Jakarta — Sesi Pertama Perdagangan, IHSG Ditutup Melemah ke 6.734

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), di zona merah dengan penurunan cukup tajam. Bursa Efek I

Jul 08, 2026 - 03:01
0 0
Jakarta — Sesi Pertama Perdagangan, IHSG Ditutup Melemah ke 6.734

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), di zona merah dengan penurunan cukup tajam. Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG ditutup di level 6.734,52, merosot 112,37 poin atau setara 1,64% dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.846,89. Pelemahan ini terjadi di tengah kecemasan investor terhadap eskalasi ketegangan perdagangan global dan potensi perlambatan ekonomi domestik. Data perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 14,8 miliar saham dengan nilai Rp 7,2 triliun, dan frekuensi sebanyak 876 ribu kali. Sebanyak 341 saham melemah, hanya 172 saham menguat, dan 157 lainnya stagnan. Aksi jual masif oleh investor asing turut memperparah tekanan, tercermin dari net sell asing sebesar Rp 1,3 triliun di pasar reguler.

Katalis Negatif Global dan Domestik

Sentimen negatif utama datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat yang kembali mengancam akan memberlakukan tarif tambahan untuk produk elektronik asal Tiongkok, memicu kekhawatiran trade war jilid baru. Hal ini memukul saham-saham teknologi dan eksportir di Asia, termasuk Indonesia. Selain itu, data inflasi domestik yang dirilis pagi tadi menunjukkan inflasi inti mencapai 3,8% year-on-year pada April 2026 — lebih tinggi dari ekspektasi pasar 3,5% — sehingga meredupkan harapan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia dalam waktu dekat. “Kombinasi inflasi yang membandel dan ketidakpastian eksternal membuat investor cenderung shifting ke aset safe haven, seperti emas dan obligasi pemerintah,” jelas Andrianto Saputra, ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI.

Sektor Keuangan dan Barang Baku Paling Dalam Terkoreksi

Tekanan terberat dialami sektor keuangan dan barang baku. Indeks Sektor Keuangan (IDXFINANCE) ambles 2,1% dipimpin oleh pelemahan saham bank-bank besar seperti BBCA (turun 2,5%) dan BBRI (turun 2,8%) akibat aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Indeks Sektor Barang Baku (IDXBASIC) melemah 2,0% sejalan dengan jatuhnya harga komoditas logam dunia. Hanya sektor energi yang masih mampu bertahan di zona hijau tipis (+0,2%) setelah OPEC+ mengindikasikan kemungkinan penundaan kenaikan produksi. Berikut perbandingan kinerja sektor unggulan sesi pertama hari ini:

SektorPerubahan (%)Sentimen Utama
Keuangan-2,1Aksi ambil untung, ekspektasi suku bunga tinggi
Barang Baku-2,0Harga nikel dan batu bara melemah
Teknologi-1,8Kekhawatiran tarif AS atas produk China
Energi+0,2OPEC+ signal tunda kenaikan output

Pergerakan Saham Individual dan Prospek Sesi Kedua

Saham PT Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pemberat utama IHSG setelah turun 3,1% ke Rp 3.110, menyusul laporan penurunan laba bersih kuartal I-2026 yang lebih dalam dari perkiraan. Di sisi lain, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) justru naik 1,8% setelah mengumumkan rencana ekspansi ke pasar Afrika. Menjelang sesi kedua, pelaku pasar akan mencermati rilis data neraca perdagangan Indonesia dan pidato pejabat Federal Reserve malam ini. Jika data neraca dagang mengecewakan dan The Fed tetap hawkish, IHSG berpotensi menguji level support psikologis 6.700.

Dari sudut teknikal, indikator stochastic oscillator sudah memasuki wilayah jenuh jual sehingga peluang technical rebound di sesi dua terbuka — terutama jika investor domestik memanfaatkan harga murah. Namun, “risiko downside masih dominan apabila foreign outflow terus berlanjut dan belum ada katalis baru yang signifikan,” ujar analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User