Penalti Kontroversial Julian Alvarez Dianulir, Atletico Tersingkir
METROPOLITANO — Skor akhir 2-2 setelah 120 menit tidak cukup menyelamatkan Atletico Madrid. Real Madrid lolos ke perempat final Liga Champions 2024/2025 setelah memenangi adu penalti 4-2 pada leg ke...
METROPOLITANO — Skor akhir 2-2 setelah 120 menit tidak cukup menyelamatkan Atletico Madrid. Real Madrid lolos ke perempat final Liga Champions 2024/2025 setelah memenangi adu penalti 4-2 pada leg kedua babak 16 besar di Metropolitano Stadium, Kamis (13/3/2025) dini hari WIB. Agregat kedua tim berakhir 3-3, tetapi drama sesungguhnya baru lahir di titik putih.
Semua mata tertuju pada Julian Alvarez. Penyerang asal Argentina itu tergelincir sesaat sebelum mengeksekusi penalti pada babak adu tos-tosan. Bola tetap meluncur masuk ke gawang Thibaut Courtois, namun VAR menganulirnya karena Alvarez menyentuh bola dua kali secara berurutan. Keputusan itu menjadi malam paling pahit bagi tuan rumah dan bahan perbincangan terpanas di jagat sepak bola Eropa.
Babak Pertama: Gol Kilat Gallagher dan Balasan Vinicius
Metropolitano baru saja duduk tenang ketika Conor Gallagher membuka skor pada menit ke-1, tepatnya detik ke-28, lewat tembakan langsung menyambut bola liar hasil sapuan tidak sempurna bek Real Madrid. Itu menjadi gol tercepat Atletico dalam sejarah Liga Champions sekaligus jawaban atas kekalahan 1-2 pada leg pertama di Bernabeu.
Starting XI tuan rumah tampil dalam formasi 4-4-2. Antoine Griezmann turun menjemput bola di antara lini tengah, sementara Julian Alvarez menjadi ujung tombak terdepan yang menekan lini belakang lawan. Sebaliknya, Real Madrid memakai formasi 4-3-3 dengan trisula Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Rodrygo yang bergantian menusuk dari kedua sisi sayap.
Menit ke-32, jawaban Los Blancos datang. Vinicius Junior menyamakan kedudukan lewat sundulan terarah yang memanfaatkan umpan silang matang dari sisi kanan — sebuah assist yang membuat bek kiri Atletico lengah sepersekian detik. Kedudukan 1-1 bertahan hingga turun minum, dengan tensi duel yang terus meninggi.
Babak Kedua hingga Perpanjangan Waktu: Duel Saraf
Pada babak kedua, Atletico menggenggam penguasaan bola 55 persen berbanding 45 persen milik Real Madrid. Tuan rumah melepaskan total 13 tembakan dengan lima shots on target, unggul dari catatan tamu yang hanya sembilan tembakan dan empat shots on target. Namun misi clean sheet mereka hancur sejak menit ke-32, dan Courtois tampil luar biasa dengan menepis peluang emas Griezmann dari jarak dekat pada menit ke-67.
Papan skor kembali bergerak di sisa laga. Real Madrid sempat berbalik unggul pada menit ke-79 lewat sundulan hasil skema sepak pojok, sebelum Atletico memaksakan kedudukan 2-2 pada menit ke-86 melalui tendangan voli memanfaatkan umpan silang dari sisi kiri. Wasit sempat menunjuk titik putih untuk Real Madrid, namun Jan Oblak menepis tendangan Vinicius Junior — momen heroik yang membuat tribun Metropolitano bergemuruh.
Perpanjangan waktu berjalan tanpa gol tambahan. Offside trap Atletico beberapa kali menjebak Mbappe, sementara akumulasi kartu kuning membuat laga makin panas; tak ada kartu merah hingga peluit panjang. Agregat 3-3 memaksa pemenang ditentukan lewat adu penalti.
Drama Adu Penalti dan Keputusan Bersejarah VAR
Real Madrid mengeksekusi lebih dulu. Kylian Mbappe sukses menjalankan tugas, lalu giliran Julian Alvarez. Saat menapak untuk menendang, kaki tumpu Alvarez tergelincir di permukaan yang basah. Ia sempat menyentuh bola untuk kedua kalinya — dan meski bola meluncur deras masuk gawang, wasit memutuskan meninjau ulang setelah mendengar laporan dari ruang VAR.
Aturan mainnya jelas: penendang dilarang menyentuh bola dua kali berurutan sebelum pemain lain menyentuhnya. Gol dianulir dan penalti Alvarez dianggap gagal. Ini menjadi kali pertama dalam sejarah Liga Champions sebuah tendangan adu penalti dianulir melalui tinjauan VAR karena double touch.
Setelah itu, ketenangan menjadi pembeda. Jude Bellingham, Dani Ceballos, dan Antonio Rüdiger menuntaskan tugas mereka. Di kubu Atletico, Alexander Sorloth dan Angel Correa mencetak gol, tetapi Thibaut Courtois menepis tendangan Marcos Llorente. Real Madrid menutup adu penalti dengan kemenangan 4-2.
Diego Simeone menolak menyalahkan pemainnya.
“Saya bangga dengan cara kami bertarung. Kami kalah dengan cara paling pahit, tetapi tim ini bermain dengan hati,” ujar pelatih Atletico tersebut.Carlo Ancelotti justru memuji kesiapan mental anak asuhnya:
“Alvarez hanya kurang beruntung karena tergelincir. Kami lolos karena para pemain tetap tenang di momen paling sulit,” kata pelatih Real Madrid itu.
Analisis: Kutukan Atletico di Pentas Eropa
Data berbicara: Real Madrid kembali menjadi duri dalam daging Atletico di Liga Champions. Sejak final 2014, perempat final 2015, final 2016, hingga semifinal 2017, Los Blancos selalu menyingkirkan tetangga sekotanya — dan catatan itu bertambah malam ini. Atletico lebih dominan dalam penguasaan bola, menciptakan lebih banyak peluang, tetapi penyelesaian akhir dan keberuntungan berpihak pada tim tamu.
Yang membedakan kedua tim bukanlah hat-trick atau gol spektakuler, melainkan ketenangan di titik putih. Keputusan VAR pada penalti Alvarez memang akan diperdebatkan lama, tetapi dari sisi peraturan keputusan itu tepat: bukti video memperlihatkan kontak kedua secara jelas. Malam bersejarah di Metropolitano ini mengajarkan bahwa di level tertinggi, detail sekecil apa pun — bahkan genangan air di titik penalti — bisa menentukan nasib sebuah tim.
Real Madrid pun melaju ke perempat final. Atletico harus menerima kenyataan pahit: skor akhir 2-2, agregat 3-3, dan kekalahan 4-2 di adu penalti yang tak akan pernah mereka lupakan.
Comments (0)