Dolar AS Tembus Rp17.967, Rupiah Kian Tertekan di Awal Perdagangan
Jakarta - Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (25/6/2026), nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan penguatan signifikan da
Jakarta - Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (25/6/2026), nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan penguatan signifikan dan nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000. Posisi ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan masih kuatnya dominasi mata uang Paman Sam di pasar global.
Berdasarkan data yang dihimpun media kami dari terminal Bloomberg, pada pukul 09.05 WIB dolar AS diperdagangkan di level Rp17.967. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 15 poin atau setara 0,08% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Pergerakan ini memperpanjang tren apresiasi dolar AS yang telah berlangsung sejak awal pekan di tengah sentimen hawkish dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
"Mata uang Paman Sam terus menunjukkan taringnya terhadap rupiah. Level Rp17.967 ini hanya berjarak tipis dari batas psikologis Rp18.000 yang menjadi kekhawatiran pelaku pasar," demikian catatan riset yang diterima redaksi.
Pelemahan rupiah kali ini tidak terjadi dalam isolasi. Laporan dari pasar valuta asing menunjukkan bahwa pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia juga terpantau bervariasi, namun kecenderungan menguat tetap terlihat jelas. Dolar AS berhasil membukukan penguatan terhadap dolar Kanada, dolar Hong Kong, dan won Korea Selatan. Ini mengindikasikan bahwa faktor eksternal, terutama ekspektasi kebijakan moneter AS yang ketat, menjadi pendorong utama rally dolar kali ini.
Penguatan indeks dolar AS (DXY) secara keseluruhan mencerminkan preferensi investor global terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi ini secara langsung menambah beban bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Pelaku pasar kini menantikan langkah Bank Indonesia dalam merespons tekanan ini, mengingat level Rp18.000 secara psikologis dapat memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas nilai tukar dan potensi inflasi impor di dalam negeri.
Comments (0)