Jakarta — Di balik gemerlap ibu kota, ada satu ancaman bisu yang
Penelitian yang dipaparkan oleh Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K), menunjukkan bahwa 13,3 persen
Penelitian yang dipaparkan oleh Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K), menunjukkan bahwa 13,3 persen anak yang secara visual tampak sehat dan beraktivitas normal di Jakarta, faktanya mengalami penurunan fungsi paru-paru hanya dalam kurun waktu enam bulan. Ini bukan soal rawat inap, melainkan soal penyusutan human capital secara perlahan.
PM2.5 dan Krisis Turunan Sumber Daya Manusia
Dari sudut pandang ekonomi, penelitian ini mengonfirmasi korelasi langsung antara kadar partikulat PM2.5 dengan gangguan fungsi pernapasan. PM2.5 adalah partikel udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang mampu menembus aliran darah. Bagi seorang analis pasar, data ini ibarat grafik penurunan kinerja aset jangka panjang. Ketika fungsi paru-paru anak-anak terhambat, mereka lebih rentan terhadap penyakit kronis, absen dari sekolah, dan pada akhirnya mengalami penurunan produktivitas di masa produktif mereka."Semakin tinggi kadar partikulat PM2.5 di suatu lingkungan, semakin besar pula gangguan fungsi paru-paru yang kami temukan. Ini bukan sekadar batuk atau pilek, melainkan restriksi permanen pada kapasitas aerobik anak," papar dr. Cynthia Centauri dalam sesi wawancara virtual, mengonfirmasi temuan yang mengejutkan banyak pihak.
Comments (0)