Nezar Patria Ingatkan Humas Perkuat Nilai Humanis di Tengah Gempuran AI
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat membawa gelombang perubahan di berbagai sektor, termasuk profesi hubungan masyarakat (humas). Di ten
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat membawa gelombang perubahan di berbagai sektor, termasuk profesi hubungan masyarakat (humas). Di tengah otomatisasi dan analisis data yang kian canggih, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria justru menekankan pentingnya kembali pada akar profesi: nilai-nilai humanis. Dalam acara yang digelar oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) pada 11 Juli 2026, Nezar menyampaikan bahwa secanggih apa pun teknologi, sentuhan manusia tetap menjadi inti dari kerja humas yang autentik.
Momentum Refleksi bagi Praktisi Humas
Nezar Patria hadir sebagai pembicara kunci dalam forum tahunan yang dihadiri oleh lebih dari 500 praktisi humas dari berbagai lembaga pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, hingga konsultan independen. Ia membuka pidatonya dengan sebuah refleksi tajam: "Teknologi bisa menulis siaran pers dalam hitungan detik, menganalisis sentimen publik secara real-time, bahkan menjawab pertanyaan media secara otomatis. Tapi apakah ia bisa menggantikan empati, intuisi, dan kepercayaan yang dibangun manusia?"
"Humas bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pembangun hubungan. Hubungan itu hanya tumbuh dari kejujuran dan pengertian antar manusia, bukan dari algoritma yang dingin," ujar Nezar di hadapan peserta.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik dashboard analitik dan chatbot cerdas, humas tetap perlu mengedepankan kapasitas mendengarkan, memahami keresahan, dan merespons dengan hati. Nezar menambahkan bahwa survei internal Kementerian Komdigi menunjukkan 67% praktisi humas di Indonesia telah menggunakan AI minimal untuk satu fungsi kerja, namun hanya 28% yang merasa tetap mempertahankan pendekatan personal dalam interaksi dengan pemangku kepentingan.
Transformasi Peran di Era Otomatisasi
Data dari Asosiasi Humas Internasional (IPRA) juga mencatat tren serupa secara global. Pada 2025, penggunaan AI generatif di bidang kehumasan melonjak hingga 210% dibandingkan tahun sebelumnya. Tugas-tugas seperti clipping berita, transkrip wawancara, hingga penyusunan draf konten media sosial banyak yang telah otomatis. Namun, sisi lain justru membuka peluang baru bagi humas untuk fokus pada kerja strategis yang membutuhkan kecerdasan emosional tinggi, seperti manajemen krisis, diplomasi korporat, dan community engagement.
Nezar memaparkan tiga pilar yang harus diperkuat humas agar tidak tergerus otomatisasi: empati, agilitas etis, dan literasi digital yang kritis. Empati menjadi fondasi dalam membaca reaksi publik yang tidak selalu bisa diukur dengan metrik kuantitatif. Agilitas etis diperlukan saat berhadapan dengan dilema baru, seperti deepfake atau penyebaran informasi sintetis yang merusak reputasi. Sementara literasi digital kritis menuntut humas tidak sekadar menjadi pengguna pasif AI, melainkan pengawas yang mampu mengaudit bias algoritmik dan memastikan seluruh output tetap sejalan dengan nilai kemanusiaan.
Studi Kasus: Ketika AI Justru Menjadi Bumerang
Beberapa insiden internasional memperkuat argumen Wamenkomdigi. Pada awal 2026, sebuah perusahaan multinasional di sektor keuangan justru mengalami krisis reputasi setelah chatbot humas mereka memberikan jawaban diskriminatif terhadap pertanyaan pelanggan. Kejadian ini membuktikan bahwa tanpa pengawasan manusia, AI dapat memperburuk situasi karena ketidakmampuannya memahami konteks budaya dan emosi yang kompleks.
Di Indonesia sendiri, sebuah badan usaha milik negara sempat menuai kritik karena siaran pers yang dihasilkan mesin terkesan kaku dan tidak menunjukkan empati saat bencana alam. Warganet menilai pernyataan tersebut bagaikan "laporan cuaca tanpa rasa kemanusiaan". Hal ini menggarisbawahi bahwa khalayak memiliki kepekaan tinggi terhadap keaslian pesan.
Untuk memberikan gambaran perbedaan pendekatan, berikut perbandingan sederhana antara humas yang mengandalkan AI tanpa kendali manusia dengan humas yang memadukan keduanya secara seimbang:
| Aspek | Humas dengan AI Minim Kendali | Humas Berbasis Nilai Humanis + AI |
|---|---|---|
| Respons krisis | Cepat namun generik, berisiko salah nada | Cepat dan personal, disesuaikan dengan stakeholder |
| Pemilihan kata | Tergantung korpus data, bisa tidak kontekstual | Dikurasi manusia, bernuansa empati |
| Analisis sentimen | Hanya data kuantitatif | Kuantitatif + wawasan kualitatif dari pengalaman lapangan |
| Keaslian pesan | Terasa buatan, minim emosi | Autentik, human interest tetap kuat |
| Efisiensi operasional | Sangat tinggi | Tinggi, namun tetap ada investasi pada human resources |
Nezar Patria menegaskan pemerintah akan mendorong pelatihan-pelatihan yang memadukan pemanfaatan AI dengan penguatan soft skill humanis. Kementerian Komdigi, lanjutnya, tengah menyusun modul etika AI untuk profesi humas yang akan diluncurkan akhir tahun ini. "Kita ingin mencetak praktisi humas yang adaptif terhadap teknologi, tapi tidak kehilangan jati dirinya sebagai manusia," pungkasnya.
Pesan ini mendapat respons positif dari peserta. Ketua Umum Perhumas, dalam sesi panel, menyatakan akan memasukkan kurikulum literasi AI berperspektif humanis dalam sertifikasi profesi humas mulai 2027. Langkah konkret ini menjadi angin segar bagi masa depan humas Indonesia yang bukan sekadar juru bicara, melainkan penjaga kepercayaan publik di era disrupsi digital.
[SOCIAL_TWEET]: "AI bisa tulis rilis dalam detik, tapi nggak bisa gantikan empati," ujar Wamenkomdigi Nezar Patria. Ia ingatkan humas perkuat sisi manusiawi agar tetap relevan. 🤖❤️ #HumasHumanis #AI #Perhumas[SOCIAL_TG]: 📢 Wamenkomdigi Nezar Patria: Humas harus perkuat empati dan etika di era AI. Jangan sampai krisis reputasi gara-gara terlalu percaya robot! 🔍 Baca selengkapnya.
Comments (0)