IEA Ramal Permintaan Minyak Global Anjlok Tajam di 2026

Badan Energi Internasional (IEA) merilis proyeksi terbaru yang mengejutkan pasar energi global: permintaan minyak bumi dunia diprediksi akan mengalami kont

Jul 11, 2026 - 07:26
0 1
IEA Ramal Permintaan Minyak Global Anjlok Tajam di 2026

Badan Energi Internasional (IEA) merilis proyeksi terbaru yang mengejutkan pasar energi global: permintaan minyak bumi dunia diprediksi akan mengalami kontraksi signifikan pada tahun 2026. Ini akan menjadi penurunan tahunan pertama sejak kejatuhan dramatis saat pandemi COVID-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi pada 2020. Laporan IEA yang dikutip Beritainti.com pada Selasa (11/3) menyebutkan, kombinasi percepatan transisi energi, efisiensi bahan bakar, dan perlambatan ekonomi di beberapa kawasan menjadi pemicu utama.

Latar Belakang dan Data Historis

Terakhir kali permintaan minyak global mencatat kontraksi tahunan adalah pada 2020, ketika penyebaran virus corona memaksa negara-negara menerapkan karantina wilayah. Saat itu, konsumsi minyak anjlok hingga 8,6 juta barel per hari—sebuah rekor penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, pemulihan pasca-pandemi mendorong permintaan kembali ke level pra-krisis dalam waktu dua tahun.

Proyeksi 2026 berbeda. Kali ini, kontraksi tidak dipicu oleh guncangan eksternal yang tiba-tiba, melainkan oleh perubahan struktural pada pola konsumsi energi. IEA merinci bahwa penurunan tersebut diperkirakan mencapai 1,4 juta barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kontribusi terbesar dari sektor transportasi darat yang mulai beralih massal ke kendaraan listrik (EV).

Faktor Pendorong Penurunan

Pertama, elektrifikasi transportasi menjadi pendorong utama. Penjualan kendaraan listrik global terus memecahkan rekor; pada 2025, pangsa pasar EV diperkirakan menembus 25% dari total penjualan mobil baru di dunia. Negara-negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan anggota Uni Eropa makin agresif membangun infrastruktur pengisian daya, sekaligus menawarkan insentif fiskal yang mengikis daya tarik mobil berbahan bakar fosil.

Kedua, peningkatan efisiensi energi di sektor industri dan penerbangan. Mesin pesawat generasi terbaru mampu membakar bahan bakar 15-20% lebih hemat, sementara pabrik-pabrik di negara maju menerapkan standar ISO 50001 untuk manajemen energi yang lebih ketat. Ketiga, perlambatan ekonomi di Tiongkok—yang selama ini menjadi konsumen minyak terbesar—ikut menekan permintaan. Pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu yang melambat ke kisaran 4% per tahun berimbas pada aktivitas manufaktur dan logistik.

Respons Pasar dan Pakar

Sejumlah analis energi menyambut proyeksi ini sebagai sinyal penting bahwa titik puncak permintaan minyak (peak oil demand) telah benar-benar di depan mata.

“Ini bukan sekadar fluktuasi musiman. Data IEA mengonfirmasi bahwa dunia sedang memasuki era penurunan minyak secara terstruktur. Produsen perlu segera menyesuaikan portofolio investasinya,”

ujar Dr. Nadya Kirana, Ekonom Energi dari Universitas Indonesia, saat dihubungi Beritainti.com.

Di sisi lain, harga minyak mentah berjangka masih bertahan di atas US$75 per barel. Para pedagang tampaknya menunggu keputusan OPEC+ mengenai kuota produksi sebelum mengambil posisi agresif. Namun tekanan mulai terasa: kontrak berjangka Brent untuk pengiriman 2027 sudah diperdagangkan dengan diskon hingga 10% dibandingkan kontrak jangka pendek, mencerminkan ekspektasi pasar akan kelebihan pasokan di masa depan.

Dampak bagi Negara Produsen dan Konsumen

Bagi negara-negara yang bergantung pada pendapatan minyak—seperti Arab Saudi, Rusia, dan beberapa anggota OPEC—proyeksi ini bisa menjadi ancaman serius terhadap stabilitas fiskal. Di sisi lain, negara pengimpor netto seperti Indonesia justru bisa memetik manfaat dari potensi penurunan harga bahan baku, asalkan subsidi BBM yang membebani anggaran bisa direformasi secara paralel. Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan percepatan kendaraan listrik melalui berbagai regulasi, yang sejalan dengan trend global ini.

Meski begitu, IEA mengingatkan bahwa skenario penurunan permintaan masih bisa berubah jika kebijakan iklim global mengalami kemunduran atau jika pertumbuhan ekonomi dunia kembali melaju kencang. Namun, dengan komitmen nol emisi yang terus menguat, sulit membayangkan minyak bisa kembali ke masa kejayaannya.

[SOCIAL_TWEET]: IEA ramal permintaan minyak global anjlok di 2026, jadi penurunan tahunan pertama sejak pandemi. Elektrifikasi transportasi dan efisiensi energi jadi pemicu utama. #Energi #Minyak #IEA2026[SOCIAL_TG]: 🛢️ Permintaan minyak global diprediksi turun 1,4 juta barel/hari di 2026. Sinyal kuat puncak permintaan minyak sudah di depan mata. Selengkapnya: [link]

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User