Serangan Geng Kenscoff Tewaskan Warga Sipil, Port-au-Prince Makin Tak Terkendali

Danau kesunyian menyelimuti perbukitan Kenscoff, Senin (24/8/2026). Di sebuah lapangan sempit di pinggiran Port-au-Prince, puluhan warga berdiri mematung d

Aug 26, 2026 - 17:49
0 0
Serangan Geng Kenscoff Tewaskan Warga Sipil, Port-au-Prince Makin Tak Terkendali

Danau kesunyian menyelimuti perbukitan Kenscoff, Senin (24/8/2026). Di sebuah lapangan sempit di pinggiran Port-au-Prince, puluhan warga berdiri mematung di dekat jenazah kerabat mereka — para korban tewas dalam serangan kelompok geng bersenjata yang melanda kawasan ini pada akhir pekan. Tidak ada ratapan keras, hanya isak tertahan dan derau angin pegunungan yang dingin. Momen itu seperti menggambarkan seluruh kesedihan Haiti dalam satu bingkai.

Kenscoff, kawasan perbukitan di tenggara ibu kota yang dulunya dianggap kantong aman, kini menjadi medan teror terbaru. Warga yang semula melarikan diri ke wilayah ini untuk mengungsi dari kekerasan pusat kota harus kembali menghadapi nasib yang sama: diserang, diusir, dan ditinggal berkabung.

Malam Teror di Kantong Aman yang Tak Lagi Aman

Saksi mata yang dihubungi sejumlah media lokal mengaku serangan terjadi cepat dan tanpa peringatan. Kelompok bersenjata diduga masuk dari jalur pegunungan sebelum membakar sejumlah rumah dan menembaki warga yang mencoba meloloskan diri. Banyak korban dilaporkan tewas di rumah mereka sendiri, termasuk lanjut usia dan anak-anak yang tak sempat kabur.

"Kami lari malam-malam, hanya membawa anak di pelukan. Saat kami kembali pagi harinya, kerabat kami sudah tidak bernapas lagi," ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya karena takut menjadi target berikutnya.

Keberanian bicara memang mahal harganya di Haiti saat ini. Menurut catatan lembaga kemanusiaan internasional, para geng kerap menargetkan siapa pun yang dianggap memberi informasi kepada polisi atau misi keamanan. Akibatnya, sebagian besar kasus kekerasan tidak pernah dilaporkan secara resmi, dan jumlah korban sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar daripada angka yang tercatat.

Data yang Terus Memburuk

Kekerasan geng di Haiti bukan gejala baru, tetapi skalanya meningkat tajam dalam dua tahun terakhir. Koalisi geng yang terorganisir kini diduga menguasai sebagian besar wilayah Port-au-Prince, melemahkan institusi negara hingga ke akarnya. Perbandingan gambaran krisis dari waktu ke waktu memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan:

AspekSituasi 2024Situasi 2025–2026 (perkiraan)
Korban tewas akibat kekerasan gengLebih dari 5.000 jiwa setahunTren terus meningkat, ratusan kasus baru tiap bulan
Pengungsi internalRatusan ribu orangLebih dari satu juta orang
Kendali wilayah di Port-au-PrinceSebagian besar kotaHampir seluruh ibu kota dan pinggirannya

Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) berulang kali menyebut situasi Haiti sebagai salah satu krisis hak asasi manusia paling parah di Belahan Barat. Yang membuat krisis ini begitu menyakitkan adalah korban terbesarnya: warga sipil yang tidak punya apa-apa.

Misi Keamanan yang Berjuang Melawan Arus

Sejak pertengahan 2024, misi dukungan keamanan multinasional yang dipimpin Kenya berupaya membantu polisi Haiti meredam kekerasan. Namun pasukan tersebut lama dikeluhkan kekurangan personel, dana, dan perlengkapan dibanding kekuatan geng yang lebih banyak dan lebih akrab dengan medan. Operasi di kawasan seperti Kenscoff menjadi semakin sulit karena medan perbukitan memberi keuntungan bagi kelompok bersenjata yang menguasai jalur-jalur kecil.

  • Pemerintah transisi Haiti berupaya memperkuat pasukan keamanan, meski anggaran sangat terbatas.
  • Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak percepatan pendanaan dan pengerahan misi yang lebih besar.
  • Lembaga kemanusiaan menyoroti krisis pangan dan layanan kesehatan yang kolaps di wilayah terdampak.

"Setiap hari tanpa intervensi berarti ada warga sipil yang membayar dengan nyawa," ungkap seorang pekerja kemanusiaan yang bertugas di Port-au-Prince. Kalimat sederhana itu menggambarkan matematika kejam yang hidup di Haiti hari ini.

Berkabung di Tengah Ketidakpastian

Di Kenscoff, prosesi berkabung Senin berlangsung sederhana dan cepat — sebagaimana warga takut berkumpul terlalu lama. Jenazah dimakamkan, doa dibacakan, lalu orang-orang kembali ke rumah masing-masing dengan satu pertanyaan yang sama: sampai kapan?

"Kami hanya ingin hidup tenang. Tapi di sini, hidup tenang sudah jadi kemewahan," kata seorang pengungsi yang kini tinggal di gereja setelah rumahnya dibakar.

Selama solusi politik dan keamanan belum ditemukan, perbukitan Kenscoff akan terus menyimpan kisah duka yang serupa. Dan bagi warga Haiti, harusan bertahan hidup telah menggantikan harapan untuk hidup layak.

[SOCIAL_TWEET]: Berkabung di perbukitan Kenscoff: serangan geng di pinggiran Port-au-Prince kembali tewaskan warga sipil. Krisis Haiti makin dalam. #Haiti[SOCIAL_TG]: 🔴 HAITI | Serangan geng meluas ke Kenscoff, pinggiran Port-au-Prince. Warga berkabung atas kerabat yang tewas, krisis pengungsi internal tembus lebih dari satu juta orang. Detail → Beritainti.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User