China Usulkan Kawasan Konservasi Laut Antartika di Laut Bernama Soviet

Beijing kembali mencuri perhatian dalam arena diplomasi global. Kali ini bukan soal tarif dagang atau teknologi, melainkan langkah kontroversial di kawasan

Oct 07, 2026 - 09:25
0 0
China Usulkan Kawasan Konservasi Laut Antartika di Laut Bernama Soviet

Beijing kembali mencuri perhatian dalam arena diplomasi global. Kali ini bukan soal tarif dagang atau teknologi, melainkan langkah kontroversial di kawasan paling terpencil di Bumi: Antartika. Dokumen eksklusif yang diperoleh Daily Maverick mengungkap bahwa Tiongkok mengajukan proposal pembentukan kawasan perlindungan laut atau marine protected area (MPA) seluas 127.000 km² di perairan yang secara historis dinamai berdasarkan ekspedisi Soviet.

Proposal ini mengejutkan banyak pihak karena datang dari negara yang selama ini dikenal gigih menolak pembatasan eksploitasi sumber daya di Samudra Selatan. Namun, detail dokumen menunjukkan bahwa di balik narasi konservasi, terdapat kompromi yang mengundang tanda tanya: kawasan tersebut tetap membuka pintu bagi penangkapan krill komersial selama sebagian tahun, dan status perlindungannya akan berakhir setelah 20 tahun.

Antara Konservasi dan Kepentingan Komersial

Dalam proposalnya, Tiongkok tampak berupaya menyeimbangkan citra sebagai kekuatan global yang peduli lingkungan dengan kebutuhan industri perikanan krill yang terus tumbuh. Krill, krustasea kecil yang menjadi tulang punggung ekosistem Antartika, merupakan komoditas bernilai tinggi untuk pakan ternak, akuakultur, dan suplemen omega-3.

"Ini adalah manuver diplomatik yang cerdas. Tiongkok ingin terlihat konstruktif, tetapi pada saat yang sama mempertahankan akses ekonomi jangka panjang," ujar seorang pengamat kebijakan kelautan internasional yang enggan disebutkan namanya kepada Daily Maverick.

Yang lebih sensitif, dokumen itu juga menyiratkan bahwa Beijing secara terpisah mendorong perubahan aturan menyeluruh tentang tata kelola perlindungan laut di Samudra Selatan. Jika berhasil, langkah ini bisa mengubah lanskap regulasi yang selama ini dijaga ketat oleh Komisi Konservasi Sumber Daya Hayati Laut Antartika (CCAMLR), badan multilateral yang mengatur perikanan di kawasan tersebut.

Peta Jalan Diplomasi Lingkungan Beijing

Langkah Tiongkok ini bukan tanpa preseden. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing gencar memproyeksikan diri sebagai pemain utama dalam tata kelola global, termasuk isu iklim dan kelautan. Namun, kritik tetap mengalir, terutama dari negara-negara Barat dan organisasi lingkungan, yang menilai komitmen Tiongkok kerap bersifat simbolik dan tidak menyentuh akar persoalan eksploitasi.

Beberapa analis menilai proposal ini juga bisa dibaca sebagai strategi untuk membangun koalisi dengan negara-negara berkembang yang memiliki kepentingan perikanan serupa. Dengan menawarkan MPA yang “realistis” dan tidak terlalu restriktif, Tiongkok berpotensi menarik dukungan dari negara yang selama ini merasa terpinggirkan dalam negosiasi lingkungan global.

Respons Global dan Prospek Negosiasi

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari CCAMLR maupun pemerintah Selandia Baru dan Australia, dua negara yang paling vokal dalam isu perlindungan Antartika. Namun, diplomat senior dari salah satu negara anggota CCAMLR menyebut proposal ini akan menjadi “uji berat bagi kredibilitas Tiongkok” dalam forum multilateral.

Jika disetujui, kawasan perlindungan ini akan menjadi salah satu MPA terbesar di perairan Antartika. Namun, dengan klausul matahari terbenam otomatis setelah dua dekade, banyak pihak menilai komitmen ini rapuh dan bisa dicabut ketika kepentingan ekonomi berubah.

Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendasar: apakah ini langkah tulus menuju konservasi, atau sekadar taktik untuk melanggengkan akses ekonomi di bawah bendera perlindungan lingkungan? Jawabannya akan ditentukan dalam meja perundingan CCAMLR yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User