Harga Telur Terus Anjlok, Peternak Ayam Petelur Menjerit
Kabupaten Bogor — Kalangan peternak ayam petelur di wilayah Kabupaten Bogor dan sekitarnya saat ini tengah dihadapkan pada situasi yang sangat memprihatinkan. Tekanan ekonomi kian menghimpit lantar
Kabupaten Bogor — Kalangan peternak ayam petelur di wilayah Kabupaten Bogor dan sekitarnya saat ini tengah dihadapkan pada situasi yang sangat memprihatinkan. Tekanan ekonomi kian menghimpit lantaran mereka harus berjibaku dengan dua masalah besar yang datang bersamaan: melonjaknya harga pakan ternak dan anjloknya harga jual telur di pasaran. Kondisi ini membuat banyak peternak menjerit lantaran pendapatan yang terus tergerus, sementara biaya operasional harian terus membengkak.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, harga telur ayam dalam beberapa pekan terakhir terus bergerak turun. Di tingkat peternak, telur kini dihargai sangat rendah, bahkan di bawah biaya produksi. Salah satu peternak di kawasan Cijeruk menyebut harga jual telur saat ini tidak lagi menutupi ongkos pakan, listrik, vaksin, dan tenaga kerja. Di sisi lain, harga jagung giling dan konsentrat sebagai bahan baku utama pakan tidak kunjung menunjukkan tren penurunan. Alhasil, selisih antara pengeluaran dan pemasukan semakin melebar, memaksa sebagian peternak untuk mengurangi populasi ayam atau bahkan gulung tikar.
"Kami seperti terhimpit dari dua arah. Pakan mahal, telur murah. Setiap hari kami merugi, tetapi tidak mungkin berhenti mendadak karena ternak ini butuh perawatan terus-menerus," ujar seorang peternak saat ditemui di lokasi kandangnya, Jumat lalu.
Para peternak menilai bahwa salah satu pemicu anjloknya harga telur adalah banjirnya pasokan dari daerah-daerah sentra lain yang juga mengalami kelebihan produksi, sementara permintaan dari pasar justru stagnan. Tidak adanya pembatasan distribusi dan minimnya penyerapan oleh program pemerintah semakin memperparah keadaan. Di tingkat konsumen, harga yang murah memang menguntungkan, tetapi di balik itu semua, keberlangsungan usaha peternakan rakyat di Bogor berada di ujung tanduk.
Asosiasi peternak setempat berharap ada intervensi cepat dari pemerintah daerah dan pusat, baik berupa subsidi pakan, stabilisasi harga telur, maupun program wajib serap telur oleh pelaku usaha olahan pangan. Mereka juga meminta agar ada kebijakan pengaturan populasi ayam petelur agar pasokan di pasar lebih terkendali.
Tanpa adanya langkah konkret, bukan tidak mungkin dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi gelombang pemutusan tenaga kerja kandang dan penurunan drastis jumlah ayam petelur, yang dalam jangka panjang justru akan membalikkan keadaan menjadi kelangkaan dan lonjakan harga di masa mendatang. Saat ini, jeritan peternak kian nyaring, berharap pemerintah tak tinggal diam melihat nasib mereka yang kian terpuruk.
Comments (0)