Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Taklukkan Argentina 2-1 di Final
Skor akhir: Spanyol 2-1 Argentina! Stadion New York New Jersey di East Rutherford, New Jersey, Minggu 20 Juli 2026, menjadi saksi lahirnya juara dunia baru. La Roja menumbangkan juara bertahan Argenti...
Skor akhir: Spanyol 2-1 Argentina! Stadion New York New Jersey di East Rutherford, New Jersey, Minggu 20 Juli 2026, menjadi saksi lahirnya juara dunia baru. La Roja menumbangkan juara bertahan Argentina lewat pertarungan 90 menit yang penuh drama. Para pemain Albiceleste meninggalkan lapangan dengan kepala tertunduk, sementara tribun meledak oleh perayaan suporter Spanyol yang menyaksikan timnya mengangkat trofi kedua sepanjang sejarah.
Gol-gol kemenangan Spanyol dicetak Nico Williams menit ke-34 dan Lamine Yamal menit ke-67, sementara Argentina hanya mampu membalas sekali melalui Julián Álvarez menit ke-78. Statistik akhir mencatat penguasaan bola 62 persen berbanding 38 persen untuk Spanyol, dengan shots on target 7 berbanding 4. Angka yang mencerminkan dominasi total anak asuh Luis de la Fuente sepanjang laga.
Babak Pertama: Tiki-Taka Spanyol Mengekang Argentina
Sejak peluit kick-off dibunyikan, Spanyol langsung mengambil inisiatif dengan formasi 4-3-3 yang fluid. Trio gelandang Rodri, Pedri, dan Dani Olmo menguasai lini tengah sepenuhnya, memaksa Argentina yang bermain dengan skema 4-4-2 bertahan hingga sepertiga akhir lapangan. Penguasaan bola babak pertama mencapai 65 persen untuk La Roja, dan Argentina kesulitan bahkan untuk sekadar keluar dari tekanan.
Starting XI Spanyol malam itu: Unai Simón di bawah mistar; Dani Carvajal, Pau Cubarsí, Robin Le Normand, Marc Cucurella di lini belakang; Rodri, Pedri, Dani Olmo di tengah; serta trisula Lamine Yamal, Álvaro Morata, dan Nico Williams di depan. Argentina menjawab dengan Emiliano Martínez; Nahuel Molina, Cristian Romero, Nicolás Otamendi, Nicolás Tagliafico; Rodrigo De Paul, Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, Leandro Paredes; dan duet Lionel Messi bersama Julián Álvarez.
Menit ke-23, Lamine Yamal melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang membentur tiang gawang Emiliano Martínez. Sinyal bahaya itu menjadi kenyataan menit ke-34: Yamal menusuk dari sisi kanan, mengirim umpan silang mendatar, dan Nico Williams menyambutnya dengan sontekan first-time ke sudut bawah gawang. 1-0 untuk Spanyol. Argentina hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran di 45 menit pertama lewat tendangan bebas Messi yang mudah diamankan Unai Simón.
Babak Kedua: Gol, Drama VAR, dan Perlawanan Terlambat
Lionel Scaloni merespons dengan memasukkan Alejandro Garnacho menggantikan Paredes, mengubah struktur menjadi 4-3-3. Namun justru Spanyol yang menggandakan keunggulan. Menit ke-67, Pedri mengirim umpan terobosan membelah pertahanan, dan Yamal menyelesaikannya dengan sentuhan dingin melewati Martínez. 2-0. Pada usia 19 tahun, Yamal menjadi pencetak gol termuda di partai final Piala Dunia sejak era Pelé.
Argentina bangkit. Menit ke-78, Messi — yang beroperasi sebagai false nine — mengirim assist ciamik kepada Álvarez, yang menaklukkan Unai Simón lewat tembakan keras ke tiang dekat. 2-1, dan laga kembali hidup. Sebelumnya, menit ke-58, Garnacho sempat menjebol gawang Spanyol namun hakim garis mengangkat bendera offside. Drama memuncak menit ke-86 ketika Álvarez jatuh di kotak penalti usai berduel dengan Cubarsí. Wasit sempat menunjuk titik putih, tetapi setelah tinjauan VAR selama dua menit, keputusan dianulir karena kontak terjadi tepat di luar kotak. Kartu kuning mewarnai laga ini: Cristian Romero dan Rodrigo De Paul untuk Argentina, Dani Olmo untuk Spanyol.
Yamal dan Messi: Estafet Generasi di Panggung Terbesar
Final ini akan dikenang sebagai malam estafet generasi. Lamine Yamal menutup turnamen dengan 1 gol dan 1 assist di final, melengkapi total 4 gol dan 3 assist sepanjang Piala Dunia 2026 — statistik yang membuatnya kandidat terkuat peraih Golden Ball. Di sisi lain, Lionel Messi, 39 tahun, kemungkinan besar memainkan laga terakhirnya di Piala Dunia. Satu assist di laga ini tidak cukup menghadirkan trofi kedua yang ia dambakan untuk menutup karier internasionalnya.
Statistik Akhir dan Artinya bagi Kedua Negara
Angka pertandingan menegaskan superioritas Spanyol: total tembakan 15 berbanding 9, umpan sukses 89 persen berbanding 78 persen, dan tendangan sudut 8 berbanding 3. Bagi Spanyol, ini adalah gelar Piala Dunia kedua setelah 2010, sekaligus mengukuhkan dominasi mereka usai menjuarai Euro 2024. Bagi Argentina, kegagalan mempertahankan trofi 2022 menutup sebuah era keemasan yang dibangun selama hampir dua dekade.
'Para pemain menunjukkan keberanian luar biasa. Kami menghadapi juara bertahan dan bermain tanpa rasa takut. Gelar ini milik seluruh Spanyol,' ujar pelatih Luis de la Fuente usai laga.
'Kami kalah dari tim yang lebih baik malam ini. Saya bangga dengan perjuangan anak-anak sampai detik terakhir,' kata Lionel Scaloni menanggapi kekalahan timnya.
Ketika para pemain Argentina berjalan meninggalkan lapangan Stadion New York New Jersey malam itu, tirai sebuah generasi ikut turun bersama langkah mereka. Dan di seberang lapangan, era baru sepak bola dunia resmi dimulai — kali ini dengan aksen Spanyol.
Comments (0)