Van de Ven: Pahlawan Lalu Penalti Tragis di Final Super Cup
UDINE — Bluenergy Stadium menjadi saksi drama roller coaster yang menghantam bek tengah Tottenham Hotspur, Micky van de Ven, pada final UEFA Super Cup 2025, Rabu (13/08/2025) waktu setempat. Dalam l...
UDINE — Bluenergy Stadium menjadi saksi drama roller coaster yang menghantam bek tengah Tottenham Hotspur, Micky van de Ven, pada final UEFA Super Cup 2025, Rabu (13/08/2025) waktu setempat. Dalam laga yang berakhir dramatis melawan Paris Saint-Germain, nama Van de Ven sempat bersinar sebagai pembuka keunggulan, sebelum akhirnya terjatuh dalam adu penalti yang menentukan. Skor akhir 5-4 untuk PSG melalui tos-to-san, setelah 90 menit dan tambahan waktu berakhir imbang 2-2.
Menit ke-39: Bek Tengah yang Menjadi Penyerang
Menit ke-39, Tottenham mendapatkan sepak pojok dari sisi kanan. Son Heung-min mengirim umpan lambung ke tiang jauh, di mana Van de Ven berdiri tanpa pengawalan ketat. Dengan penyelesaian tenang menggunakan kaki kirinya, ia mencetak gol pembuka. Shots on target Tottenham saat itu baru dua, dan satu di antaranya lahir dari kaki seorang bek tengah yang naik ke kotak penalti. Formasi 4-3-3 yang diterapkan pelatih Ange Postecoglou memang memberikan kebebasan bagi bek untuk membantu serangan, terutama dalam situasi bola mati.
Gol tersebut membuat penguasaan bola Spurs yang hanya 42 persen di babak pertama tetap menghasilkan keunggulan. Van de Ven mencatatkan 1 gol, 1 tekel sukses, dan 3 clearance sebelum turun minum. Statistik itu menunjukkan perannya sebagai tembok pertahanan sekaligus ancaman udara bagi PSG.
Babak Kedua: PSG Bangkit, Van de Ven Tetap Kokoh
Memasuki babak kedua, PSG mengubah taktik dengan memasukkan Ousmane Dembele untuk menambah kecepatan di sayap kanan. Menit ke-58, Kylian Mbappe menyamakan kedudukan lewat serangan balik cepat, memanfaatkan celah di antara Van de Ven dan Cristian Romero. Namun, Van de Ven tidak larut. Menit ke-72, ia melakukan blok krusial terhadap tembakan Achraf Hakimi di dalam kotak penalti, sebuah aksi yang membuat kiper Guglielmo Vicario berteriak memberi semangat.
Menit ke-84, Tottenham kembali unggul melalui gol Richarlison setelah assist dari James Maddison. Shots on target Spurs bertambah menjadi lima, sementara PSG mencatatkan tujuh. Van de Ven nyaris menambah gol keduanya menit ke-88, tetapi sundulannya masih membentur mistar gawang. Hingga peluit panjang, skor 2-1 bertahan, dan Tottenham tampak akan mengangkat trofi.
Menit ke-90+3: Drama VAR dan Penalti yang Mengubah Segalanya
Namun, drama datang di menit ke-90+3. Wasit menunjuk titik putih setelah tinjauan VAR menunjukkan handsball Van de Ven di kotak terlarang. Mbappe yang maju sebagai eksekutor tidak menyia-nyiakan kesempatan, menyeimbangkan kedudukan menjadi 2-2 dan memaksa laga berlanjut ke adu penalti. Van de Ven terlihat menunduk, ekspresi kecewa terpancar jelas di wajahnya.
Dalam adu penalti, Tottenham sempat unggul 4-3 setelah eksekutor keempat PSG gagal. Van de Ven maju sebagai eksekutor kelima. Tendangannya ke arah kanan berhasil dibaca kiper Gianluigi Donnarumma, yang menepis bola dengan kaki. Kegagalan itu menjadi titik balik. PSG menyamakan kedudukan melalui Vitinha, dan akhirnya menang 5-4 setelah penalti terakhir Spurs melambung di atas mistar.
"Micky adalah pemain yang luar biasa malam ini. Ia mencetak gol, bertahan dengan baik, tetapi sepak bola kadang kejam. Kami tidak boleh menyalahkan satu pemain," ujar Postecoglou dalam konferensi pers usai laga.
Van de Ven mencatatkan total 90 menit bermain, 1 gol, 4 tekel, 6 clearance, dan 1 pelanggaran yang berbuah penalti. Penguasaan bola akhir Tottenham 44 persen berbanding 56 persen milik PSG, dengan shots on target 6-8. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Spurs, tetapi penampilan Van de Ven tetap menjadi sorotan sebagai salah satu bek tengah paling menjanjikan di Eropa.
Analisis: Roller Coaster Emosional Seorang Bek Modern
Perjalanan Van de Ven di final ini menggambarkan betapa kompleksnya peran bek modern. Ia dituntut mencetak gol dari bola mati, bertahan satu lawan satu melawan penyerang cepat seperti Mbappe, dan tetap tenang dalam tekanan adu penalti. Sayangnya, malam itu bukan miliknya. Dari pahlawan menjadi tragedi dalam hitungan menit, sebuah roller coaster yang akan ia kenang sepanjang karier. Tottenham harus menerima kenyataan pahit, sementara PSG merayakan gelar Super Cup pertama mereka dalam sejarah klub.
Comments (0)