Kementan Peringatkan Bahaya Penggunaan Paracetamol untuk Menyuburkan Tanaman Cabai

Jakarta – Baru-baru ini, sebuah video yang menunjukkan seorang petani mencampurkan paracetamol dan vitamin B kompleks ke dalam air untuk menyiram tanaman cabai menjadi viral di media sosial. Aksi t

Jul 08, 2026 - 00:45
0 1
Kementan Peringatkan Bahaya Penggunaan Paracetamol untuk Menyuburkan Tanaman Cabai

Jakarta – Baru-baru ini, sebuah video yang menunjukkan seorang petani mencampurkan paracetamol dan vitamin B kompleks ke dalam air untuk menyiram tanaman cabai menjadi viral di media sosial. Aksi tersebut diklaim dapat membuat tanaman cabai lebih subur dan tahan terhadap penyakit. Menanggapi hal ini, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat mengeluarkan peringatan keras terkait risiko yang dapat ditimbulkan dari praktik tersebut.

Tidak Ada Kajian Ilmiah yang Mendukung

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kajian resmi di Indonesia yang merekomendasikan penggunaan paracetamol sebagai sarana produksi pertanian. Menurutnya, obat-obatan yang diperuntukkan bagi manusia memiliki formulasi dan dosis yang tidak sesuai untuk tanaman. Jika digunakan secara sembarangan, hal ini justru dapat membawa dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

“Penggunaan obat manusia pada tanaman yang dilakukan secara luas tanpa dasar ilmiah dan tanpa pengawasan memiliki beberapa potensi risiko. Kami mengimbau para petani untuk tidak asal mengikuti tren tanpa bukti ilmiah yang jelas,” ujar Agung dalam keterangannya kepada Beritainti.com.

Potensi Bahaya yang Mengintai

Setidaknya terdapat dua risiko utama yang disoroti oleh Kementan. Pertama, penggunaan paracetamol pada tanaman dapat menimbulkan residu senyawa farmasi di lingkungan. Residu tersebut berpotensi mencemari tanah dan air, serta dapat masuk ke dalam rantai pangan apabila produk pertanian tersebut dikonsumsi. Dalam jangka panjang, akumulasi residu obat di dalam tubuh manusia dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk resistensi terhadap obat tertentu.

Kedua, paparan senyawa kimia non-hara ini dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme tanah. Padahal, mikroorganisme tersebut berperan vital dalam menjaga kesuburan alami tanah dan membantu penyerapan nutrisi oleh tanaman. Terganggunya ekosistem tanah ini justru bisa menurunkan produktivitas lahan secara perlahan.

Selain itu, penggunaan obat manusia pada tanaman juga menyalahi aturan penggunaan pestisida dan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sudah terdaftar dan melalui uji keamanan oleh otoritas terkait. Kementan menekankan pentingnya menggunakan produk-produk yang telah mendapatkan izin edar dan terbukti aman bagi lingkungan serta konsumen.

Melihat fenomena ini, Kementan berencana untuk mengintensifkan penyuluhan kepada petani agar tidak termakan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga diimbau untuk lebih kritis terhadap konten pertanian yang beredar di media sosial dan selalu merujuk pada rekomendasi dari dinas pertanian setempat.

Sementara itu, para ahli pertanian ikut menyuarakan keprihatinan serupa. Mereka mengingatkan bahwa tanaman bukanlah mesin yang bisa menyerap segala jenis zat untuk tumbuh subur; nutrisi tanaman sudah diformulasikan secara khusus melalui pupuk dan suplemen yang tepat. “Apa yang berlaku untuk manusia belum tentu aman bagi tanaman. Jangan karena viral, lantas dicoba tanpa riset,” kata seorang pakar agronomi yang dihubungi secara terpisah.

Beritainti.com akan terus memantau perkembangan isu ini dan menyajikan informasi akurat seputar inovasi pertanian yang aman dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Fact Checker. Memverifikasi berita ringkas agar tetap akurat.

Comments (0)

User