UEFA Siap Tuntut Infantino Soal Rencana Jual Saham Piala Dunia
Badai baru mengarah ke markas FIFA. UEFA dilaporkan tengah menyusun langkah hukum, termasuk kemungkinan tuntutan pidana, terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Pemicunya adalah rencana penjualan seb...
Badai baru mengarah ke markas FIFA. UEFA dilaporkan tengah menyusun langkah hukum, termasuk kemungkinan tuntutan pidana, terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Pemicunya adalah rencana penjualan sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta, sebuah wacana yang dinilai pihak UEFA mengancam tata kelola dan independensi turnamen paling bergengsi di planet ini. Laporan yang beredar menyebut langkah ini menjadi eskalasi terbaru dari hubungan dua lembaga yang selama satu dekade terakhir kerap bersitegang, baik di meja federasi maupun di ruang sidang.
Pangkal Permasalahan: Saham Piala Dunia di Tangan Swasta
Inti persoalan berakar pada rencana FIFA menggandeng investor eksternal dalam struktur kepemilikan Piala Dunia. Wacana ini muncul di tengah dorongan FIFA memperbesar pemasukan turnamen, seiring ambisi memperluas format menjadi 48 tim pada edisi 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, serta rencana format 104 tim pada 2030. Dengan nilai komersial yang ditaksir menembus puluhan miliar dolar, masuknya investor swasta memunculkan pertanyaan besar: ke mana arah pengambilan keputusan turnamen, dan siapa yang sesungguhnya memegang kendali?
UEFA memandang wacana ini sebagai pelanggaran prinsip dasar tata kelola sepak bola. Di mata federasi Eropa, kepentingan investor jangka pendek berpotensi berbenturan dengan keseimbangan kompetisi, pemerataan pendapatan bagi asosiasi kecil, serta program pembangunan sepak bola akar rumput.
"Ini bukan soal menolak kerja sama dengan dunia bisnis, melainkan pintu masuk bagi kepentingan komersial yang sulit dikontrol," demikian pandangan yang mengemuka dari sumber internal UEFA.
Babak-Babak Ketegangan UEFA dan FIFA
Konflik ini tidak lahir dalam semalam. Sejak Infantino memimpin FIFA pada 2016, sejumlah kebijakan telah memicu perbedaan sikap dengan UEFA. Perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim untuk 2026 sempat ditolak keras federasi Eropa karena dinilai membebani kalender, dan rencana perluasan lebih besar untuk 2030 semakin memperlebar jarak. Tak ketinggalan, wacana Piala Dunia dua tahun sekali yang sempat digaungkan FIFA pada awal dekade ini mendapat tentangan total dari Eropa.
Di jalur klub, perluasan Piala Dunia Antarklub menjadi 32 peserta pada 2025 turut memicu kekhawatiran karena jadwalnya dianggap berbenturan dengan kompetisi domestik dan antarklub Eropa. Sengketa sistem transfer pemain yang berujung pada gugatan di pengadilan Uni Eropa juga menjadi bara lain yang tak kunjung padam. Setiap babak, jarak antara kedua kubu kian melebar, hingga akhirnya isu penjualan saham Piala Dunia datang sebagai puncak gunung es.
Landasan Hukum dan Sikap Kedua Kubu
Secara hukum, langkah UEFA bukan tanpa pijakan. Regulasi internal FIFA sendiri menggariskan tata kelola yang transparan dan independen bagi seluruh kompetisi resminya. UEFA disebut tengah mengkaji dugaan pelanggaran terkait integritas pengambilan keputusan serta pengelolaan aset turnamen, dan membuka peluang membawa perkara ke ranah pidana bila ditemukan unsur yang mengarah ke sana. Beberapa pengamat hukum olahraga menilai argumen UEFA cukup kuat, terutama bila proses persetujuan penjualan saham dinilai tidak transparan.
Di sisi lain, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi laporan tersebut. Dalam berbagai kesempatan, pihak FIFA menegaskan bahwa setiap keputusan komersial melewati mekanisme internal yang sah dan mengutamakan kepentingan 211 asosiasi anggota. Namun, catatan penyelidikan di Swiss dalam beberapa tahun terakhir yang sempat menyoroti sejumlah keputusan Infantino membuat sikap resmi FIFA nantinya akan disimak dengan kaca pembesar.
Dampak yang Mengintai Sepak Bola Global
Bila tuntutan benar-benar diajukan, getarannya akan terasa hingga ke level terendah sepak bola. Pertama, kepastian hukum atas rencana komersial FIFA akan terganggu, dan investor potensial bisa menunda kesepakatan. Kedua, hubungan kedua lembaga yang sudah rapuh akan semakin renggang, mempersulit koordinasi kalender internasional yang kini sudah padat. Ketiga, distribusi pendapatan dari Piala Dunia yang selama ini menjadi sumber utama pembiayaan banyak federasi kecil akan menjadi taruhan yang tak pasti.
Seperti laga yang memasuki menit-menit krusial, setiap gerakan kini diawasi ketat. UEFA mengambil posisi bertahan, FIFA bersiap menyerang balik, dan pengadilan menjadi wasit terakhir. Bagi penggemar di tribun maupun penonton di rumah, pertarungan di luar lapangan ini sama serunya dengan duel puncak: hasil akhirnya akan menentukan arah sepak bola dunia untuk satu dekade ke depan.
Comments (0)