MARK Raih Penghargaan Nasional Berkat Kinerja dan Daya Saing
PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) kembali mengukuhkan reputasinya sebagai pemain utama di industri hand former dunia. Perusahaan yang berbasis di Sumat
PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) kembali mengukuhkan reputasinya sebagai pemain utama di industri hand former dunia. Perusahaan yang berbasis di Sumatera Utara ini dinobatkan sebagai peraih Penghargaan Industri Nasional 2025 pada kategori Ekspor dan Inovasi Produk oleh Kementerian Perindustrian. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Perindustrian dalam acara puncak di Jakarta, Rabu (10/3), dan menjadi bukti konsistensi manajemen dalam menjaga kualitas produk di tengah persaingan global yang makin ketat.
MARK, yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 2017, merupakan produsen cetakan sarung tangan karet (hand former) terkemuka dengan kapasitas produksi lebih dari 60 juta unit per tahun. Produknya digunakan oleh pabrik-pabrik sarung tangan medis, laboratorium, dan industri elektronik di lebih dari 70 negara. Selain menguasai sekitar 30% pangsa pasar global, perseroan juga menjadi pemasok utama bagi produsen sarung tangan nomor satu di dunia yang berbasis di Malaysia.
Inovasi Teknologi sebagai Fondasi Pertumbuhan
Tidak hanya mengandalkan skala produksi, MARK terus berinvestasi pada riset dan pengembangan. Direktur Utama MARK, Yulius Herman, kepada Beritainti.com menjelaskan bahwa perseroan telah mengalokasikan 5% dari pendapatan tahunan untuk inovasi material dan desain cetakan.
“Kami kini menggunakan keramik komposit tahan suhu tinggi generasi keempat. Cetakan kami mampu bertahan hingga 2.500 siklus pemakaian—dua kali lipat dari produk pesaing. Ini yang membuat pelanggan loyal,”
ujar Yulius.
Pada tahun lalu, MARK juga meluncurkan lini hand former ramah lingkungan berbahan daur ulang yang mendapatkan sertifikasi ISO 14001. Langkah ini sejalan dengan tuntutan pasar global yang menghendaki proses produksi berkelanjutan. Penghargaan yang diterima kali ini menegaskan bahwa strategi inovasi itu berbuah manis.
Kinerja Keuangan yang Solid
Data laporan keuangan kuartal IV/2025 menunjukkan pendapatan MARK tumbuh 18,3% secara tahunan menjadi Rp2,8 triliun, ditopang oleh peningkatan permintaan dari sektor kesehatan pasca-pandemi dan ekspansi ke Eropa Timur. Laba bersih ikut melesat 22% menjadi Rp460 miliar. Margin operasional tetap terjaga di angka 24%, meskipun harga bahan baku seperti alumina sempat berfluktuasi.
Keberhasilan ini tidak lepas dari efisiensi rantai pasok. MARK mengoperasikan dua pabrik utama di Deli Serdang dan Batam yang terintegrasi dengan pelabuhan dalam, sehingga biaya logistik bisa ditekan. Perusahaan juga menerapkan sistem produksi just-in-time yang mengurangi waktu tunggu gudang.
Dampak bagi Industri Sarung Tangan Nasional
Penghargaan untuk MARK diharapkan dapat menjadi pemicu bagi pengembangan industri pendukung sarung tangan di Indonesia. Selama ini, rantai nilai industri ini masih terpusat di Malaysia dan Thailand. Dengan adanya pemain sekelas MARK, Indonesia berpeluang menarik lebih banyak investasi pabrik sarung tangan ke dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus mengurangi ketergantungan impor alat kesehatan.
Menteri Perindustrian dalam sambutannya menyatakan bahwa pemerintah akan memberikan insentif tambahan berupa tax holiday dan kemudahan impor mesin selama perusahaan berkomitmen meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). MARK sendiri saat ini sudah mencapai TKDN 45% dan menargetkan 60% dalam dua tahun ke depan.
“Penghargaan ini bukan tujuan akhir. Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi hand former dunia. Ke depannya, kami akan mengembangkan cetakan untuk sektor otomotif dan kedirgantaraan,”
tutup Yulius optimistis.
[SOCIAL_TWEET]: MARK baru saja menerima Penghargaan Industri Nasional 2025! Produsen hand former asal Sumut ini kuasai 30% pasar global, buktikan inovasi lokal bisa bersaing di level dunia. #MARK #IndustriIndonesia #Inovasi[SOCIAL_TG]: 🏭 MARK sumut raih Penghargaan Industri Nasional 2025! Cetakan sarung tangan produksi mereka menguasai 30% pasar dunia. Detailnya: [link]
Comments (0)