Prabowo Utus Muzani dan Menlu Sugiono ke Pemakaman Khamenei
Presiden Prabowo Subianto menunjuk Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Menteri Luar Negeri Sugiono untuk mewakili Indonesia dalam prosesi pemakaman Pemimpin Ter
Presiden Prabowo Subianto menunjuk Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Menteri Luar Negeri Sugiono untuk mewakili Indonesia dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Upacara penghormatan terakhir ini akan digelar di Kompleks Imam Reza Shrine, Masyhad, pada 9 Juli mendatang. Konfirmasi langsung disampaikan Muzani melalui media sosialnya, menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah mandat resmi kepala negara dan simbol solidaritas atas wafatnya tokoh sentral di Timur Tengah tersebut.
Khamenei wafat pada 28 Februari lalu akibat serangan yang secara luas dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Prosesi pemakamannya sempat tertunda lebih dari empat bulan karena pertimbangan keamanan dan logistik, dan baru dibuka untuk publik di Teheran sejak 4 Juli. Jenazah kini telah diarak melewati beberapa kota suci, termasuk Qom, sebelum tiba di Masyhad untuk dimakamkan. Kehadiran delegasi Indonesia, menurut Muzani, adalah representasi resmi pemerintah dan rakyat Indonesia yang turut berduka, sekaligus menegaskan hubungan bilateral yang telah terjalin erat pasca-revolusi.
Dampak Ekonomi dan Geopolitik bagi Indonesia
Wafatnya Khamenei memunculkan ketidakpastian baru di Timur Tengah, yang secara langsung memengaruhi stabilitas harga minyak global. Indonesia sebagai importir netto minyak mentah sangat rentan terhadap setiap guncangan di kawasan tersebut. Berdasarkan data Kementerian ESDM, rata-rata impor minyak mentah Indonesia dari Timur Tengah mencakup 42% dari total impor minyak sepanjang tahun 2025. Meski Iran bukan lagi pemasok utama akibat sanksi internasional, lonjakan harga minyak jenis Brent yang sempat menembus US$87 per barel pada hari pertama prosesi pemakaman (4/7), naik dari posisi US$83, menunjukkan besarnya sensitivitas pasar. Biaya impor migas yang membengkak berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan menambah beban subsidi energi dalam negeri.
Hubungan Dagang dan Investasi dalam Bayang-bayang Sanksi
Neraca perdagangan Indonesia-Iran memang relatif kecil, namun memiliki arti strategis. Produk unggulan ekspor Indonesia ke Iran meliputi minyak sawit, tekstil, dan makanan olahan, sementara Iran mengekspor produk petrokimia dan kurma. Ketegangan geopolitik pasca-konflik seringkali menghambat jalur pembayaran dan pengiriman, sehingga pelaku usaha menanti arah kebijakan rezim penerus Khamenei.
"Kehadiran delegasi tinggi Indonesia bukan hanya gesture politik, tetapi juga sinyal bahwa Jakarta ingin menjaga kanal diplomasi tetap terbuka untuk mengamankan kepentingan ekonomi," ujar Dr. Rizal Firdaus, pengamat hubungan internasional dari UI. "Jika suksesi berjalan mulus dan negosiasi nuklir kembali dihidupkan, potensi ekspor non-migas Indonesia ke Iran bisa tumbuh hingga 15-20%."
| Tahun | Ekspor RI (US$ juta) | Impor RI (US$ juta) | Neraca |
|---|---|---|---|
| 2023 | 312 | 98 | +214 |
| 2024 | 285 | 112 | +173 |
| 2025 | 267 | 130 | +137 |
data sampai November 2025, sumber: BPS diolah
Meski surplus, tren penurunan ekspor terlihat jelas akibat kendala pembayaran dan logistik. Pelaku usaha berharap kunjungan delegasi Muzani-Sugiono dapat membuka jalur diplomasi ekonomi, termasuk kemungkinan pembentukan komite bersama untuk memfasilitasi transaksi di tengah sanksi. Sementara itu, stabilitas kawasan tetap menjadi kunci bagi Indonesia untuk menjaga harga energi dan keberlanjutan rantai pasok nasional.
Comments (0)