Tiongkok Umumkan Kenaikan Harga Bahan Baku Baterai Litium

Pasar kendaraan listrik global kembali dihadapkan pada tekanan biaya. Sejumlah pemasok bahan baku baterai litium di Tiongkok, yang memasok hingga 70 persen

Jul 08, 2026 - 16:24
0 0
Tiongkok Umumkan Kenaikan Harga Bahan Baku Baterai Litium

Pasar kendaraan listrik global kembali dihadapkan pada tekanan biaya. Sejumlah pemasok bahan baku baterai litium di Tiongkok, yang memasok hingga 70 persen kebutuhan global lithium karbonat dan lithium hidroksida, secara resmi mengumumkan kenaikan harga signifikan mulai kuartal ini. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi lonjakan permintaan dari pabrikan sel baterai serta terbatasnya pasokan konsentrat spodumene dari tambang-tambang di Australia dan Afrika. Bagi pelaku industri, ini adalah sinyal bahwa era litium murah yang sempat dinikmati pada awal 2025 telah benar-benar berakhir.

Lonjakan Harga Litium: Dari Tambang ke Kontrak

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Beritainti, harga spot litium karbonat di pelabuhan utama Tiongkok telah bergerak naik 18-22 persen dalam dua bulan terakhir, menembus level CNY 140.000 per ton. Kenaikan ini tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi mulai merembet ke kontrak jangka panjang yang selama ini menjadi andalan produsen baterai besar seperti CATL dan BYD. Beberapa pemasok bahkan mulai menerapkan klausul price adjustment mechanism yang lebih agresif, memungkinkan revisi harga setiap kuartal mengikuti indeks pasar.

“Ini bukan sekadar fluktuasi musiman. Kami melihat pergeseran struktural di sisi pasokan, sementara permintaan dari sektor kendaraan energi baru terus mencetak rekor. Produsen baterai harus bersiap menghadapi biaya input yang lebih tinggi setidaknya hingga akhir 2026,” ujar Li Wei, analis senior di China Automotive Battery Research Institute, dalam wawancara eksklusif dengan Beritainti.

Faktor pemicu utama adalah defisit pasokan konsentrat litium. Tambang Greenbushes di Australia, yang merupakan salah satu sumber spodumene terbesar dunia, melaporkan penurunan kadar bijih. Sementara itu, beberapa proyek baru di Zimbabwe dan Mali yang diharapkan dapat menambah pasokan justru mengalami penundaan operasional akibat kendala infrastruktur dan regulasi. Di sisi permintaan, Tiongkok sendiri mencatat penjualan kendaraan listrik sebanyak 4,7 juta unit pada semester pertama 2026, naik 34 persen secara tahunan, menurut data Asosiasi Produsen Mobil Tiongkok. Setiap kendaraan listrik rata-rata membutuhkan 40-60 kg litium karbonat ekuivalen, sehingga tekanan terhadap rantai pasok semakin nyata.

Dampak ke Industri Baterai dan Strategi Mitigasi

Kenaikan harga bahan baku ini diperkirakan akan menaikkan biaya produksi sel baterai sebesar 6-8 persen, yang pada akhirnya dapat menggerus margin produsen atau diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga mobil listrik yang lebih tinggi. Namun, para pemain besar telah menyiapkan sejumlah strategi. CATL, misalnya, dikabarkan tengah mempercepat negosiasi untuk mengakuisisi saham minoritas di tambang litium di Argentina, sementara BYD meningkatkan kapasitas daur ulang baterai untuk menekan ketergantungan pada bahan baku primer.

Pasar saham langsung bereaksi. Saham sejumlah pemasok litium Tiongkok seperti Ganfeng Lithium dan Tianqi Lithium mencatatkan penguatan dalam sepekan terakhir, sementara indeks sektor baterai CSI New Energy Vehicle Battery Index menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi. Bagi investor, kenaikan harga ini bisa menjadi pedang bermata dua: menguntungkan perusahaan tambang, namun menekan valuasi produsen baterai yang tidak terlindungi kontrak jangka panjang dengan harga tetap.

Dengan dinamika ini, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah harga akan naik, tetapi seberapa cepat industri dapat beradaptasi. Diversifikasi sumber pasokan, investasi di teknologi baterai natrium-ion yang tak bergantung pada litium, dan efisiensi rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga momentum transisi energi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User