Port FC Menang 2-0, Sarawut Treephan Justru Soroti Kelemahan
Skor akhir 2-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin malam (15/6), semestinya menjadi alasan untuk merayakan tiga poin perdana. Namun, ekspresi Sarawut Treephan di tepi lapangan menceritakan naras...
Skor akhir 2-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin malam (15/6), semestinya menjadi alasan untuk merayakan tiga poin perdana. Namun, ekspresi Sarawut Treephan di tepi lapangan menceritakan narasi yang berbeda. Pelatih kepala Port FC itu terlihat menggelengkan kepala berulang kali sepanjang 90 menit, dan dalam konferensi pers usai laga, ia tak berusaha menyembunyikan nada kekecewaannya terhadap performa tim asuhannya saat menghadapi PSMS Medan di laga pembuka Grup A Piala Presiden 2026.
Port FC tampil dengan formasi 4-2-3-1 andalan mereka. Treephan menurunkan Teerasak Phimai sebagai ujung tombak, didukung trio gelandang serang Pakorn Prempak, Suphanat Mueanta, dan Pathompon Charoenrattanapirom. Sementara itu, PSMS Medan asuhan pelatih lokal mengandalkan blok pertahanan rendah 5-4-1 yang sejak awal sudah menunjukkan intensi untuk meredam agresivitas tim tamu. Statistik penguasaan bola menjadi cerminan dominasi: Port FC 67 persen, PSMS Medan 33 persen. Namun, penguasaan bola sebesar itu ternyata tak berbanding lurus dengan efektivitas serangan.
Jalannya Pertandingan: Dominasi yang Berujung Frustrasi
Sejak peluit pertama dibunyikan, Port FC langsung mengambil inisiatif menyerang. Menit ke-7, Suphanat Mueanta melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang masih membentur mistar gawang. Peluang emas pertama itu menjadi pertanda bahwa laga akan berjalan dalam tempo tinggi, namun juga menjadi awal dari serangkaian penyelesaian akhir yang jauh dari kata klinis. Tercatat hingga menit ke-30, Port FC sudah melepaskan 8 tembakan, namun hanya 2 yang mengarah tepat ke sasaran.
Gol pembuka akhirnya tercipta pada menit ke-34. Bermula dari umpan silang Pakorn Prempak dari sisi kanan, bola sempat mengenai bek PSMS sebelum jatuh di kaki Teerasak Phimai yang dengan tenang menceploskan bola ke sudut bawah gawang. Skor 1-0. Gol itu sempat diperiksa VAR selama dua menit terkait potensi offside, namun akhirnya disahkan. Tepat sebelum turun minum, PSMS nyaris menyamakan kedudukan melalui skema serangan balik cepat — beruntung bagi Port FC, kiper Worawut Srisupha melakukan penyelamatan krusial dengan kakinya.
Memasuki babak kedua, Treephan menarik keluar Pathompon dan memasukkan Worachit Kanitsribumphen untuk menambah daya gedor. Strategi ini membuahkan hasil di menit ke-61, tepatnya melalui gol kedua yang dicetak Suphanat Mueanta lewat skema sepak pojok. Assist datang dari Pakorn, menjadikannya pencatat dua assist dalam satu pertandingan. Skor 2-0 bertahan hingga peluit panjang, namun raut wajah Treephan kian mengeras seiring berjalannya waktu.
Mengapa Treephan Kecewa dengan Kemenangan 2-0?
Dalam konferensi pers, Treephan membeberkan alasan di balik ekspresinya. "Saya tidak puas. Kami menang, ya, tapi kami seharusnya bisa mencetak lima atau enam gol malam ini," ujarnya. Data mendukung pernyataan itu. Dari total 19 tembakan yang dilepaskan Port FC, hanya 5 yang tepat sasaran — tingkat akurasi yang sangat rendah untuk tim sekelas mereka. Lebih mengkhawatirkan lagi, 3 peluang besar terbuang sia-sia di dalam kotak 6 yard, dua di antaranya terjadi di babak kedua saat PSMS mulai kelelahan.
Masalah kedua adalah transisi pertahanan. Meski mencatatkan clean sheet, Port FC beberapa kali kehilangan bola di area berbahaya yang memicu serangan balik PSMS. Total 12 kali turnover di lini tengah menjadi catatan merah, dan dua di antaranya nyaris berbuah gol balasan. "Kami terlalu santai setelah unggul. Itu mentalitas yang harus diubah jika ingin bersaing di turnamen ini," tambah Treephan.
Statistik Kunci dan Proyeksi ke Depan
Di atas kertas, kemenangan ini menempatkan Port FC di puncak klasemen Grup A. Namun, dengan lawan-lawan selanjutnya yang lebih tangguh, performa inkonsisten seperti ini bisa menjadi bumerang. Expected goals (xG) Port FC mencapai 3,1 — jauh di atas realisasi dua gol yang tercipta. Ini menunjukkan bahwa masalah penyelesaian akhir bukanlah insiden, melainkan pola yang perlu segera dibenahi.
Di sisi lain, PSMS Medan patut mendapat kredit. Dengan penguasaan bola hanya 33 persen dan total 4 tembakan sepanjang laga, mereka tetap mampu merepotkan melalui disiplin formasi dan keberanian melakukan pressing di sepertiga akhir. Pelatih PSMS menyebut hasil ini sebagai "kekalahan terhormat" yang memberikan pelajaran berharga untuk laga berikutnya.
Port FC akan menghadapi ujian sesungguhnya di laga kedua melawan tim unggulan grup. Treephan mengisyaratkan akan ada rotasi dan evaluasi mendalam. "Kemenangan ini tetap tiga poin, tapi caranya tidak bisa diterima begitu saja. Kami harus jauh lebih tajam dan lebih disiplin," pungkasnya. Dengan segala catatan yang ada, satu hal yang pasti: kemenangan 2-0 ini terasa lebih seperti peringatan keras ketimbang selebrasi manis bagi skuad asal Thailand tersebut.
Comments (0)