Elektrifikasi KRL Green Line Ditarget Rampung 2027

Beritainti.com, Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan proyek peningkatan daya listrik aliran atas (LAA) atau elektrifikasi jalur KRL Tanah Abang–Rangkasbitung, yang dikenal s

Jul 08, 2026 - 00:20
0 1
Elektrifikasi KRL Green Line Ditarget Rampung 2027

Beritainti.com, Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan proyek peningkatan daya listrik aliran atas (LAA) atau elektrifikasi jalur KRL Tanah Abang–Rangkasbitung, yang dikenal sebagai Green Line, dapat rampung pada tahun 2027. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan kapasitas, keandalan, dan kenyamanan layanan kereta rel listrik di Jabodetabek, sekaligus mengurangi ketergantungan pada moda transportasi berbasis energi fosil.

Proyek elektrifikasi ini akan menyentuh seluruh koridor sepanjang sekitar 75 kilometer yang menghubungkan Stasiun Tanah Abang di Jakarta Pusat hingga Stasiun Rangkasbitung di Kabupaten Lebak, Banten. Saat ini, jalur tersebut sudah melayani perjalanan KRL, namun sistem kelistrikan yang ada belum sepenuhnya mampu mendukung operasional dengan frekuensi tinggi dan rangkaian kereta yang lebih panjang. Dengan peningkatan daya LAA, kapasitas hantar listrik diharapkan meningkat signifikan sehingga memungkinkan penambahan jumlah perjalanan dan mengurangi waktu tunggu antar kereta (headway).

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub belum lama ini menyampaikan optimisme bahwa pengerjaan fisik akan berjalan sesuai jadwal, setelah tahap perencanaan dan pembebasan lahan dituntaskan paling lambat akhir 2025. Adapun pendanaan proyek ini bersumber dari APBN dan skema pinjaman luar negeri, dengan perkiraan total investasi mencapai lebih dari Rp4 triliun. Selain membangun tiang dan kabel LAA baru, paket pekerjaan juga mencakup pembangunan gardu listrik tambahan serta modernisasi sistem proteksi dan kendali jaringan.

"Proyek ini adalah lompatan penting untuk menjadikan angkutan massal berbasis rel makin andal. Green Line yang terkoneksi langsung dengan pusat Jakarta akan menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat koridor barat," ujar seorang pejabat Kemenhub kepada media kami pada Senin (hari ini).

Elektrifikasi penuh di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung sekaligus akan mengakhiri operasi kereta yang masih menggunakan genset atau sistem kelistrikan temporer di beberapa titik. Selama ini, keterbatasan daya di segmen tertentu membuat perjalanan KRL harus diatur sedemikian rupa sehingga kapasitas angkut belum optimal. Dengan pasokan listrik yang stabil dan merata, frekuensi KRL pada jam sibuk dapat ditingkatkan dari sembilan menit menjadi lima menit, serta rangkaian bisa diperpanjang dari delapan menjadi 12 gerbong.

Dari sisi lingkungan, proyek ini juga akan menekan emisi karbon karena mengurangi penggunaan bus pengumpan berbahan bakar solar di sekitar stasiun. Sejalan dengan komitmen Indonesia menuju net zero emission 2060, elektrifikasi perkeretaapian menjadi salah satu program prioritas nasional yang juga didukung oleh Kementerian ESDM dan PLN. Pasokan listrik untuk LAA akan disuplai dari jaringan transmisi utama dan ditopang oleh pembangkit energi baru terbarukan di Jawa bagian barat.

Masyarakat di sepanjang koridor, khususnya di Tangerang Selatan, Serpong, Parung Panjang, hingga Rangkasbitung, menyambut baik rencana ini. Mereka berharap peningkatan layanan KRL bisa memangkas waktu tempuh, mengurangi kemacetan jalan, dan menawarkan tarif yang tetap terjangkau. Seorang pengguna KRL reguler yang ditemui media kami di Stasiun Tanah Abang mengatakan, “Kalau kereta makin sering dan nggak penuh sesak, saya pasti lebih nyaman. Apalagi kalau bisa lebih cepat sampai rumah.”

Kemenhub memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, operator KAI Commuter, dan kontraktor pelaksana agar proyek ini tidak mengganggu operasional harian KRL. Manajemen rekayasa lalu lintas kereta akan diterapkan selama masa konstruksi, termasuk kemungkinan pengalihan rute atau pengurangan perjalanan sementara di malam hari. Meski demikian, pemerintah berkomitmen agar dampak terhadap penumpang diminimalkan.

Jika target 2027 tercapai, Green Line akan menjadi lintas KRL kedua yang sepenuhnya elektrifikasi dengan standar modern setelah jalur Jakarta–Bogor–Depok–Bekasi. Capaian ini akan memperkuat integrasi antarmoda di kawasan aglomerasi dan mendorong lebih banyak warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Pemerintah berharap proyek serupa dapat direplikasi pada koridor KRL lainnya di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Editor Politik. Editor ringkasan kebijakan dan pemilu.

Comments (0)

User