Pemukiman Har Homa Terus Meluas di Yerusalem Timur, Gerbang Betlehem Terancam

Di lereng tenggara Yerusalem Timur, barisan apartemen beratap genting merah menjulang di atas bukit kapur yang oleh warga Palestina disebut Jabal Abu Ghnei

Aug 26, 2026 - 18:30
0 0
Pemukiman Har Homa Terus Meluas di Yerusalem Timur, Gerbang Betlehem Terancam

Di lereng tenggara Yerusalem Timur, barisan apartemen beratap genting merah menjulang di atas bukit kapur yang oleh warga Palestina disebut Jabal Abu Ghneim. Di sebelahnya, hanya beberapa kilometer di bawahnya, kota Betlehem membentang dengan menara gereja dan masjidnya yang tua. Pemandangan itu terekam kamera fotografer AFP Ahmad Gharabli pada 23 September 2022, memotret kenyataan geografis yang telah berubah drastis sejak Israel mulai membangun pemukiman Har Homa di tanah yang dianeksasi tersebut.

Bagi banyak pengamat, gambar itu bukan sekadar foto lanskap. Ia adalah potret dari proyek kolonisasi yang telah berjalan lebih dari dua dasawarsa, dan yang tujuannya, menurut catatan kantor berita AFP, tidak bisa dibaca semata-mata sebagai kebutuhan perumahan.

"Salah satu tujuan yang diberikan untuk keputusan menyetujui pendirian Har Homa adalah untuk menghalangi pertumbuhan kota Palestina terdekat, Betlehem."

Benteng di Atas Bukit Abu Ghneim

Pembangunan Har Homa dimulai pada tahun 1997, pada masa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, di atas bukit yang dahulu ditutupi hutan pinus milik warga setempat. Sejak saat itu, kompleks perumahan itu terus bertambah menjadi kawasan padat yang dihuni puluhan ribu penduduk Yahudi Israel.

Har Homa merupakan satu-satunya pemukiman besar yang dibangun sepenuhnya di atas tanah swasta Palestina, sebuah fakta yang kerap disebut para peneliti dan organisasi hak asasi manusia untuk menunjukkan sifat proyek tersebut. Posisinya sangat strategis: terletak tepat di jalur antara Yerusalem dan Betlehem, di sisi tenggara kota suci itu.

  • Lokasi: Bukit Jabal Abu Ghneim, Yerusalem Timur bagian tenggara, Tepi Barat yang diduduki.
  • Mulai dibangun: 1997 di bawah pemerintahan Netanyahu, meski rencananya sudah dirancang sejak awal 1990-an.
  • Penduduk: Puluhan ribu pemukim Israel kini menghuni kawasan itu.
  • Kontroversi utama: Dibangun di tanah swasta Palestina dan diyakini dirancang untuk mengisolasi Betlehem dari Yerusalem.

Mengurung Betlehem secara Perlahan

Betlehem, kota yang dikenal dunia sebagai tempat kelahiran Nabi Isa, kini terjepit. Di utaranya berdiri Har Homa dan pemukiman Gilo; di timurnya membentang tembok pemisah yang dibangun Israel; sedangkan lahan pertanian dan perkembangan kota ke arah lain dibatasi oleh sistem perizinan militer. Para aktivis menyebut pola ini sebagai strategi pengurungan: membatasi ruang hidup warga Palestina sehingga kota mereka tidak bisa tumbuh.

"Setiap unit hunian baru di Har Homa berarti sebidang tanah lagi yang hilang dari masa depan Betlehem," ujar para aktivis setempat yang telah bertahun-tahun menolak perluasan pemukiman di sekitar kota mereka.

Akibatnya, rute ekonomi dan sosial antara Betlehem dan Yerusalem—yang dulunya hanya perjalanan beberapa menit—kini harus melewati pos pemeriksaan yang panjang. Pedagang, mahasiswa, dan pekerja harian Palestina menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya setiap hari.

Status Hukum yang Disengketakan

Hampir seluruh komunitas internasional memandang pemukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai pelanggaran hukum internasional, merujuk pada Konvensi Jenewa Keempat yang melarang negara penduduk memindahkan penduduknya sendiri ke wilayah yang diduduki. Israel menolak pandangan itu dan mengklaim Yerusalem sebagai ibu kotanya yang bersatu—klaim yang tidak diakui mayoritas negara.

Dewan Keamanan PBB lewat Resolusi 2334 menegaskan bahwa pemukiman-pemukiman itu "tidak memiliki validitas hukum" dan merupakan "pelanggaran flagran" terhadap hukum internasional.

Namun resolusi-resolusi tersebut tak pernah membuat proyek Har Homa berhenti. Rencana unit hunian baru terus diajukan dari waktu ke waktu, dan pemerintah Israel konsisten memasukkan kawasan itu ke dalam skema besar "Yerusalem Raya"—rangkaian pemukiman cincin yang memisahkan Yerusalem Timur dari darah pedalaman Tepi Barat.

Foto sebagai Dokumen Politik

Dalam bingkai foto Ahmad Gharabli, kontras itu tampak nyata: di satu sisi kota-kota satelit modern milik pemukim dengan taman dan jalan raya lebar; di sisi lain, Betlehem yang sempit dan terhimpit. Para jurnalis dan peneliti sering menggunakan citra seperti ini untuk menggambarkan fakta di lapangan yang sulit diringkas dengan angka: sebuah kota yang pertumbuhannya sengaja dihambat oleh kota lain yang tumbuh di atas tanahnya.

Sepuluh tahun lebih setelah batu fondasi pertama diletakkan, Har Homa bukan lagi proyek yang bisa dibongkar dengan mudah. Ia telah menjadi kenyataan fisik di peta, sekaligus simbol dari persoalan inti konflik Israel-Palestina: tanah, kedaulatan, dan hak atas sebuah masa depan. Sementara itu, di lembah di bawah bukit Abu Ghneim, warga Betlehem terus hidup berdampingan dengan benteng yang dibangun untuk menghalangi mereka.

[SOCIAL_TWEET]: Pemukiman Har Homa di Yerusalem Timur terus meluas di bukit Jabal Abu Ghneim, tepat di gerbang Betlehem. Tujuannya tak hanya perumahan—tapi menghalangi pertumbuhan kota Palestinа itu. #HarHoma #Betlehem #Palestina[SOCIAL_TG]: 📍 YERUSALEM TIMUR — Pemukiman Har Homa yang dibangun sejak 1997 di bukit Jabal Abu Ghneim kini dihuni puluhan ribu pemukim. Menurut laporan AFP, salah satu tujuannya adalah menghalangi pertumbuhan Betlehem. Baca analisis lengkapnya hanya di Beritainti.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User