Jakarta — Kunjungan Modi ke Indonesia Hasilkan Komitmen Investasi USD5 Miliar
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Pertemuan yang b
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Pertemuan yang berlangsung selama dua jam ini menjadi sinyal penguatan poros ekonomi baru di tengah pergeseran rantai pasok global. Kedua pemimpin menyepakati peningkatan target perdagangan bilateral dan membuka pintu bagi aliran investasi baru yang diperkirakan mencapai USD5 miliar dalam dua tahun ke depan, terutama di sektor infrastruktur digital, energi terbarukan, serta manufaktur.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia-India pada 2025 mencapai USD32,1 miliar, naik 5,6% dari USD30,4 miliar di 2024. Indonesia mencatat surplus USD12,9 miliar berkat dominasi ekspor batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan baja. Di sisi investasi, realisasi foreign direct investment (FDI) India ke Indonesia pada 2025 tercatat USD3,2 miliar, didominasi sektor farmasi, otomotif, dan proyek infrastruktur berbasis pembiayaan campuran. Komitmen baru yang digulirkan Modi diharapkan mendongkrak total FDI India menjadi USD5 miliar pada 2026, yang akan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah hubungan kedua negara.
Potensi Aliran Modal dan Implikasi Pasar
Bagi pelaku pasar, kunjungan ini membawa angin segar. Masuknya komitmen investasi asal India berpotensi memperkuat neraca modal dan memberikan bantalan bagi rupiah di tengah ketidakpastian suku bunga global. Saham-saham emiten konstruksi pelat merah seperti WSKT dan PTPP, serta perusahaan energi terbarukan seperti BREN dan PGEO, langsung menguat pada sesi perdagangan pasca-pengumuman. “Investasi India yang masuk ke proyek transisi energi dan digital akan menciptakan multiplier effect pada lapangan kerja dan transfer teknologi. Namun, kita perlu memastikan realisasi tepat waktu karena rekam jejak realisasi FDI India masih fluktuatif,” ujar Ekonom Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky.
Di sisi lain, peningkatan impor produk farmasi dan komponen otomotif dari India—yang menjadi bagian dari paket kerja sama—dapat menekan harga obat di dalam negeri, tetapi berisiko menggerus pangsa pasar produsen farmasi lokal. Asosiasi Farmasi Indonesia (GP Farmasi) menyatakan siap berkompetisi asalkan pemerintah menjaga standar dan insentif bagi produk dalam negeri.
Perbandingan Capaian dan Target Perdagangan Bilateral
| Indikator | 2024 | 2025 | Target 2026 |
|---|---|---|---|
| Total Perdagangan (USD miliar) | 30,4 | 32,1 | 35,0 |
| Ekspor Indonesia ke India (USD miliar) | 21,2 | 22,5 | 24,0 |
| Impor Indonesia dari India (USD miliar) | 9,2 | 9,6 | 11,0 |
| FDI India ke Indonesia (USD miliar) | 2,8 | 3,2 | 5,0 |
Termasuk komitmen baru pasca-pertemuan
Sektor Unggulan dan Daya Saing Indonesia
Dari struktur ekspor, batu bara dan CPO masih menjadi tulang punggung surplus Indonesia ke India. Pemerintah mendorong diversifikasi ekspor non-migas, terutama produk manufaktur berteknologi menengah seperti komponen elektronik dan kendaraan listrik. India, sebagai salah satu pasar konsumen terbesar dunia, membuka akses preferensi bagi produk Indonesia melalui mekanisme ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) yang tengah direnegosiasi. Di saat bersamaan, Indonesia akan memanfaatkan keahlian India di bidang farmasi dan teknologi informasi untuk mendukung hilirisasi industri kesehatan dan pengembangan pusat data nasional.
Rencana investasi baru ini mencakup pembangunan pabrik obat oncologi di Kawasan Industri Terpadu Batang senilai USD1,2 miliar, ekspansi pusat riset dan pengembangan digital oleh konglomerat teknologi India di Nusantara, serta proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 500 MW di Jawa Barat. Jika terealisasi penuh, proyek-proyek ini dapat menciptakan lebih dari 15.000 lapangan kerja langsung.
Kunjungan Modi menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi atraktif di Asia Tenggara, dengan fundamental ekonomi yang stabil, permintaan domestik kuat, dan arah kebijakan hilirisasi yang jelas. Kini pasar menanti realisasi di lapangan, karena sejarah mencatat bahwa komitmen investasi akan diuji oleh konsistensi regulasi dan kemudahan berusaha di daerah.
Comments (0)