Warga Gandaria Utara Luncurkan Kompos Keliling untuk Reduksi Sampah Organik

Matahari pagi belum tinggi ketika deretan ember hijau besar berbaris di Jalan Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Para ibu rumah tangga dan asisten rumah tang

Warga Gandaria Utara Luncurkan Kompos Keliling untuk Reduksi Sampah Organik

Matahari pagi belum tinggi ketika deretan ember hijau besar berbaris di Jalan Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Para ibu rumah tangga dan asisten rumah tangga bergantian menuangkan sisa sayuran, kulit buah, dan ampas kopi ke dalam wadah yang disediakan. Inilah pemandangan rutin program Kompos Keliling atau Komling, inisiatif warga setempat yang lahir dari keresahan akan gunungan sampah Jakarta. Dimulai pada awal Juli 2026, program ini langsung mencuri perhatian sebagai terobosan pengelolaan sampah dari sumbernya.

Komling, Solusi di Tengah Darurat Sampah Kota

DKI Jakarta setiap harinya menghasilkan sekitar 7.800 ton sampah, dengan sekitar 53% di antaranya merupakan sampah organik dari rumah tangga. Sebagian besar berakhir di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang kondisinya sudah semakin kritis. Melihat realita tersebut, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Gandaria Utara tergerak untuk menciptakan sistem pengumpulan sampah organik secara kolektif dan mobile. Program Komling beroperasi dengan konsep sederhana: warga memilah sampah dapur setiap hari, lalu petugas berkeliling menggunakan motor bak terbuka untuk mengambil sampah tersebut setiap pagi dan sore.

"Kami sadar bahwa permasalahan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Harus ada gerakan akar rumput yang benar-benar menyentuh kebiasaan warga," ujar Retno, Ketua KSM Gandaria Utara, saat ditemui sela kegiatan pengumpulan. "Alhamdulillah, baru dua minggu berjalan, sudah 200 kepala keluarga bergabung. Sampah yang berhasil dialihkan dari TPS mencapai 80 kilogram per hari."

"Bukan tentang beratnya sampah yang kami kumpulkan, tapi tentang perubahan pola pikir bahwa sampah organik itu berharga. Dari rumah, kita bisa menghidupkan tanah," tambah Retno dengan mata berbinar.

Dari Ember Dapur Menjadi Pupuk Bernilai

Sampah organik yang terkumpul tidak sekadar dibuang, melainkan diproses di pusat pengomposan komunal yang berlokasi di lahan fasilitas umum RW setempat. Dengan metode pengomposan aerobik menggunakan bioaktivator lokal, tumpukan sisa makanan itu diubah menjadi kompos matang dalam waktu 3–4 minggu. Hasilnya, setiap bulan KSM Gandaria Utara mampu memproduksi sekitar 200 kilogram kompos berkualitas yang dikemas dalam karung 5 kilogram dan dijual seharga Rp15.000 per kemasan. Dana hasil penjualan kembali digunakan untuk operasional motor pengangkut, insentif petugas, serta pengembangan bank sampah anorganik di wilayah tersebut.

Tak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPS, program ini juga membawa dampak ekonomi mikro. Beberapa warga yang sebelumnya menganggur kini menjadi petugas pengumpul dengan penghasilan bulanan yang cukup membantu. Sementara itu, kompos yang dihasilkan telah diminati oleh komunitas urban farming di Jakarta dan toko tanaman hias di Kebayoran Baru.

Berikut perbandingan dampak antara metode pengelolaan sampah konvensional dan program Komling berdasarkan data awal yang dihimpun KSM:

IndikatorPengelolaan KonvensionalProgram Komling
Sampah organik ke TPS per rumah tangga100% terbuangHanya 20% (residu tidak bisa dikompos)
Biaya pengangkutan ke TPS per bulanDitanggung pemerintahBerkurang signifikan, sebagian dialokasikan untuk operasional Komling
Produk akhirTidak ada, hanya timbunanKompos bernilai ekonomi
Kesadaran warga memilah sampahRendahMeningkat, terbentuk kebiasaan baru
Emisi metana dari landfillTinggiBerkurang drastis karena sampah organik tidak masuk TPS

Rencana Replikasi dan Dukungan Pemerintah

Keberhasilan awal Komling di Gandaria Utara mengundang perhatian Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Kepala Dinas, dalam kunjungannya pada 8 Juli 2026, mengapresiasi inisiatif ini dan berencana menjadikannya sebagai pilot project untuk direplikasi di 44 kecamatan lain di Jakarta. "Model Komling sangat aplikatif dan hemat biaya. Kami akan mendukung dengan penyediaan mesin pencacah dan bimbingan teknis dari UPT Pengelolaan Sampah," ujar perwakilan dinas.

Selain pemerintah, sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) juga mulai melirik. Satu perusahaan startup daur ulang menyatakan kesediaan untuk membantu pengembangan aplikasi pencatatan digital agar partisipasi warga bisa termonitor secara real-time. Dengan begitu, warga bisa mendapatkan poin setiap kali menyetor sampah, yang nantinya bisa ditukar dengan sembako atau pulsa. Gamifikasi semacam ini diharapkan semakin memperluas adopsi program.

Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan konsistensi warga dan mengedukasi mereka tentang jenis sampah organik yang bisa dikompos. Beberapa warga masih mencampur sampah anorganik seperti plastik dan kaca ke dalam ember kompos. Untuk itu, KSM mengadakan sosialisasi rutin setiap akhir pekan dan membagikan stiker panduan pilah sampah di setiap rumah peserta. "Kami ingin semua warga paham, bahwa dari dapur sendiri, kita bisa menjadi bagian dari solusi, bukan masalah," pungkas Retno. Semangat kolektif warga Gandaria Utara ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di depan rumah.

[SOCIAL_TWEET]: Dari dapur sendiri, warga Gandaria Utara sulap sisa makanan jadi kompos dan kurangi 80 kg sampah/hari! Program Komling ini patut dicontoh. 🌱🔄 #Komling #ZeroWaste #JakartaBersih[SOCIAL_TG]: 🌿 Warga Gandaria Utara buat terobosan Komling: petugas keliling ambil sampah organik, olah jadi kompos. Hasilnya? 80 kg sampah tak masuk TPS per hari! Semangat hijau dari akar rumput.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User