Badung — Pemkab Badung Apresiasi Pelaksanaan Karya Atma Wedana Desa Adat Kuta
Pelaksanaan upacara keagamaan berskala besar di Bali kini semakin bertransformasi menjadi sarana penguatan solidaritas sosial sekaligus efisiensi ekonomi m
Pelaksanaan upacara keagamaan berskala besar di Bali kini semakin bertransformasi menjadi sarana penguatan solidaritas sosial sekaligus efisiensi ekonomi masyarakat. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan upacara Karya Atma Wedana massal yang digelar oleh krama Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung. Ritual keagamaan yang melibatkan 13 banjar adat ini dihadiri langsung oleh jajaran pejabat tinggi tingkat provinsi dan kabupaten.
Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, dan Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti hadir sebagai upasaksi (saksi ritual) sekaligus mengikuti prosesi sakral Ngastawang. Turut hadir anggota DPRD Badung I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, unsur Tripika Kecamatan Kuta, pimpinan Majelis Desa Adat (MDA), PHDI, serta tokoh adat setempat.
Kronologi dan Urutan Prosesi Upacara
Penyelenggaraan upacara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya massal ini berjalan secara terstruktur melalui tahapan adat yang khidmat:
- Persiapan dan Pengumpulan Data Krama: Seluruh 13 banjar di Desa Adat Kuta mengonsolidasikan warga yang memiliki kewajiban upacara guna mengefisiensikan pembiayaan dan sarana ritual.
- Prosesi Ritual Ngastawang: Jajaran pimpinan daerah bersama para pemangku adat memanjatkan doa bersama memohon kelancaran upacara serta kedamaian bagi para leluhur yang diupacarai.
- Penyerahan Upakara dan Doa Upasaksi: Kehadiran Wagub Giri Prasta dan Bupati Adi Arnawa memberikan legitimasi spiritual dan dukungan moril bagi krama desa.
Efisiensi Ekonomi dan Solidaritas Kolektif
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kemandirian dan semangat gotong royong masyarakat Kuta. Menurutnya, upacara massal memiliki nilai strategis dalam menjaga stabilitas ketahanan finansial keluarga krama desa tanpa mengurangi esensi religiusitas upakara.
"Selain dapat meringankan beban ekonomi krama, pelaksanaan upacara massal yang dikerjakan secara bersama-sama oleh 13 Banjar ini menjadi bukti nyata kekompakan warga dalam merawat adat dan tradisi leluhur," ujar Bupati Adi Arnawa.
Pemerintah Kabupaten Badung secara konsisten mendukung inisiatif keagamaan berbasis kebersamaan karena sejalan dengan visi pelestarian adat di tengah dinamika pariwisata modern.
Pembangunan Infrastruktur dan Kedaulatan Warga Lokal
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menegaskan komitmen kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung dalam penataan wilayah Kuta yang komprehensif. Salah satu fokus modernisasi infrastruktur yang tengah direncanakan adalah integrasi sistem transportasi publik berbasis rel (Trem).
"Masyarakat Kuta harus menjadi tuan di rumahnya sendiri. Kami mendoakan agar pelaksanaan upacara berjalan lancar dan krama Desa Adat Kuta tetap bersatu-padu menanggung suka dan duka," tegas Wagub Giri Prasta.
Poin Strategis Pembangunan dan Pelestarian di Kuta
- Pemberdayaan Warga Lokal: Penguatan SDM lokal agar mampu bersaing dan menguasai sektor ekonomi pariwisata Kuta.
- Penataan Tata Ruang & Transportasi: Proyek moda transportasi Trem guna mengurai kemacetan kawasan destinasi wisata utama.
- Penguatan Lembaga Adat: Soliditas 13 banjar adat menjadi benteng pertahanan kultural Bali dari dampak negatif globalisasi.
Comments (0)