FAO Proyeksikan Surplus Gula Global pada 2025/2026, Asia Jadi Motor Penggerak

Jakarta - Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) merilis proyeksi terbaru yang cukup mengejutkan bagi pasar komoditas global. Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO

Jul 08, 2026 - 00:44
0 1
FAO Proyeksikan Surplus Gula Global pada 2025/2026, Asia Jadi Motor Penggerak

Jakarta - Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) merilis proyeksi terbaru yang cukup mengejutkan bagi pasar komoditas global. Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memperkirakan produksi gula dunia bakal mengalami kelebihan pasokan atau surplus yang signifikan pada periode 2025/2026. Diprediksi, produksi gula secara global akan mencapai angka 183,2 juta ton, melonjak tajam hingga 3,5% jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Asia Menjadi Motor Penggerak Lonjakan Produksi

Berdasarkan laporan yang dikutip Beritainti.com, Jumat (19/6/2026), lonjakan produksi yang cukup signifikan ini utamanya ditopang oleh kinerja luar biasa dari negara-negara produsen utama di kawasan Asia. Meningkatnya hasil panen tebu di India, Thailand, dan Tiongkok menjadi katalis utama di balik besarnya volume produksi gula dunia. Faktor cuaca yang mendukung, perluasan lahan tanam, serta penerapan teknologi pertanian yang lebih efisien disebut-sebut menjadi kombinasi ampuh yang mendorong produktivitas di wilayah ini. Dengan tren tersebut, kawasan Asia semakin mengukuhkan posisinya sebagai penentu arah neraca gula global, memasok kebutuhan tidak hanya untuk pasar domestik yang besar, tetapi juga menambah volume signifikan untuk pasokan ekspor.

Penurunan Konsumsi Global dan Dampak Surplus

Di sisi lain, proyeksi surplus tidak hanya dipicu oleh ledakan produksi. Laporan tersebut juga mengidentifikasi tren menurunnya konsumsi gula secara global sebagai faktor penyeimbang. Pergeseran pola konsumsi masyarakat dunia menuju gaya hidup yang lebih sehat, kebijakan cukai minuman berpemanis di berbagai negara maju dan berkembang, serta melambatnya permintaan dari sektor industri olahan, turut menekan laju konsumsi. Alhasil, kombinasi antara suplai yang melimpah dan permintaan yang melemah menciptakan kondisi pasar yang 'kebanjiran' gula. Meskipun menjadi kabar baik bagi industri pengguna gula seperti sektor minuman dan makanan ringan, kondisi surplus ini berpotensi menekan harga gula internasional di level petani dan produsen di beberapa negara eksportir, yang mungkin memerlukan intervensi kebijakan untuk menstabilkan pendapatan mereka.

"Lonjakan (produksi gula) ini utamanya didorong oleh meningkatnya hasil panen di negara-negara produsen utama di Asia," tulis laporan tersebut.

Dengan potensi banjir pasokan ini, para analis memperkirakan volatilitas harga akan menjadi perhatian utama di bursa komoditas. Pasar menanti bagaimana negara-negara produsen utama akan mengelola stok yang berlimpah. FAO melalui publikasi terkininya ini memberikan sinyal bagi para pemangku kepentingan di industri gula untuk bersiap menghadapi dinamika pasar yang lebih kompleks sepanjang 2025/2026. Apakah surplus ini akan mendorong alokasi lebih besar untuk produksi bioetanol atau justru memicu perang harga antar produsen, masih menjadi pertanyaan besar yang akan terjawab dalam beberapa bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Pelaksana. Editor pelaksana dan konsistensi editorial.

Comments (0)

User