trump melontarkan klaim mengenai kelanjutan komunikasi antara Washington dan Teheran. Ia menyebut bahwa Iran saat ini berada dalam posisi yang sangat membutuhkan sebuah perjanjian. "Mereka memohon untuk membuat kesepakatan," klaim Trump, merujuk pada pembicaraan rahasia yang biasanya menyoal program nuklir dan sanksi ekonomi.
Trump juga mengungkapkan bahwa kedua negara telah bersepakat untuk menunda sementara proses negosiasi. Penundaan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap masa berkabung nasional. "Kami sepakat untuk menunda pembicaraan hingga prosesi pemakaman Khamenei selesai," tegas Presiden ke-47 AS tersebut.
Pernyataan ini memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah pasca-meninggalnya Khamenei. Para analis hubungan internasional yang dihubungi Beritainti.com menilai bahwa masa transisi kekuasaan di Iran berpotensi membuka jalan bagi diplomasi yang lebih lentur, meskipun retorika Trump cenderung mengecilkan legitimasi kesedihan kolektif rakyat Iran. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintahan transisi Iran atas klaim negosiasi yang disampaikan oleh Presiden Trump.
Comments (0)