Changan Deepal S05 REEV Tawarkan Daya Jelajah Tinggi
Jakarta — Changan resmi memperkenalkan Deepal S05 REEV (Range-Extended Electric Vehicle) ke pasar Indonesia, mengusung klaim daya jelajah tinggi sebagai ni
Jakarta — Changan resmi memperkenalkan Deepal S05 REEV (Range-Extended Electric Vehicle) ke pasar Indonesia, mengusung klaim daya jelajah tinggi sebagai nilai jual utama. Kehadiran SUV hybrid ini menjadi sinyal bahwa pabrikan Tiongkok tersebut serius menggarap segmen elektrifikasi yang kini mulai memanas, tak hanya di kelas menengah ke atas, namun juga merambah pembeli pragmatis yang masih mengkhawatirkan infrastruktur pengisian daya.
Langkah Changan datang di saat data penjualan kendaraan listrik hibrida di Indonesia menunjukkan pertumbuhan agresif. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat wholesales mobil hybrid dan plug-in hybrid pada kuartal I 2025 melonjak 67,4% secara tahunan (YoY) menjadi 18.320 unit, sementara segmen battery electric vehicle (BEV) murni hanya bertumbuh 12,7%. Angka ini menegaskan bahwa konsumen Indonesia masih mencari jembatan antara efisiensi listrik dan keleluasaan jelajah.
Daya Jelajah yang Menjawab Keraguan Pasar
Deepal S05 REEV mengombinasikan motor listrik bertenaga 160 kW dengan mesin bensin 1.500 cc yang berfungsi murni sebagai generator, tanpa menggerakkan roda secara langsung. Baterai lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 31,7 kWh sanggup menempuh jarak hingga 200 km dalam mode listrik penuh; jika dikombinasikan dengan tangki bensin 50 liter, total jelajah teoritis menembus 1.200 km—setara Jakarta-Surabaya pulang-pergi tanpa berhenti mengisi daya.
“Kami melihat ceruk besar antara konsumen yang ingin merasakan sensasi mobil listrik namun belum siap melepaskan ketergantungan pada SPBU. Deepal S05 REEV menawarkan solusi tanpa kompromi,” ujar Direktur Pemasaran Changan Indonesia, yang kami kutip dari siaran pers (Liputan6.com/Septian Pamungkas).
Dengan spesifikasi tersebut, Changan berani mematok target penjualan 500 unit per bulan pada tahun pertama, menyasar segmen yang selama ini dikuasai oleh Toyota Innova Zenix Hybrid dan Honda CR-V e:PHEV. Harga yang dirumorkan berada di kisaran Rp 450–520 juta membuat Deepal S05 berada tepat di tengah persaingan sengit.
Baca juga: Mengukur Dampak Ekonomi dari Perang Tarif Impor Kendaraan Listrik
Implikasi Ekonomi dan Pasar Komponen Lokal
Masuknya model ini tak hanya berpotensi mengubah peta kompetisi, tetapi juga memiliki efek berganda terhadap rantai pasok dalam negeri. Changan mengklaim telah menggandeng 23 pemasok komponen lokal untuk memenuhi syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40%—sebuah kewajiban yang diatur dalam Perpres 55/2019 guna memperoleh insentif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 0%. Beberapa di antaranya adalah produsen kaca, jok, kabel harness, hingga sistem pendingin asal Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Dari sisi makro, semakin banyaknya kendaraan elektrifikasi yang diadopsi masyarakat bisa menekan beban subsidi energi. Dengan asumsi konsumsi BBM sebuah SUV rata-rata 1 liter per 10 km, substitusi ke hybrid yang menghasilkan efisiensi bahan bakar di atas 70% dapat menghemat sekitar 300–400 liter per kendaraan per tahun—angka yang signifikan jika dikalikan puluhan ribu unit.
Baca juga: Produsen Baterai Lokal Bakal Raup Cuan dari Tren Hybrid
Namun, transisi ini bukan tanpa risiko. Ekonom otomotif dari Universitas Indonesia, Andi Saputra, mengingatkan bahwa maraknya mobil hybrid tanpa pengembangan stasiun pengisian listrik publik yang memadai justru bisa memperlambat adopsi BEV penuh. “Data Kementerian ESDM per Februari 2025 mencatat hanya ada 1.342 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia. Angka ini masih sangat timpang dibanding SPBU yang mencapai 7.500 lokasi. Selama ketimpangan itu belum diatasi, REEV akan tetap lebih realistis bagi pembeli,” jelasnya.
Di sisi lain, serbuan merek Tiongkok seperti Changan, BYD, dan Wuling memaksa agen pemegang merek Jepang untuk mengevaluasi ulang strategi harga dan fitur. Diskon besar-besaran di segmen SUV medium yang marak sejak awal 2025 adalah dampak langsung dari tekanan ini. Konsumen akhir diuntungkan, tetapi margin dealer semakin tipis.
Tekanan itu terlihat dari laporan keuangan beberapa distributor besar yang terdaftar di bursa. PT Astra International Tbk, misalnya, melaporkan penurunan laba bersih divisi otomotif sebesar 5,1% pada semester II 2024 akibat perang harga dan kenaikan biaya promosi. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga paruh kedua 2025.
Dengan segala dinamika di atas, kehadiran Deepal S05 REEV menjadi angin segar sekaligus tantangan bagi industri otomotif nasional. Pabrikan harus terus menyeimbangkan antara inovasi teknologi, harga kompetitif, dan kepatuhan regulasi TKDN agar tetap relevan di tengah disrupsi yang kian deras.
Comments (0)