Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan

Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan

Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan

Profil Singkat

Herman Deru lahir di Desa Tanjung Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur pada 17 November 1964. Ia menamatkan pendidikan tinggi di Universitas Baturaja sebelum merintis karier sebagai pengusaha sekaligus politikus lokal. Sebelum menjabat Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru memimpin Kabupaten OKU Timur selama dua periode (2005–2010 dan 2010–2015). Pada Pilkada Sumsel 2018, ia berpasangan dengan Mawardi Yahya dan memenangkan kontestasi dengan perolehan suara 35,96 persen, mengalahkan tiga pasangan calon lainnya.

Karier dan Riwayat Jabatan

Sebelum menduduki kursi Gubernur Sumsel periode 2018–2023, Herman Deru memiliki rekam jejak panjang di birokrasi dan politik lokal. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD OKU Timur, Ketua DPC Partai NasDem OKU Timur, hingga Bupati OKU Timur dua periode. Di bawah kepemimpinannya, OKU Timur mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 5 persen—melampaui capaian Provinsi Sumatera Selatan kala itu. Seusai masa jabatan gubernur, ia kembali mencalonkan diri dalam Pilkada 2024 berpasangan dengan Cik Ujang dan berhasil memenangkan kontestasi, mengantarkannya kembali memimpin Sumsel untuk periode 2025–2030.

Kinerja dan Program Unggulan

Periode pertama Herman Deru sebagai Gubernur Sumatera Selatan diwarnai tekanan pandemi Covid-19 yang memukul perekonomian daerah. Meski demikian, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumsel atas dasar harga berlaku mencapai Rp 491,99 triliun pada 2022, menjadikan Sumsel sebagai provinsi dengan perekonomian terbesar kelima di luar Jawa, setelah Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Pada pertengahan 2025, laju pertumbuhan ekonomi Sumsel berada di kisaran 4,5–4,9 persen secara tahunan.

Salah satu program unggulan yang menjadi andalan Herman Deru adalah hilirisasi komoditas perkebunan dan tambang. Sumsel merupakan produsen karet terbesar nasional dengan kontribusi 26 persen terhadap total produksi Indonesia pada 2023, namun selama bertahun-tahun komoditas ini diekspor dalam bentuk bahan mentah. Herman Deru mendorong pembangunan pabrik pengolahan crumb rubber berstandar internasional serta memperkuat posisi tawar petani melalui skema kemitraan inti-plasma. Pada 2026, terdapat tambahan dua unit pabrik pengolahan karet di Kabupaten Musi Rawas dan Ogan Ilir yang menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja langsung.

Program Sumsel Mandiri Pangan juga menjadi prioritas. Produksi padi Sumsel mencapai 2,8 juta ton gabah kering giling pada 2024, menempatkan provinsi ini sebagai lumbung padi ketiga nasional setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Herman Deru memperluas areal tanam melalui optimalisasi rawa lebak seluas 350.000 hektare. Ia juga menggulirkan program Satu Desa Satu Embung untuk mengantisipasi kekeringan akibat perubahan iklim, dengan realisasi lebih dari 1.200 embung hingga Maret 2026.

Kunci ketahanan pangan bukan hanya produksi, tetapi distribusi dan harga yang adil bagi petani.

Di sektor infrastruktur, pembangunan Jalan Tol Kayuagung–Palembang–Betung (Kapal Betung) sepanjang 111,7 kilometer terus didorong penyelesaiannya. Hingga kuartal pertama 2026, progres konstruksi mencapai 73 persen. Jalan tol ini diharapkan memangkas waktu tempuh dari Palembang ke Lampung hingga 2,5 jam dan memperkuat konektivitas Trans-Sumatera. Selain itu, Herman Deru menginisiasi revitalisasi Pelabuhan Tanjung Api-Api sebagai pintu ekspor baru bagi komoditas Sumsel.

Kinerja penurunan kemiskinan menjadi sorotan. Tingkat kemiskinan Sumsel pada September 2025 tercatat 10,28 persen, turun 0,53 poin persentase dibanding posisi Maret 2024. Namun angka ini masih di atas rata-rata nasional 9,01 persen, menunjukkan PR besar yang belum tuntas. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumsel mencapai 72,48 pada 2025 (kategori tinggi), naik dari 70,01 pada 2020, didorong oleh peningkatan rata-rata lama sekolah menjadi 8,5 tahun.

Tantangan dan Harapan

Tantangan struktural yang dihadapi Herman Deru di periode kedua adalah transformasi ekonomi dari basis ekstraktif menuju industri pengolahan bernilai tambah. Ketergantungan pada batu bara masih tinggi—pertambangan dan penggalian menyumbang 14,3 persen PDRB Sumsel 2024—sehingga fluktuasi harga komoditas global berdampak langsung pada perekonomian daerah. Dibandingkan Sumatera Barat yang sukses mengembangkan sektor jasa dan pariwisata (kontribusi 58 persen terhadap PDRB), Sumsel masih berkutat pada pola lama.

Isu lingkungan juga mendesak. Alih fungsi lahan gambut untuk perkebunan dan kebakaran hutan tahunan menjadi catatan negatif. Herman Deru perlu memperkuat implementasi Peraturan Gubernur tentang restorasi gambut dan memastikan penegakan hukum terhadap korporasi pembakar lahan. Tekanan dari pasar global terhadap produk sawit dan karet berkelanjutan juga menuntut sertifikasi yang lebih masif.

Dengan dimulainya periode kedua, harapan publik tertumpu pada konsistensi hilirisasi, perbaikan tata kelola anggaran, dan penguatan sektor pertanian berkelanjutan. Jika Herman Deru mampu mengeksekusi agenda strategis tanpa terjebak politik transaksional, Sumatera Selatan berpeluang menjadi motor ekonomi baru di luar Jawa pada akhir dekade ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User