Beritainti — Jakarta
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan berakhirnya gencatan senjata, dii
Dari Diplomasi ke Serangan: Kronologi Singkat
Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pernyataan Trump, Pentagon mengonfirmasi bahwa pesawat tempur dan drone AS membombardir 80 target di dalam wilayah Iran—termasuk fasilitas komando IRGC, pusat logistik, serta sejumlah instalasi rudal. Sumber intelijen regional menyebut serangan ini merupakan respons atas upaya Iran memperkaya uranium dan serangan proksi di Timur Tengah. Media pemerintah Iran melaporkan seorang perwira IRGC berpangkat kolonel tewas bersama sejumlah personel militer lainnya.Secara paralel, IRGC melancarkan aksi balasan dengan menembakkan rudal ke kapal-kapal komersial di perairan internasional dekat Selat Hormuz—jalur pelayaran yang memikul sekitar 20% dari total perdagangan minyak global. Operator pelayaran dan perusahaan asuransi segera menaikkan tingkat risiko, sehingga biaya pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia dan Eropa naik antara 150% hingga 200% dalam hitungan jam.
Dampak Langsung pada Harga Minyak Mentah
Kenaikan premi risiko perang langsung terlihat di bursa komoditas. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melonjak 11,4% ke level $96,70 per barel pada pukul 09:30 WIB, tertinggi sejak 2022. Minyak WTI AS pun melompat 9,8% menjadi $93,15 per barel. Analis energi memperkirakan penutupan parsial Selat Hormuz akan menambah gangguan pasokan hingga 2–3 juta barel per hari, setara dengan defisit yang bisa mengerek harga minyak ke atas $120 per barel dalam dua pekan ke depan.
"Pasar saat ini sedang memperhitungkan skenario terburuk, yaitu blokade total Selat Hormuz. Kami belum pernah melihat volatilitas seperti ini sejak invasi Irak ke Kuwait tahun 1990," ujar Ekonom Senior DBS Bank, Radhika Rao, dalam catatan risetnya.
Kondisi tersebut secara langsung mendorong kembali inflasi energi yang baru saja mereda. Tim riset Bloomberg Economics menghitung lonjakan minyak ke $100 per barel selama tiga bulan akan menambah tekanan inflasi global hingga 0,7 poin persentase pada akhir 2025, sekaligus menurunkan pertumbuhan PDB dunia sebesar 0,3%—0,5% akibat pelemahan konsumsi dan kenaikan biaya produksi.
Indeks Saham Asia-Pasifik Melemah, Safe Haven Menguat
- Indeks Nikkei 225 (Jepang): -3,4% ke level 33.650
- Indeks Kospi (Korea Selatan): -2,9%
- Indeks Hang Seng (Hong Kong): -2,1%
- Indeks STI (Singapura): -2,6%
- IHSG (Indonesia): -1,7% ke 6.580, terutama terseret pelemahan rupiah dan sektor transportasi energi
Di sisi lain, instrumen safe haven diburu investor. Harga emas spot naik 2,1% ke level $2.478 per ons, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 12 basis poin ke 3,98% seiring peningkatan permintaan aset rendah risiko.
Dampak ke Perekonomian Domestik Indonesia
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, APBN berpotensi mendapatkan tambahan penerimaan dari sektor migas dan pajak ekspor komoditas energi. Namun, di sisi lain, beban subsidi energi akan melonjak bila harga minyak mentah Indonesia (ICP) tetap tinggi di atas asumsi makro APBN 2025 yang sebesar $80 per barel. Kementerian Keuangan memperkirakan setiap kenaikan ICP $10/barel di atas asumsi akan menambah beban subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 45 triliun dalam setahun.
Rupiah turut terdepresiasi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada sesi pagi melemah 0,9% ke level Rp 16.250 per dolar, dipicu keluarnya modal asing dari pasar obligasi dan saham domestik. Bank Indonesia diantisipasi akan menggelar operasi moneter ganda untuk menahan volatilitas.
Prospek Ketenagakerjaan dan Sektor Riil
Gelombang ketidakpastian ini berpotensi menunda rencana ekspansi usaha di sektor manufaktur yang bergantung pada energi, seperti petrokimia, semen, dan tekstil. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan kenaikan biaya energi sebesar 20 persen dapat menghilangkan hingga 150.000 lapangan kerja di sektor padat energi jika eskalasi terus berlanjut selama enam bulan ke depan. Sektor logistik dan pelayaran domestik yang mengandalkan BBM bersubsidi juga akan terpukul bila kuota subsidi tidak dinaikkan.
Pemerintah dan pelaku pasar kini menantikan langkah diplomatik dari negara-negara anggota OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) untuk meredam gejolak pasokan. Rapat darurat Dewan Ekonomi Nasional juga dijadwalkan Rabu esok untuk mengkaji opsi penyesuaian subsidi dan strategi devisa.
Dengan tensi militer yang masih tinggi dan belum ada tanda-tanda de-eskalasi, investor di seluruh dunia bersiap menghadapi pekan penuh turbulensi—menjadikan perkembangan di Selat Hormuz sebagai indikator paling krusial dalam pergerakan harga aset global hari ini.
Comments (0)