Spanyol Juara Dunia 2026, Kalahkan Argentina di Final Dramatis
Skor akhir: Spanyol 2-1 Argentina. Gol Lamine Yamal pada menit ke-73 memastikan La Roja merebut trofi Piala Dunia ketiga mereka dalam sejarah, sekaligus menggagalkan mimpi Argentina meraih gelar kedua...
Skor akhir: Spanyol 2-1 Argentina. Gol Lamine Yamal pada menit ke-73 memastikan La Roja merebut trofi Piala Dunia ketiga mereka dalam sejarah, sekaligus menggagalkan mimpi Argentina meraih gelar kedua secara beruntun. Final di Stadion New York New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7) itu menjadi pentas emosi bagi kedua kubu, dengan Spanyol tampil klinis dan Argentina gagal mengkonversi dominasi menjadi gol kedua.
Pertandingan dibuka dengan intensitas tinggi. Argentina langsung mengambil inisiatif serangan lewat kombinasi sayap yang melibatkan Alejandro Garnacho dan Julian Alvarez. Namun, Spanyol justru memecah kebuntuan lebih dulu melalui serangan balik mematikan pada menit ke-18. Pedri menusuk dari lini kedua, mengirim umpan terobosan yang diakhiri Nico Williams dengan penyelesaian mendatar ke sudut kiri gawang Emiliano Martinez. Assist Pedri menjadi titik awal mimpi buruk bagi Albiceleste.
Babak Pertama: Kejutan dan Kartu Merah Virtual
Argentina nyaris menyamakan kedudukan di menit ke-31 melalui tendangan bebas Lionel Messi yang meluncur deras ke pojok kanan atas, namun sayangnya bola membentur mistar. Statistik penguasaan bola hingga menit ke-40 menunjukkan Argentina memimpin 57% berbanding 43%, namun Spanyol jauh lebih efektif dengan 3 shots on target dari 5 percobaan, kontras dengan 2 shots on target milik Argentina dari 8 percobaan. Tekanan Argentina seperti menabrak dinding beton pertahanan Pau Cubarsi dan Robin Le Normand.
Momen kontroversial terjadi di menit ke-45 ketika Cristian Romero melanggar Pedri di kotak penalti. Wasit asal Inggris, Michael Oliver, awalnya menunjuk titik putih, namun setelah peninjauan VAR, keputusan dianulir karena Romero lebih dulu menyentuh bola. Kelegaan Argentina hanya bertahan hingga turun minum, karena Spanyol tetap memimpin 1-0. Satu-satunya kartu kuning di babak pertama diterima Nahuel Molina akibat tekel keras terhadap Williams.
Babak Kedua: Tekanan Total dan Gol Penentu
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, memasukkan Paulo Dybala pada menit ke-55 untuk menambah kreativitas di sepertiga akhir. Hasilnya instan. Kombinasi dengan Messi memecah kebuntuan di menit ke-63. Messi mengirim umpan silang menyusur tanah dari sisi kanan, disambut tap-in Dybala di tiang jauh. Gol Dybala ke-7 di Piala Dunia membangkitkan kembali 60 ribu lebih penonton yang didominasi pendukung Argentina. Papan skor berubah 1-1.
Sayangnya, euforia itu hanya bertahan sepuluh menit. Pelatih Spanyol, Xavi Hernandez, merespons dengan mengganti Alvaro Morata dengan Lamine Yamal. Pada menit ke-73, Yamal yang baru berusia 19 tahun menunjukkan kelasnya. Menerima umpan pendek dari Gavi di depan kotak penalti, ia mengecoh Lisandro Martinez dengan satu gerakan cepat sebelum melepaskan tendangan melengkung ke sudut kiri gawang. Gol Lamine Yamal terpilih sebagai gol terbaik turnamen. Skor 2-1 untuk Spanyol.
Statistik dan Analisis Taktik
Formasi 4-3-3 kedua tim nyaris tak berubah sepanjang laga, namun Spanyol lebih cerdik mengelola transisi. Data inflik mencatat Argentina mencatat total 61.2% penguasaan bola, dengan 16 total tembakan dan 5 tepat sasaran. Sebaliknya, Spanyol hanya mencatat 12 percobaan, namun 7 di antaranya tepat sasaran—efisiensi nyaris 60%. Passing accuracy Spanyol mencapai 89% (vs 85% Argentina), terutama dari lini tengah Pedri (92%) dan Gavi (88%).
Argentina justru kalah dalam duel fisik di lapangan tengah. Gavi dan Fabian Ruiz berhasil memenangkan 11 dari 15 duel udara, memutus suplai bola ke lini depan Argentina. Lisandro Martinez yang biasanya kokoh harus mencatat 3 kesalahan fatal yang hampir berujung gol. Kartu kuning untuk Alexis Mac Allister pada menit ke-81 menambah sisi disiplin Argentina yang buruk. Total 13 pelanggaran dilakukan tim Tango, kontra 9 dari Spanyol.
Pasca-pertandingan: Mimpi yang Sirna di Jersey
Kekecewaan terlihat jelas di wajah para pemain Argentina. Mereka berjalan keluar lapangan dengan kepala tertunduk, mengabaikan sorakan simpati dari para suporter yang tetap setia. Clean sheet yang gagal dipertahankan Emiliano Martinez setelah menit ke-18 menjadi cerminan betapa rapuhnya mentalitas juara bertahan saat menghadapi Spanyol yang lapar.
Pelatih Lionel Scaloni usai laga menyatakan, "Kami menguasai permainan, tapi sepak bola bukan hanya soal bola. Efisiensi mereka luar biasa. Kami harus menerima kekalahan ini." Sementara itu, Xavi Hernandez menyebut kemenangan ini sebagai "puncak dari regenerasi timnas Spanyol yang sesungguhnya."
Dengan hasil ini, Spanyol melengkapi koleksi Piala Dunia setelah 2010 dan 2022, sementara Argentina harus puas melihat rivalnya berpesta. Final di New Jersey ini sekaligus menegaskan bahwa era baru sepak bola dunia telah dimulai, dengan Yamal sebagai ikon baru yang siap menggantikan para maestro lama.
Comments (0)